Monday, December 24, 2012

Sejarah Desa Lonrong



Menurut sejarah yang dikemukakan oleh Kepala Dusun Cambayya mengatakan bahwa Desa Lonrong dahulunya memiliki sejarah yang sangat panjang sebelum terbentuknya menjadi desa sekarang ini. Beberapa ratus tahun yang lalu sistem pemerintahan kota Bantaeng belum terbentuk baikpun itu desa Lonrong. Menurut Kepala Dusun Cambayya, hanya ada dua daerah yang dikenal sejak dipimpin karaeng Katimorang yaitu daerah Ulugalung dan daerah Bonto Lonrong. Menurut cerita Karaeng Katimorang memiliki kekuatan magis, salah satunya adalah dengan tongkatnya dia dapat membuat pengairan, dan sampai sekarang masih dipakai oleh masyarakat desa. Sehingga pengairan yang ada di Desa Lonrong merupakan pengairan terlama sejak kareng Katimorang menggunakan tongkatnya. Dan sampai sekarang jasad Karaeng Katimorang tidak diketahui keberadaannya atau menghilang dibatu, sehingga tempat menghilang karaeng Katimorang dijadikan tempat bertapa bagi orang-orang yang percaya dengan hal mistik, gelar Karaeng Katimorang adalah Karaeng Lamaguliling karena menghilang di Batu dengan kepercayaan orang dahulu setiap akan panen orang di desa membuat api besar untuk dilompati biasa disebut acara makkawaru.
Dahulu di Desa Lonrong pernah ada seorang filosof dan ahli silat atau kungfu dari China yang menjadi buron di Tibet melarikan diri ke Bantaeng dan dilindungi oleh Raja Bantaeng, dengan syarat bahwa setiap anak raja yang laki-laki dilatih dan diberi ilmu kanuragan sehingga biasa orang di sekitar daerah menyebutnya sebagai Salaleppa dari Lonrong. Selain Karaeng Katimorang, adapula yang disebut Karaeng Lonrong yang menurut cerita adalah keturunan dari Karaeng Katimorang.
Jika berbicara sejarah Desa Lonrong tak lepas dari sejarah Bantaeng, menurut Prof. Nurdin Syahadat, Bantaeng sudah ada sejak tahun 500 masehi sehingga dijuluki Butta Tuo, selanjutnya laporan peneliti Amerika Serikat Wayne A. Bougas menyatakan Bantayan adalah kerajaan Makassar awal tahun 1200-1600, dibuktikan dengan ditemukannya penelitian arkeolog dan para penggali keramik pada bagian penting wilayah Bantaeng yaitu berasal dari dinasti Sung (960-1279) dan dari dinasti Yuan (1279-1368). Dengan status “Butta toa” maka kita menoleh kepada sejarah sebelumnya ketika kerajaan Bantaeng terbentuk pada abad ke XII, yang telah ditemukan oleh kerajaan Singosari dan kerajaan Majapahit ketika memperlebar usaha dagang dan kekuasaan ke wilayah timur dan dicatat dalam berbagai dokumen, antara lain peta wilayah Singasari dan buku Prapanca yang berjudul Negara Kertagama. Dengan demikian, maka sesuai kesepakatan yang telah dicapai oleh pakar sejarah, sesepuh dan tokoh masyarakat Bantaeng pada tanggal 2-4 Juli 1999, berdasarkan keputusan Mubes KKB nomor 12/Mubes KKB/VII/1999 tanggal 4 Juli 1999 tentang penetapan hari jadi Bantaeng maupun kesepakatan anggota DPRD tingkat II Bantaeng , telah memutuskan bahwa sangat tepat Hari Jadi Bantaeng ditetapkan pada tanggal 7 Desember 1254, Peraturan Daerah Nomor : 28 tahun 1999. setelah Indonesia merdeka keadaan Bantaeng masih belum stabil ini disebabkan karena Belanda belum meninggalkan kota Bantaenng. Sehingga terjadi banyak pemberontakan (gerombolan) ini dikarenakan Belanda tidak mau meninggalkan Sulawesi akhirnya di utus tentara dari jawa (tentara parahyangan) dipimpin oleh A. Mattalatta, jadi Beliau tidak mampu jadi dibantu oleh gerombolan supaya Belanda meninggalkan Sulawesi tetapi setelah itu gerombolan disuruh menyerah dan akan dijadikan tentara pada tahun 61
Jadi lambat laun sekitar tahun 40an atau sejak Indonesia merdeka khususnya Bantaeng(belum terbentuk Kabupaten) setiap daerah atau wilayah dipimpin oleh Jannang. Sejak saat itu sampai negara kita merdeka sistem pemerintahan masih berbentuk kerajaan. Pada tahun 59 baru ada kabupaten Bantaeng namun desa Lonrong masih belum terbentuk, Bupati pertama Kareng Bulu (A. Rifai Bulu) yang tidak sampai setahun lebih, setiap kebesaran di Balla Lompoa diambil sehingga masyarakat desa marah dan memberontak, raja terakhir Karaeng Massoalle (Aru Saleh) bersama seluruh masyarakat, sehingga yang tersisa di kota hanya kepala anggota Kodim dan polisi. Sehingga saat bupati diganti maka masuklah orang tua mantan bupati H. Azikin yaitu bapak Solthan.
Terbentuknya sistem pemerintahan desa di Lonrong terjadi pada tahun 62 tetapi pada saat itu disebut Desa Katimorang dengan melalui musyawarah tokoh masyarakat desa maka diambillah nama desa ini dengan desa Katimorang dengan wilayah Lonrong, Barua, Kampala, dan Parangloe. Kepala Desa Pertama pada saat itu adalah AG. Abdul Kadir Jaelani namun menurut cerita bahwa kepala desa pertama desa katimorang bermasalah maka beliau mundur dan digantikan oleh Daeng Barakka pada tahun 63, sejak dipimpin AG. Abdul Kadir Jaelani terjadi kudeta terhadap beliau karena ada isu tentang wanita sehingga keadaan Desa Katimorang sangat kacau sehingga pada saat itu pemerintah Bantaeng mengambil alih dengan bantuan polisi dan kepala kodim.
Sejak pergantian AG. Abdul Kadir Jaelani ke Daeng Barakka yang merupakan orang asli Sengkang di tahun 63 diadakan musyawarah dengan mengubah nama Desa dari Katimorang menjadi Desa Lonrong dengan membagi wilayahnya menjadi Barua, Lonrong, Kampala, dan Parangloe. Namun masa kepemimpinan Daeng Barakka hanya satu priode ini dikarenakan beliau tinggal di kota sementara menjabat sebagai warga desa. Setelah itu jabatan Kepala Desa diambila alih oleh Baharuddin yang merupakan pejabat sementara pemerintahan Bantaeng saat itu pada tahun 68. Pada tahun 72 beliau digantikan oleh H. Sawid, T. selama 30 tahun beliau menjabat Kepala Desa sebelum meninggal disaat menjalankan tugas. Setelah meninggal beliau digantikan oleh M. Bakri Bin Barakka pada tahun 99 dan pada tahun tersebut untuk pertama kalinya diadakan pemilihan langsung, selama 1 priode beliau menjabat sebagai Kepala Desa sebelum menjadi Lurah di Karatuang. Pada tahun 2003 sampai sekarang desa Lonrong dipimpin oleh Fahruddin Bin H. Sawid. Sejak tahun 2005, awalnya Desa Lonrong hanya memiliki 2 Dusun yaitu Dusun Bonto Lonrong dan Dusun Panggai, dan sekarang sudah terbagi 5 dengan tambahan dusun Cambayya, Dongkokang dan Katimorang.
Silsilah Pemerintahan Desa Lonrong
AG. ABDUL KADIR JAELANI(1962-1963)
DAENG BARAKKA (1963-1968)
BAHARUDDIN (1968-1972)
H. SAWID T. (1972-1999)
M. BAKRI BIN BARAKKA (1999-2003)
 FAHRUDDIN (2003 -



Gambar : Lokasi Desa Lonrong (daerah yang diarsir)








 sumber : http://sejarahdesalonrong.blogspot.com/2010/03/sejarah-desa-lonrong.html

No comments: