Sunday, March 9, 2014

Geologi Pulau Sumbawa



Geologi Pulau Sumbawa
Peta tektonik yang dibuat Carlile dan Mitchel (1994) yang menggambarkan penyebaran busur-busur magma Zaman Kapur Akhir hingga Pliosen dengan mineralisasi yang dikontrol oleh pola tektonik ini. Dalam busur magma mineralisasi terdapat di daerah Batu Hijau KSB dan Dodo Elang di Sumbawa yang termasuk dalam paparan Busur Magma Sunda-Banda. Temuan ini tentunya menunjukkan besarnya potensi mineralisasi dari jenis porfiri dan tidak mustahil di kemudian hari masih akan didapatkan temuan-temuan penting lainnya. Atas dasar berbagai sifat geologi tersebut diatas kemudian dapat dibuatkan prediksi tentang potensi Sumberdaya Mineral. Kendati demikian masih diperlukan berbagai langkah dalam penyelidikan umum dan eksplorasi sebelum suatu perusahaan berani menanamkan modalnya dalam pengelolaan suatu pertambangan.

Struktur Geologi Pulau Sumbawa
Ditinjau dari tatanan Tektonik terbentuknya P. Sumbawa erat kaitannya dengan penunjaman Lempeng Hindia yang berarah utara–timurlaut di bawah Daratan Sunda yang menerus mulai dari P. Sumatera – Jawa terus ke arah timur membentuk Busur Kepulauan Banda yang terbentuk pada masa Kenozoikum, yang dilandasi oleh batuan gunung api kalk alkalin dari busur dalam Banda yang masih aktif hingga sekarang.oleh batuan sedimen pinggiran benua yang beralaskan batuan malihan
Geologi daerah Sumbawa disusun oleh terbentuknya batuan gunung api Tersier (Miosen Awal) breksi-tuf (Tmv) bersifat andesit dengan sisipan tuf pasiran, tuf batuapung dan batupasir tufan. Satuan breksi tuf ini menjemari dengan batuan sedimen yaitu satuan batu pasir tufan (Tms) dan juga satuan batugamping (Tml).Kemudian diterobos oleh batuan terobosan (Tmi) yang terdiri dari andesit, basal, dasit, dan batuan yang tak teruraikan, diperkirakan berumur Miosen Tengah.
Diatasnya diendapkan Batu gamping koral (Tmcl) pada Miosen Akhir dilanjutkan pada pliosen diendapkan batulempung tufan (Tpc) dengan sisipan batupasir dan kerikil hasil rombakan gunungapi, menindih tidak selaras batuan yang lebih tua (Tmv danTms), kemudian diendapkan batuan gunungapi kuarter yang diendapkan dimulai dari satuan breksi Tanah Merah (Qot), Batuan Breksi Andesit- Basal (Qv) dan satuan Lava-Breksi (Qhv), juga diendapkan batuan sedimen kuarter yaitu terumbu koral yang terangkat (Ql), terakhir pada Holosen diendapkan aluvium dan endapan pantai (Qal).
Batuan yang terdapat terdiri dari Satuan Batuan Breksi gunungapi, Satuan Batuan Tufa dan Breksi tufa, Satuan Batuan Tufa gampingan, Satuan Batuan Batugamping, Satuan Batuan Andesit, Satuan Batuan Diorit dan Aluvial. Sebagian dari batuan tersebut terbreksikan dan mengalami ubahan silisifikasi hingga argilik Dari pengamatan di lapangan batuan ini dipengaruhi oleh struktur patahan geser menganan (dextral)maupun mengiri (Sinistral)
Batuan lainnya yang terdapat di daerah penyelidikan berupa endapan aluvial rawa dan sungai .
Struktur geologi yang berkembang di daerah penyelidikan adalah berupa struktur kekar dan sesar. Struktur kekar berkembang pada batuan intrusi sedangkan struktur sesar di daerah penyelidikan diketahui berdasarkan indikasi adanya gawir sesar yang terdapat di daerah penyelidikan diantaranya lereng terjal di daerah Bukit Olat Maja dari pola aliran sungai dan
Kelurusan topografi serta adanya mata air yang mengandung sulfur dan besi yang tinggi. Pola dan kelurusan di daerah penyelidikan, baratdaya-timurlaut, baratlaut-tenggara. Sedangkan pola aliran sungai yang diperkirakan mendukung adanya pola sesar adalah aliran S Lenteh yang bermuara pada teluk Ailepok.



II. TEKTONIK DAN GEOLOGI REGIONAL
Ditinjau dari tatanan Tektonik terbentuknya P. Sumbawa erat kaitannya dengan penunjaman Lempeng Hindia yang berarah utara–timurlaut di bawah Daratan Sunda yang menerus mulai dari P. Sumatera – Jawa terus ke arah timur membentuk Busur Kepulauan Banda yang terbentuk pada masa Kenozoikum, yang dilandasi oleh batuan gunung api kalk alkalin dari busur dalam Banda yang masih aktif hingga sekarang.oleh batuan sedimen pinggiran benua yang beralaskan batuan malihan.
Geologi daerah Sumbawa disusun oleh terbentuknya batuan gunung api Tersier (Miosen Awal) breksi-tuf (Tmv) bersifat andesit dengan sisipan tuf pasiran, tuf batuapung dan batupasir tufan. Satuan breksi tuf ini menjemari dengan batuan sedimen yaitu satuan batu pasir tufan (Tms) dan juga satuan batugamping (Tml).Kemudian diterobos oleh batuan terobosan (Tmi) yang terdiri dari andesit, basal, dasit, dan batuan yang tak teruraikan, diperkirakan berumur Miosen Tengah.
Diatasnya diendapkan Batu gamping koral (Tmcl) pada Miosen Akhir dilanjutkan pada pliosen diendapkan batulempung tufan (Tpc) dengan sisipan batupasir dan kerikil hasil rombakan gunungapi, menindih tidak selaras batuan yang lebih tua (Tmv danTms), kemudian diendapkan batuan gunungapi kuarter yang diendapkan dimulai dari satuan breksi Tanah Merah (Qot), Batuan Breksi Andesit- Basal (Qv) dan satuan Lava-Breksi (Qhv), juga diendapkan batuan sedimen kuarter yaitu terumbu koral yang terangkat (Ql), terakhir pada Holosen diendapkan aluvium dan endapan pantai (Qal). (Adjat Sudrajat, 1998).
III. GEOLOGI DAERAH ELANG
III.1. LITOLOGI
Daerah Elang Prospek tersusun oleh satuan batuan volkanik andesit tua yang mempunyai pelamparan yang luas kurang lebih 80 % dimana satuan ini disusun oleh lava andesit, tuff, lapili tuff, dan breksi volkanik, pada satuan ini umumnya mempunyai struktur massif dan secara setempat mempunyai struktur perlapisan yang mempunyai karakter yang berbeda antar lapisan ((intercalation) yaitu kristal lapili tuff dengan debu lapili.
Satuan dasitik volkanik yang mempunyai penyebaran yang tidak luas yaitu terdapat pada punggungan bukit Jelatang dimana satuan ini tersusun oleh batuan tuff, lapili dan lava, pada satuan ini telah mengalami alterasi yaitu advantage argilic hingga argilik. Satuan ini mempunyai kedudukan yang tidak selaras dengan satuan andesit dengan didasarkan penyebaran topografi. Pada satuan ini hadir tipe dari endapan porpiri sistem yang ditandai dengan veinlet dan stocwork yang sebagai data awal akan adanya Cu - Au porpiri
Daerah Elang terdapat beberapa intrusi yang mempunyai komposisi dari intrusi diorit hingga dacite dimana dengan tekstur equigranular hingga porpiritik dan ukuran dari intrusi berupa dike hingga stock. Pengamatan terhadap intrusi mempunyai kandungan felsfar porpiritik, delta tonalite, Echo tonalite, diorite, hornblende diorite, kuarsa diorite, dan dacite porpiri. Dike tonalite diinterpretasikan sebagai batuan sumber dari terjadinya alterasi Cu – Au porpiri..
Intrusi tonalit diidentifikasi dipermukaan dengan pemboran dan dengan hasil sebagai fase charli tonalite dan delta tonalite diyakini sebagi batuan host rock dengan Cu porphiri. Secara deskriptip intrusi tonalite mempunyai kandungan 30 – 40 % feldspar (diameter 3 – 7 mm) 5% kuarsa (1-3mm) fenokris ini melingkupi dari massa batuan. Charli tonalite diamati dengan hasil pemboran dan terbentuk Cu - Au porphiri dengan high grade.
III.2. STRUKTUR GEOLOGI DAERAH ELANG
Daerah Elang diinterpretasikan terdapat adanya kelurusan sesar yang ditandai dengan adanya pensejajaran mineralisasi dengan arah barat laut yang berhubungan dengan arah gaya ekstensi dari kekar – kekar, struktur didaerah Elang terbentuk setelah terjadinya proses mineralisasi.
Sistem porphiri awal yang terbentuk di daerah Elang dipengaruhi dari bentuk radial dari karakteristik sistem urat porphiri, dan pola lemah dari sistem urat porphiri yang terlihat adanya kelurusan dari urat dengan arah NNE dan NNW didaerah Elang dan urat - urat porphiri yang terbentuk dipengaruhi oleh sistem intrusi complek
IV. ALTERASI HIDROTERMAL DAN MINERALISASI
IV.1. Alterasi
Altersi hidrotermal didaerah Elang dibagi menjadi beberapa kelompok alterasi dan dibagi dalam Fase awal, transisi, dan akhir
1. Fase Alterasi Awal
Terbentuknya altersi actinolit – biotit - magnetit kemudian dioverprinting oleh retrograde klorit - magnetit dan membentuk kelompok altersi klorit – actinolit – biotit – magnetit + oligoklas. Alterasi pada fase awal terekspose pada lokasi yang kecil dan alterasi ini berasosiasi dengan urat – urat porphiri tipe “A”,“B”,“A” famili ( Gustafson and Hunt, 1975). Pada pase ini didiminasi dengan mineral kalkopirit .
2. Fase Alterasi Transisi
Alterasi transisi ini menghasilkan wilayah yang luas yang ditandai oleh mineral klorit – sericit – magnetit + lempung , dimana alterasi terbentuk dengan meng overprinting fase awal. Alterasi transisi ini merupakan bentuk terluar yang luas dan berasosiasi dengan klorit – actinolit – biotit – magnetit Karakteristik dari alterasi transisi ditandai dengan hadirnya mineral klorit, serisit hijau, dan magnetic, Untuk kelompok mineral serisit – lempung – klorit – magnetic + lempung berasosiasi dengan intrusi echo tonalit dan system urat “B” (Silitoe and Gappe, 1984).
3. Fase Alterasi Akhir
Fase ini mempunyai zona yang luas yang meliputi tipe alterasinya adalah advantage argilik dan argilik, zona argilik (serisit, illite, kaolinit) meliputi zona yang luas kurang lebih 5 km kearah NNE. Dan untuk zona alterasi advantage argilik (pyropilitik, diklite, kaolinit, alunit) terbentuk pada topografi yang tinggi dan zona ini akan berasosiasi dengan sistem endapan epitermal dan sistem diaterm breksi.
IV. 2. MINERALISASI
Tipe mineralisasi pada daerah porphiri Elang bersasosiasi dengan intrusi porphiri kecil yang mempunyai luas wilayah 1.5 – 2 km. berdasarkan hasil dari analisa geokimia soil dan batuan mineralisasi tembaga dan emas berhubungan langsung dengan kuarsa , urat – urat sulfida dan perkembangan alterasi batuan dinding pada intrusi tonalit..
Mineralisasi hipogen tembaga ditandai dengan 0,3% Cu pada zona lubang bor yang hasil pengukuran dengan luas 1,5 – 0,8 km, mineralisasi utama didominasi oleh mineral kalkopirit dan sedikit bornit dan digenit yang terkonsentrasi pada intrusi tonalit. Kandungan tembaga menengah (>0,5%) berkembang pada zona disekeliling delta tonalit dan kontak dengan zona intrusi breksi. Kandungan tembaga menengah hingga tinggi dan terkonsentrasi pada batuan andesit volkanik sebagai batuan dinding dan disekitar tubuh intrusi dan bersasosiasi dengan urat – urat stockworks.
Pengkayaan supergen Cu berkembang dibawah alterasi advantage argilik terutama pada bagian barat dan selatan dari sistem porphiri Elang, dengan ketebalan 91, 80 m dan kandungan rata – rata 0,69% Cu.
V. KESIMPULAN
1. Daerah Elang porpiri Cu – Au prospek mempunyai kelurusan zona minerlisasi dengan arah NNE dengan perbedaan tingkat yang terlihat
2. Intrusi tonalit dipermukaan diidentifikasikan dengan lubang pemboran dan dibagi menjadi charli, delta, dan echo tonalit, pada charrli dan delta tonalit merupakan zona intrusi tempat terjadinya mineralisasi Cu – Au
3. Alterasi hidrotermal terpusat pada intrusi tonalit yang mempunyai luas 5 km dengan dibagi menjadi fase awal dengan terbentuknya altersi actinolit – biotit - magnetit kemudian dioverprinting oleh retrograde klorit - magnetit dan membentuk kelompok altersi klorit – actinolit – biotit – magnetit + oligoklas. Altersi pada pase awal terekspose lokasi yang kecil dan altersi ini berasosiasi dengan urat – urat porpiri tipe “A”,“B”,“A” famili ( Gustafson and Hunt, 1975). Pada pase ini didiminasi dengan mineral kalkopirit
4. Alterasi transisi ini menghasilkan wilayah yang luas yang ditandai oleh mineral klorit – sericit – magnetit + lempung , dimana alterasi terbentuk dengan meng overprinting fase awal. Alterasi transisi ini merupakan bentuk terluar yang luas dan berasosiasi dengan klorit – actinolit – biotit – magnetit alterasi awal. Karakteristik dari alterasi transisi ditandai dengan hadirnya mineral klorit, serisit hijau, dan magnetic,
5. Fase akhir mempunyai zona yang luas yang meliputi tipe alterasinya adalah advantage argilik dan argilik, zona argilik (serisit, illite, kaolinit) meliputi zona yang luas
6. Tipe mineralisasi pada daerah porpiri Elang bersasosiasi dengan intrusi porpiri kecil yang mempunyai luas wilayah 1.5 – 2 km. berdasarkan hasil dari analisa geokimia soil dan batuan mineralisasi tembaga dan emas berhubungan langsung dengan kuarsa – urat – urat sulfide dan dan perkembangan alterasi batuan dinding pada intrusi tonalit..





No comments: