Sunday, April 21, 2013

Batugamping


Batugamping


1.  PENDAHULUAN
Secara prosentase, kontribusi sektor pertambangan dan penggalian terhadap Produk Domestik Bruto termasuk relatif kecil daripada dengan sektor lain, yaitu (0,36 % per tahun), tetapi secara angka ternyata cukup mengejutkan (427 milyar rupiah dalam kurun 1996-1999).
Namun demikian, khusus konsumsi bahan galian batugamping ternyata relatif stabil, tidak terganggu oleh tingkat ekonomi yang semakin terpuruk. Hal ini ditunjukkan oleh kebutuhan batugamping untuk bahan baku semen masih tetap menjanjikan. Jumlah penduduk yang semakin dewasa dan bertambah setiap tahun (2%) merupakan alasan bahwa kebutuhan rumah sebagai sarana tempat tinggal masih tetap pilihan nomor satu. Industri lain pemakai batugamping memegang peran yang tidak dapat dipisahkan karena konstribusi terhadap total konsumsi cukup nyata, seperti industri pertanian, kertas dan banyak lagi yang lain. Kondisi iitu, secara tidak langsung memberikan dampak positif bagi pengusahaan pertambangan batugamping. 
2. GEOLOGI DAN  PENAMBANGAN
2.1  Mula Jadi
Batugamping dapat terjadi dengan beberapa cara, yaitu secara organik, mekanik, atau kimia.
Di alam, sebagian besar batugamping terjadi secara organik dan umumnya mempunyai nilai ekonomis. Jenis ini berasal dari pengendapan rumah kerang dan siput, foraminifera (ganggang), atau  kerangka binatang koral/kerang.
Mula jadi batugamping secara mekanik bahannya hampir sama dengan secara organik. Yang membedakan adalah terjadi perombakan terhadap bahan gamping kemudian terbawa arus dan diendapkan tidak jauh dari tempat semula. Sementara secara kimia batugamping terjadi dalam kondisi iklim dan suasana lingkungan tertentu dalam air laut atau air tawar.  
Endapan batugamping disebut endapan sinter kapur, apabila pengendapan terjadi karena peredaran air panas alam yang melarutkan lapisan batugamping di bawah permukaan, kemudian diendapkan kembali di permukaan bumi.
Magnesium, lempung dan pasir adalah unsur pengotor yang mengendap saat proses pengendapan. Keberadaan  pengotor memberikan klasifikasi jenis batugamping. Persentase unsur pengotor sangat berpengaruh terhadap warna batugamping mulai dari warna putih susu, abu-abu muda, abu-abu tua, coklat bahkan hitam. Warna kemerah-merahan disebabkan oleh adanya unsur mangan sementara kehitam-hitaman disebabkan oleh adanya unsur organik.
Mineral pengotor lain yang terdapat pada batugamping tetapi dalam jumlah yang lebih sedikit adalah magnesit; kuarsa; feldspar; (kaolin, illit dsb); besi (hematit, ilmenit); dan mineral sulfida (pirit, markasit). Batugamping bersifat keras, padat, dan dapat pula bersifat sarang.
Carr Donald D. dan Rooney L.F (1985) membuat klasifikasi mineral atas dasar kandungan kalsit dan dolomit serta material non-karabonat dalam batuan. Jika kandungan kalsit dalam batuan dominan, maka dapat dikatakan sebagai batugamping. Apabila kandungan dolomit (MgCO3) yang paling  banyak (>15%) maka batuan tersebut diklasifikasikan sebagai batuan dolomit (Tabel 1).
Batugamping yang mengalami meta-morfosa akan berubah penampakan-nya dan sifatnya. Itu terjadi karena pengaruh tekanan maupun panas, sehingga batugamping tersebut menghablur, seperti yang dijumpai pada marmer.  Air tanah juga berpengaruh terhadap penghabluran ulang pada permukaan batugamping sehingga membentuk kalsit.
Di beberapa daerah endapan batugamping sering ditemukan gua dan sungai bawah tanah. Hal itu terjadi  akibat reaksi batugamping dengan resapan air hujan yang mengandung CO2 maupun dari hasil pembusukan zat-zat organik dipermukaan, setelah meresap ke dalam tanah kemudian melarutkan batugamping yang dilaluinya. Reaksi kimia dari proses tersebut adalah sebagai berikut:
CaCO3 + 2 CO2 + H2O à Ca (HCO3)2 + CO2
Ca(HCO3)2 larut dalam air sehingga lambat laun di dalam tubuh batugamping terjadi rongga. Gejala ini tidak hanya terjadi di dalam, tetapi juga di permukaan yang langsung berhubungan dengan udara luar yang kadang-kadang membentuk topografi karst yang indah menarik dan unik, atau juga sering dijumpai berbagai lubang tegak, miring, atau datar.
Tabel 1 Klasifikasi batugamping berdasarkan unsur ikutannya.

Batugamping Lempungan
Batugamping
CaCO3  > 95 %
Lempung  < 5 %
Batugamping napalan
CaCO3  ;  85 - 95 %
Lempung ;  5 - 15 %
Batugamping napal
CaCO3  ;  75 - 85 %
Lempung  ; 15 - 25 %
Napal gampingan
CaCO3  ;  65 - 75 %
Lempung ;  25 - 35 %
Napal
CaCO3  ;  35 - 75 %
Lempung ;  35 - 65 %
Napal lempung
CaCO3  ;  25 - 35 %
Lempung ;  65 - 75 %
Lempung napal
CaCO3  ;  15 - 25 %
Lempung ;  75 - 85 %
Lempung napalan
CaCO3  ;   5 - 15 %
Lempung ;  85 - 95 %
Lempung (karlin)
CaCO3  ;   <  5 %
Lempung ;  > 95 %



Pemanfaatan di industri dan perdagangan
Kapur putih
CaCO3  > 90 %
Lempung  < 10 %
Kapur hidrolis
CaCO3  ;  75 - 90 %
Lempung ;  10 - 25 %
Kapur semen
CaCO3  ;  70 - 75 %
Lempung ;  25 - 30 %
Kapur romawi
CaCO3  ;  60 - 70 %
Lempung ;  30 - 40 %
Portland semen
CaCO3  ;  25 - 60 %
Lempung ;  40 - 75 %



Berdasarkan adanya kalsit dan magnesit
Batugamping
Kalsit  >  95%
Magnesit     < 5 %
Batugamping  magnesiuman
Kalsit  >  90 - 95%
Magnesit      5 - 10%
Batugamping dolomitan
Kalsit       50 - 90%
Magnesit     10 - 50%
Dolomit gampingan
Kalsit      10 - 50%
Magnesit     50 - 90%
Dolomit
Kalsit  <  0%
Magnesit  > 90%
Identifikasi mineral karbonat yang ada dalam batugamping tidak mudah karena ka dan kimianya.  2.2 Mineralogi
2.2. Mineralogi
Batugamping adalah batuan sedimen mengandung CaCO3 (Kalsium karbonat = kalsit).  Aragonit yang berkomposisi kimia serupa CaCO3 tapi berbeda struktur kristalnya adalah mineral metastable karena pada kurun waktu tertentu terubah menjadi kalsit. Mineral karbonat lain yang berasosiasi dengan batugamping adalah kalsit dan aragonit dalam jumlah kecil adalah siderit (FeCO3 ) ankerit (Ca,Mg, Fe(CO3)4) dan magnesit (MgCO3). Identifikasi mineral karbonat yang ada dalam batugamping tidak mudah karena kesamaan sifat fisika dan kimianya. Walau demikian untuk batuan yang relatif monomineralic dan kompak; berat jenis, warna, bentuk kristal dan sifat fisika lainnya dapat digunakan untuk identifikasi batuan tersebut. 
Tingkat solubilitas dari mineral yang berbeda dalam asam encer (dilute hydroulic acid) dapat dipakai sebagai petunjuk dalam penelitian. Tingkat solubilitas dapat diurutkan sebagai berikut, aragonit, kalsit, dan dolomit. Teknik ini sangat berguna dalam laboratorium, tetapi di lapangan aplikasinya sangat terbatas.

2.3 Potensi dan Cadangan
Potensi batugamping Indonesia sangat besar dan keberadaannya tersebar hampir di setiap Propinsi.
Tabel 2. Cadangan Batugamping Indoneisa menurut Propinsi
Propinsi
Jumlah
Keterangan
1. D.I Aceh 2. Sumatera Utara 3. Sumatera Barat 4. Riau 5. Sumatera Selatan 6. Bengkulu 7. Lampung 8. Jawa Barat 9. Jawa Tengah & DIY  10. Jawa Timur 11. Kalimantan Selatan  12. Kalimantan Tengah  13. Nusa Tenggara Barat  14. Nusa Tenggara Timur  15. Sulawesi Utara 16. Sulawesi Selatan 17. Irian Jaya
100,857  5,709  23.273,300  6,875  48,631  2,730  2,961  672,820  125,000  416,400  1.006,800  543,000  1.917,386  229,784  66,300  19,946  240,000
Seluruh cadangan batu kapur ini terklasifikasi sebagai cadangan tereka (termasuk hipotesis dan spekulatif), kecuali cadangan di Nusa TenggaraTimur, sejumlah 61,376 juta ton sebagai cadangan (probable) terunjuk.
Total
28.678,500

Sumber : Bahan Galian Industri, Batu Kapur, Harta Haryadi dkk. Hal. 7-75 = 7-91; 1997

Cadangan batugamping yang sudah diketahui adalah sekitar 28,7 milyar, dan yang terbesar berada di Propinsi Sumatera Barat, yaitu 23,23 milyar ton atau sekitar 81,02 % dari cadangan seluruhnya.

Secara umum cadangan batugamping Indonesia mempunyai kadar sbb [8]:
CaO              :   40  - 55 %;
SiO               :  0,23 - 18,12%;
Al2O3                     :  0,20 -   4,33%;
Fe2O3            :  0,10 -   1,36%;
MgO             :  0,05 -   4.26%;
CO2              :  35,74-42.78%;
H20               :  0,10 -   0,85%;
P2O5             :  0,072 -0.109%;
K2                : 0,18
L.O.I            : 40,06%.

3.    PERTAMBANGAN
3.1 Eksplorasi
Eksplorasi batugamping dilakukan bertahap. Kegiatan ini dilkerjakan dengan meggunakan cara pemboran dan geolistrik. Besar cadangan dihitung berdasarkan korelasi data pengeboran dengan data geolistrik dan geologi singkapan.
3.2 Penambangan
Secara umum, penambangan batugamping Indonesia dilakukan dengan cara tambang terbuka (kuari). Tanah penutup (overburden) yang terdiri dari tanah liat, pasir dan koral dikupas terlebih dahulu. Pengupasan dapat dengan menggunakan bulldozer atau power scraper. Kemudian dilakukan pemboran dan peledakan sampai di dapat ukuran bongkah yang sesuai. Untuk bongkah yang terlalu besar perlu di bor dan diledak-ulang (secondary blasting). 
Pengambilan bongkah batugamping biasanya dilakukan dengan wheel loader, lalu dimuat ke alat transportasi (dump truck, belt conveyor, lori dan lain-lain).
3.3 Pengolahan
Batugamping dapat langsung dipakai sebagai bahan baku, misal pada industri semen, fondasi jalan, rumah dan sebagainya. Untuk hal lain perlu pengolahan terlebih dahulu, misal dengan pembakaran. Cara ini dimaksudkan untuk memperoleh kapur tohor (CaO), kalsium hidroksida (Ca(OH)2) dan gas CO2
Secara umum, pembuatan kapur tohor meliputi :
·         Kalsinasi pada suhu 900o - 1000oC, sehingga batugamping terurai menjadi CaO dan CO2;
·         CO2 ditangkap, dibersihkan dan dimasukkan ke dalam tangki;
·         kalsinasi dapat membentuk kapur tohor (CO) dan padam (CaOH2).
Pembakaran batugamping pada suhu sekitar 900oC akan diperoleh CaO melalui reaksi
CaCO3    CaO + CO2
Pada reaksi ini terjadi penyerapan panas karena untuk mengurai 1 gram molekul CaCO3 (100 gram) perlu panas 42,5 kkal. Pembakaran batu dolomit (MgCO3) pada suhu 800 oC akan terjadi penguraian, seperti reaksi berikut :
MgCO3       MgO + CO2;
MgO disebut juga magnesit kostik.
Pembakaran batugamping dolomitan pada suhu 800-850 oC, hanya MgCO3  yang terurai, tetapi CaCO3 belum terurai. Jadi yang dihasilkan adalah MgO.CaCO3; dolomit kostik yang aktif ialah MgO sementara CaCO3 bekerja sebagai bahan pengisi. Tetapi apabila pembakaran dilakukan di atas 900 oC, yang terjadi adalah CaCO3, dan CO3 terurai menjadi CaO dan MgO.
Pembakaran batugamping yang mengandung MgCO3 penurunan daya ikat MgO tak dapat dihindari, karena saat reaksi penguraian CaCO3 menjadi CaO dan CO2 dibutuhkan suhu lebih tinggi dari 900 o C, terutama yang berukuran besar, agar suhu di bagian dalam cukup tinggi sehingga tejadi disosiasi. Gas CO2 akibat disosiasi dari hasil pembakaran atau udara dapat dihilangkan dengan alat pembuat gas atau secara alami (Gambar 2).
4.   PENGGUNAAN DAN SPESIFIKASI
Batugamping dapat dimanfaatkan untuk berbagai macam tujuan, yaitu :
a)   Batu Bangunan
Batu bangunan di sini adalah yang biasa digunakan untuk pondasi rumah, jalan, jembatan maupun isian bendungan terutama di daerah yang tidak memiliki sumber batu bangunan seperti andesit, basalt dan semacamnya atau sebagai batu hias. Untuk keperluan di atas dipilih batugamping yang berstruktur pejal atau keras serta berhablur dengan daya tekan 800 - 2500 kg/m3
b)   Bahan Bangunan
Sebagai bahan bangunan. batugamping serfungsi sebagai campuran dalam adukan pasangan bata/plester, semen trass atau semen merah.
Syarat yang harus dipenuhi untuk bahan `+bangunan ini, adalah :
·         (CaO + MgO) min. 5%;
·         (SiO + AL2O3 + Fe2O3) maks. 5%;
·         CO2 maks 3%;
·         70% lolos ayakan 0,85 mm
Capuran kapur padam dengan tras dan air akan membentuk produk yang disebut semen tras. Adanya sifat semen dalam pencampuran itu karena oksida-oksida alumina dan silika yang bersifat asam membentuk senyawa sebagai berikut :
·                                                 Ca(OH2) + SiO2 + (n-1)H2O à CaO,  SiO2 nH2O (semen)
·                                                 Ca(OH2) + Al2O3 + 5 H2à CaO, Al2O3 6H2O (semen)
c)   Bahan Penstabil Jalan
Pemanfaatan batugamping untuk fondasi jalan
d)   Pertanian (Pengapuran)
Kesuburan tanah akan lebih baik apabila keasaman tanah (pH) diturun-kan melalui pengapuran. Setiap jenis tanaman memiliki tingkat keasaman berbeda; untuk kacang-kacangan, gandum, kentang misalnya, masing-masing pelu tingkat keasaman antara 6 - 7,5; 5,75-7,5; dan 5-6,45.
Batugamping untuk pertanian, dapat berupa serbuk yang ditaburkan atau kapur tohor. Untuk serbuk batugamping kadar MgCO3 diharapkan maks. 10% dan ukuran butir <  dari 5 mm dengan 95% didalamnya berukuran kurang dari 3 mm.
Pengapuran memberikan berbagai keuntungan, misal memungkinkan nutrient lain lepas dari pupuk, tingkat keasaman yang rendah juga mem-perbaiki peningkatan mikrobiologi alam dari tanah melaluj penghancuran bahan organik (penggemburan tanah).
Pengapuran pada tanah liat (clay) dapat memperbaiki struktur fisik, yaitu dapat rnembantu pertumbuhan akar dan mem-beri kontribusi kalsium terhadap tanaman tingkat bermagnesium rendah/ hilang akibat panenan atau erosi.
Untuk melaksanakan proses pengapuran, jumlah batugamping sangat bervariasi. Biasanya, diperlukan batu kapur sekitar 400 kg per hektar tanah. Namun, sumber lain menyebutkan antara 2 - 4 ton untuk setiap hektar, bahkan sampai 5 ton per hektar. Untuk disinfektan dan pembuatan kompos digunakan kapur padam.
e)   Bahan Keramik
Pemakaian batugamping dalam industri keramik berfungsi sebagai imbuh untuk menurunkan suhu lelah sehingga pemuaian panas masa setelah dibakar sesuai dengan pemuaian glasir; dengan demikian glasir tidak retak atau lepas.
Jenis dan jumlah pengotor yang terdapat dalam batugamping merupakan faktor penentu sebagai bahan baku keramik.
Selain untuk imbuh, dapat juga digunakan dalam pembuatan glasir, walaupun hanya sebagian kecil.
f)    Industri Kaca
Pemanfaatan batugamping dalam industri kaca adalah sebagai bahan tambahan. Jenis batugamping yang digunakan adalah jenis batugamping dolomitan dengan kadar sebagai berikut :
·         (SiO2 0,96%), (Fe2O3 0,04%), (Al2O3 0,14%);
·         (MgO 0,15%), da (CaO 55,8%);
·         (SiO2 ; 0,14%), (Fe2O3 ; 0,03%), (Al2O3.MgO ; 20,80%) dan (CaO;31,8%).
Dolomit dan batugamping dolomitan digunakan dalam pembuatan gelas, botol, dan kaca lembaran. Bahan ini memberi pengaruh yang sangat baik pada gelas, antara lain mepermudah campuran gelas mudah melebur, mencegah devitrifikasi; dan memperpanjang jarak kerja (working range) pada peleburan gelas.
g)   Industri Bata Silika
Untuk pembuatan bata silika, batugamping yang diperlukan adalah dengan kadar :
·         CaO minimum 90%;
·         MgO maksimum 4,5%;
·         Fe2O3 + Al2O3 maksimum 1,5%;
·         CO2 maksimum 5%.
h)   Industri Semen
Dalam industri semen, penggunaan mineral batugamping adalah sebagai bahan baku utama. Diperkirakan, untuk 1 ton semen diperlukan 1 ton batugamping. Persyaratan yang harus dipenuhi dalam pembuatan semen adalah :
·         kadar CaO : 50 - 55%;
·         MgO maksimum 2%;
·         kekentalan (viskositas) luluhan 3200 centipoise (40% H2O);
·         kadar Fe2O3 : 2,47% dan Al2O3 : 0,95%.
Sebagai bahan baku semen pozolan yang digunakan adalah jenis kapur padam, yaitu sebagai bahan pengikat hidrolis yang dibuat dengan cara membakar sampai dengan suhu + 1100 oC.
i)     Pembuatan Karbid
Bahan utama pembuatan karbid adalah kapur tohor (60%), kokas, antrasit, dan petroleumcoke (carbon black).  Kapur tohor yang cocok untuk pembuatan kalsium karbid mem-punyai spesifikasi :
·         total CaO minimum 92%;
·         MgO maksimum 1,75%;
·         SiO2 maksimum 2%;
·         Fe2O3 + Al2O3 maksimum 1%;
·         S maksimum 0,2%;
·         P maksimum 0,02;
·         hilang pijar pada contoh yang diambil di tungku 4%.
j)    Peleburan dan Pemurnian Baja
Dalam peleburan dan pemurnian besi atau logam lainnya, batugamping/ dolomit berfungsi sebagai imbuh pada tanur tinggi. Bijih besi mengandung silika dan alumina sebagai unsur tambahan; dalam proses peleburan unsur-unsur tersebut bersenyawa dengan bahan pengimbuh berupa terak cair (seng) yang mengapung di atas lelehan besi, sehingga mudah dipisahkan. Disamping itu, CaO dalam batugamping harus berkadar tinggi, sarang dan keras. Hal itu diperlukan untuk mengikat gas-gas seperti SO2 dan H2S.
Syarat-syarat umum yang harus dipenuhi, antara lain :
Untuk batugamping
·         CaO minimum 52%;
·         SiO maksimum 4% (1,5 - 4%);
·         Al2O3 + Fe2O3 maksimum 3%;
·         MgO maksimum 3,5%;
·         Fe2O3 maksimum 0,65%;
·         P maksimum 0,1%.

k)   Bahan Pemutih dalam Industri Kertas, Pulp dan Karet
Untuk keperluan ini batugamping harus mempunyai hablur murni (hampir CaCO3) yang digerus sangat halus. Biasanya berasal dari batugamping yang lunak, berwarna putih yang terdiri dari cangkang kerang dan jasad renik yang terdiri dari kapur (CaCO3) sebagai hasil sampingan pembuangan dasar magnesium karbonat dari dolomit.
Batugamping yang cocok untuk bahan pemutih berkadar CaCO3 98%, kehalusan 325 mesh, mempunyai daya serap terhadap minyak, warna putih dan pH > 7,8. Bahan pemutih ini dipakai dalam industri kertas untuk pemutih pulp, pengisi, pelapis (coating) dan pengkilap.
l)    Pembuatan Soda Abu
Untuk pembuatan soda abu diperlukan batugamping 1 - 1,25 ton melalui proses amonia soda. Sedangkan persyaratan yang harus dipenuhi antara lain :
- CaCO3                    : 90 - 99%;
- MgCO3                    : 0,6%
- FesO3 + Al2O3 + SiO2 = 0,3%.
m) Penjernih  Air
Dalam penjernihan air, batugamping atau kapur digunakan bersama soda abu dalam proses kapur soda. Kapur

Tabel 3. Persyaratan batugamping dan dolomit untuk peleburan dan pemurnian baja.

batugamping
Dolomit
- CaO minimum 52%; - SiO maksimum 4% (1,5 - 4%); - Al2O3 + Fe2O3 maksimum 3%; - MgO maksimum 3,5%; - Fe2O3 maksimum 0,65%; - P maksimum 0,1%.
- SiO maksimum 6% (1,5 - 4%); - Al2O3 + Fe2O3 maksimum 3%; - MgO maksimum 17 - 19%;



berfungsi menghilangkan bikarbonat yang menjadi penyebab kekerasan sementara pada air.  Air kotor yang banyak mengandung bakteri akan menjadi bersih dalam waktu 24 - 48 jam, apabila dibubuhi kapur yang cukup banyak. Demikian pula air yang keruh akan menjadi jernih, sedangkan air yang mengandung CO2 dinetralkan.

Hal ini untuk menghindarkan karat terbawa pada pipa saluran air ke konsumen.
n)    Pengendapan Bijih Logam Non-ferrous
Dalam proses pengendapan bijih ogam non-ferrous, batugamping bertindak sebagai settling agent, dan pengontrol pH.
Batugamping berfungsi untuk mengendapkan basic nickel carbon-ate dalam proses flotasi bijih nikel. Batugamping yang diperlukan untuk proses satu ton bijih adalah antara 75 - 80 kg.

1)   Industri Gula
Pada industri gula, batugamping digunakan dalam proses penjernihan nira tebu dan menaikan pH nira. Batugamping yang dibutuhkan untuk 1000 kw adalah sekitar 150 kg (dalam bentuk kapur tohor), dengan persyaratan yang diinginkan adalah sebagai berikut :
- H2O            : 0,2%
- HCL            : 0,2%
- SiO2            : 0,1%
- AL2O3                   : 0,1%
- CaO            : 55,0%
- MgO           : 0,4%
- CO2            : 43,6%
- SO4            : tidak nyata
- Na2O K2O    : 0,3%.

5.  PERKEMBANGAN DAN PROSPEK
5.1 Perkembangan Pemasokan dan Permintaan
Perkembangan produksi dan konsumsi batugamping Indonesia dalam kurun 1991-1999 naik dengan laju pertum-buhan tahunan  sebesar 18,56 %  dan 14,25 %. Jumlah produksi tahun 1991 tercatat 34,92 juta ton naik menjadi 68,36 juta ton tahun 1999. Demikian pula dengan konsumsi, dari sebesar 37,06 juta ton (1991) menjadi 78,36 juta ton (1999). Industri semen adalah merupakan pemakai terbesar batugamping, sekitar 76,8% dari jumlah konsumsi. Industri lainnya adalah industri bahan galian non-logam dan industri kapur (Tabel 4 dan 5).
Dari pengamatan, data ekspor masih nihil berarti Indonesia belum pernah ekspor batugamping, walaupun usaha ke arah itu ada. Sementara bahan baku yang diimpor berupa produk dari batugamping, yaitu flux dan kapur tohor (quicklime).
Jawa Barat selain sebagai produsen utama batugamping juga merupakan konsumen terbanyak, yaitu sekitar 56,70% dari jumlah konsumsi batugamping Indonesia per tahun.
Data yang disajikan di sini merupakan hasil pengolahan kembali data dari Badan Pusat Statistik melalui penyesuaian antara volume impor dan harga satuan. Data lain yang diolah kembali adalah quicklime, dengan konversi seperti batu kapur jenis flux dengan cara membagi nilai impor dengan harga satuan untuk tahun yang bersesuaian (Tabel 4).
Perkembangan penyediaan dan per-mintaan batugamping dalam kurun 1991-1999 ada ketidakseimbangan, yaitu terjadi kekurangan dari penyediaan yang secara kumulatif berjumlah 48,9 juta ton.
Beberapa kemungkinan sehubungan dengan keadaan di atas, yaitu laju pertumbuhan sektor konstruksi cukup pesat dalam 10 tahun terakhir, meskipun situasi ekonomi belum pulih. Pasokan yang berasal dari perusahaan tanpa izin (non-formal) perlu diperhatikan karena jumlahnya per Kabupaten bisa mencapai angka 100 per tahun/ satu jenis galian.
Sementara itu, perkembangan yang terjadi pada dua tahun terakhir (1998-1999) menunjukkan keadaan kekurangan penyediaan yang relatif sangat besar (11,8 juta ton dan 10,0 juta ton). Angka tersebut belum mencerminkan keadaan sebenarnya mengingat data yang dikumpulkan belum mencakup data pemakaian di bidang pertanian, konstruksi, dan perumahan.

5.2      Prospek Batugamping
Prospek pemasaran di dalam negeri
Perluasan areal pertanian melalui program transmigrasi, terutama di  daerah dengan tingkat keasaman tanah tinggi, seperti di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi dapat memberi pengaruh positif terhadap tingkat pemakaian batugamping di Indonesia.
Di sektor konstruksi/jalan untuk beberapa tahun ke depan selama situasi ekonomi belum pulih peningkatan prospek pemakaian batugamping relatif stabil. Namun demikian tidak menutup kemungkinan dengan pembuatan jalan bebas hambatan yang melalui rawa dapat meningkatkan pabrik semen dan tentu saja bertambahnya pemakaian batugamping untuk semen
Berdasarkan hal tersebut diperkirakan kebutuhan batugamping di luar sektor industri akan semakin besar di masa datang. Disisi lain, potensi batugamping yang besar dan tersebar dan kemungkinan pemanfaatan yang terus meningkat di sektor industri pemakai memberikan harapan yang baik bagi munculnya produsen baru dalam usaha pertambangan batugamping.
Orientasi Ekspor
Perkembangan penyediaan dan per-mintaan batugamping di negara kawasan ASEAN memberikan petunjuk tentang adanya peluang ekspor batugamping Indonesia ke kawasan ini. Malaysia dan Filipina misalnya, perkembangan produksi di kedua negara lebih sedikit dengan konsumsinya.
Dari kajian terhadap kebutuhan batugamping sektor industri di luar logam, Malaysia untuk 1995 saja membutuhkan batugamping 22-23 juta ton, tidak termasuk kebutuhan di sektor konstruksi dan bangunan sebesar 5 juta ton setiap tahun [12].
Informasi itu diharapkan dapat menjadi peluang yang sangat baik bagi produsen di Indonesia. Namun demikian seperti halnya bahan galian lainnya, kesempatan itu pada prakteknya sangat sulit. Ada sesuatu yang tak nyata dalam masalah bahan baku mineral, baik batugamping atau bahan galian lain sangat sulit untuk menembus pasar ekspor. Padahal kalau dilihat dari sisi potensi, hampir semua jenis mineral dapat diketemukan di Indonesia.

6. PENUTUP
Pertumbuhan suatu negara dapat dilihat dari besarnya pemakaian batugamping. Hampir semua jenis industri memakai bahan galian ini, baik sebagai bahan utama atau sebagai tambahan.
Pertumbuhan sektor konstruksi merupakan salah satu tolok ukur maju mundurnya pembangunan suatu kota. Dalam hal ini industri semen memegang peranan penting. Dan ini terlihat bahwa pemakai terbesar batugamping adalah industri semen ini, yang mencapai hampir 87 % dari total konsumsi. Ini menunjukkan bahwa konsumsi batugamping merupakan salah satu mineral yang tidak terganggu oleh keadaan ekonomi sekarang ini.
Industri lain yang tidak dapat dipisahkan dan kemungkinan akan mengkonsumsi cukup besar adalah industri pertanian. Sektor ini dipastikan membutuhkan bahan baku yang berasal dari batugamping, baik untuk pemupukan atau dalam rangka penurunan tingkat keasaman tanah pertanian akibat masa tanam yang tidak sesuai dengan ketentuan sehingga memerlukan memerlukan biaya tambahan yang cukup tinggi, sebab kalu tidak, masa produksi akan terus berkurang. 
Selain dua jenis industri di atas, prediksi pemanfaatan di industri kimia mempunyai peluang yang cukup meyakinkan. Saat ini, industri kimia eruakan primdona karena hampir semua jenis bahan galian dipakai di industri ini, baik yang dimiliki ataupun harus diimpor.

DAFTAR PUSTAKA
1.     Badan Pusat Statistik Indonesia., Statistik Industri 1988 - 2000., Jakarta 1988 - 2000.
2.     Badan Pusat Statistik Indonesia., Statistik Perdagangan Luar Negeri 1988 - 2000., Ekspor dan Impor, Jakarta 1988 - 2000.
3.     Carr D.D and Rooney L.F.F., “Limestone and Dolomit”, Industrial Minerals, March 1990.
4.     Dhadar J.R., “Bahan Galian Indonesia”, Direktorat Jenderal Sumberdaya Mineral.
5.     Departemen Perindustrian dan Perdagangan., “Mineral Aditive Bagi Industri”, Jakarta, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Jakarta 2000.
6.   Departemen Perindustrian dan Perdagangan., “Perkembangan Kapasitas Nasional Sektor Industri 1996/2000”, Jakarta, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Edisi, 2001.
7.     Fowler, W.L., et.Al., ” Industrial Chenmical, 3rd Edition, Mc Graw Hill International Book Company, Newyork, Edition, 1994.
8.     Madiadipoera T. dkk., “Bahan Galian Industri di Indonesia”,. Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral, Bandung 1999.
9.     Pressher J.W. and Pilham L., “Lime Calcium Coumpound”, Mineral Fact and Problem, 1985.
10.   Petti John., “ Lime ind Industrial, 1990.
11.   Suyartono., “Peranan Kapur Untuk Pertanian”, Puslitbang Teknologi Mineral, Bandung 1986.
12.   Teoh L.H., “Industrial Minerals Potensial In Malaysia”, Status Report, 1990.
13.   Wolfe., J.A., “ Mineral Recources A World Review”,. A. Dowden and Culver Book, Chapman and Hall, Nwyork 1994.
14.   Wu John C., “The Mineral Industri”., Mineral Yearbook, Edition 1999

No comments: