Saturday, February 26, 2011

DEFINISI TANAH

Werner 1918 pakar geologi modern dalam Jofee 1949 tidak memisahkan antara ilmu tanah dengan geologi, dan berpendapat bahwa “ tanah adalah lapisan hitam tipis yang menutupi bahan padat kering terdiri atas bahan bumi berupa partikel kecil yang remah, sisa vegetasi dan khewan. Tanah adalah medium dalam mana tumbuhan bertempat kedudukan, berakar, tumbuh, dan berubah. Sprengel 1837 , tanah adalah suatu massa bahan berasal dari mineral yang mengandung hasil dekomposisi tumbuhan dan hewan. Gaya yang menyelenggarakan dekomposisi batuan menjadi tanah adalah air, oxigen, karbondioksida dari udara, vegetasi dan aliran air.
Friedrich Fallou 1855 sendiri dalam Joffe 1949 secara geologi umum tanah dapat dianggap sebagai hasil pelapukan oleh waktu yang menggerogoti batuan planet kita, dan lambat laun mengadakan dekomposisi masa tanah yang kompak. Dalam hal ini tanah dibagi dua katagori ialah tanah yang lapuk dan tanah alluvial. Ricthofen salah satu pengikut Fallou 1882 dalam Joffe 1949 dengan pengalamannya dalam geologi dan geografi menyatakan bahwa tanah adalah bentukan permukaan bumi yang lepas, semacam penyakit batuan alam. Tahun 1870 Dokuchaiev dalam Glinka 1927 menyatakan bahwa tanah adalah bantukan mineral dan organik dipermukaan bumi, sedikit banyak selalu diwarnai oleh humus, dan secara tetap menyatakan dirinya sebagai hasil kegiatan kombinasi bahan, seperti jasad, baik yang hidup maupun yang mati, bahan induk, iklim dan relief.


from : http://geografi.heck.in/df-tnh-3.xhtml

Stone Geology

What is Granite?
Granite is an igneous rock. It is formed as a result of the slow crystallization of molten magma deep in the earth's crust. Uplift and erosion has over millions of years resulted in this material outcropping to the surface. The minerals, which make up granite, are generally quartz, feldspars, and other minerals. It is the size, distribution and precise chemistry of these materials that give granite its color. Granite can be worked to achieve finishes such as hand-tooled, flame textured, shot blasted, acid washed, honed or polished to a mirror finish. An excellent choice for kitchen counter tops.

What is Marble?
Geologically this is a limestone that has re-crystallized through the action of heat and pressure (metamorphism) while still retaining properties of the original material (i.e. its chemistry and possibly its relic sedimentary structures). Marble takes on an excellent polish and is available in a wide range of colors, patterns, and veining characteristics. Composed essentially of calcite, natural weathering processes will cause marble to lose their color and polish quite quickly compared to granite. Because of this, it is primarily used on indoor applications. Marble is idea for bathroom and fireplace applications.

What is Limestone?
This material was originally deposited as soft sediments being laid down as beds under water by a variety of chemical, biological, and physical processes. Over millions of years the sediments were buried, compressed and became cemented by precipitation from mineral waters contained therein. The majority of limestones are composed of calcium carbonate. Dolomite limestones are chemically magnesium carbonate. Limestone that has a porosity of 5% and takes a full polish is termed hard limestone (i.e. travertine). Primarily used for flooring and bathroom vanities.

What is Slate?
A slate originates as sediment, usually a fine-grained mudstone. Through the action of burial, compression and heat a mudstone will develop progressively from shale, and then to a slate. The definitive characteristic of slate is it's slatey cleavage, which enables the material to be split into parallel sheets. Certain English green slates originated as volcanic ash deposits that were deposited in water. As a roofing material, slate should last well over 100 years. It is suitable for flooring, fireplaces and walling. It can be flamed and honed. It is the most durable of natural stones in extreme atmospheric conditions. Used for swimming pool surrounds, flooring, and bathroom shower installations.

What is Travertine?
Travertine is a natural stone material from the limestone family. It is made of calcium carbonate and is usually found in the form of deposits near warm or hot springs were frequently used in ancient times as a building material. Because travertine is such a porous material, it should be sealed before use in construction or renovation projects. It is most commonly used for countertops and flooring, but may also be used in showers and tub surrounds as well as in exterior decor.

One might think that since stone can withstand the ravages of weather and outdoor elements, it is unlikely to be damaged when used in the home. Aside from its obvious beauty, durability is one of the elements that lead people to choose natural stone for home building and home improvement projects. Travertine is susceptible to heat, scratching, staining and acidity, including citric acid, so it should only be cleaned with special products designed for use on natural stone.

What is Onyx?
Onyx is a semiprecious stone that can often be found in fine jewlry and ornaments. Its refined beauty and elegance has made it the ultimate luxurious building material. Noted for its unique translucent quality, onyx is often used in illuminated applications.

from : http://www.allnaturalstone.com/stone_geology.html

Mekanika Tanah

Mekanika Tanah adalah bagian dari Geoteknik yang merupakan salah satu cabang dari ilmu Teknik Sipil, dalam Bahasa Inggris mekanika tanah berarti soil mechanics atau soil engineering dan Bodenmechanik dalam Bahasa Jerman.

Istilah mekanika tanah diberikan oleh Karl von Terzaghi pada tahun 1925 melalui bukunya “Erdbaumechanik auf bodenphysikalicher Grundlage” (Mekanika Tanah berdasar pada Sifat-Sifat Dasar Fisik Tanah), yang membahas prinsip-prinsip dasar dari ilmu mekanika tanah modern, dan menjadi dasar studi-studi lanjutan ilmu ini, sehingga Terzaghi disebut sebagai “Bapak Mekanika Tanah”.
Definisi Tanah

Tanah didefinisikan sebagai material yang terdiri dari:

1. Agregat (butiran) mineral-mineral padat yang tidak terikat secara kimia satu sama lain.
2. Zat Cair.
3. Gas yang mengisi ruang-ruang kosong diantara butiran mineral-mineral padat tersebut.

Tanah berguna sebagai pendukung pondasi bangunan dan juga tentunya sebagai bahan bangunan itu sendiri (contoh: batu bata).

Percobaan
Ilmu ini mempelajari sifat-sifat tanah melalui serangkaian percobaan laboratorium dan percobaan di lapangan.

Percobaan di Lapangan

* Sondir
* Bor
* Uji Tekan Pelat
* Uji Kekuatan Geser Tanah di lapangan, dengan menggunakan Uji Baling-Baling

Percobaan di laboratorium

* Distribusi Butiran Tanah, untuk tanah berbutir besar digunakan Uji Ayak (eng: Sieve Analysis, de: Siebanalyse), untuk tanah berbutir halus digunakan Uji Hidrometer (eng: Hydrometer, de: Aräometer / Sedimentationsanalyse).
* Berat Jenis Tanah (eng: Specific Grafity, de: Wichte)
* Kerapatan Tanah (eng: Bulk Density, de: Dichte) dengan menggunakan Piknometer.
* Kadar Air, Angka Pori dan Kejenuhan Tanah (eng: Water Content, Pore Ratio and Saturation Ratio; de: Wassergehalt, Hohlraumgehalt, Sättigungszahl)
* Permeabilitas (eng: Permeability, de: Wasserdurchlässigkeit)
* Plastisitas Tanah, dengan menggunakan Atterberg Limit Test untuk mencari:
– Batas Cair dan Plastis,
– Batas Plastis dan Semi Padat,
– Batas Semi Padat dan Padat
(eng: Liquid Limit, Plastic Limit, Shrinkage Limit;
de: Zustandgrenzen und Konsistenzgrenzen)
* Konsolidasi (eng: Consolidation Test, de: Konsolidationversuch)
* Uji Kekuatan Geser Tanah, di laboratorium terdapat tiga percobaan untuk menentukan kekuatan geser tanah, yaitu:
– Percobaan Geser Langsung (eng: Direct Shear Test, de: Direktscherversuch),
– Uji Pembebanan Satu Arah (eng: Unconvined Test, de: Einaxialversuch) dan
– Uji Pembebanan Tiga Arah (eng & de: Triaxial)
* Uji Kemampatan dengan menggunakan Uji Proctor

Penggunaan Ilmu
Pada kelanjutannya, ilmu ini digunakan untuk:

* Perencanaan pondasi
* Perencanaan perkerasan lapisan dasar jalan (pavement design)
* Perencanaan struktur di bawah tanah (terowongan, basement) dan dinding penahan tanah)
* Perencanaan galian
* Perencanaan bendungan




from : http://geoteknik.wordpress.com/2007/06/02/mekanika_tanah/

GEOTEKNIK dan GEOMEKANIK

oleh:
Prof. Dr. H. R.Febri Hirnawan, Ir.,
Zufialdi Zakaria, Ir., MT

1. PENDAHULUAN

Geoteknik merupakan perangkat lunak (ilmu) untuk kepentingan manusia dalam

mencapai keberhasilan pembangunan fisik infrastruktur melalui penyediaan bangunan

(termasuk prasarana transportasi/jalan) yang kuat dan aman dari ancaman kerusakan.

Ruang lingkup kajian dalam geoteknik berhubungan dengan studi: 1) batuan

dan/atau tanah sebagai material bangunan (construction material), 2) massa batuan

(rock mass) yang langsung berkaitan dengan tubuh bangunan, 3) massa batuan yang

tidak langsung berkaitan dengan tubuh bangunan tetapi sebagai penyusun bangunan

alami di lingkungan sekitarnya, misalnya gunung, lereng, tebing, maupun dataran limpah

banjir yang luas, sehingga dapat saja memendam atau berpotensi ancaman bagi

keselamatan bangunan tersebut. Aspek manfaat dari kajian tersebut :

1. Sebagai material bangunan dan atau tanah digunakan untuk mengisi atau menyusun

bangunan. Beberapa contoh berikut diantaranya:

Batu untuk menyusun mansory, beton, dan sebagainya.

Tanah untuk menyusun tanggul, landasan jalan raya, dan

berbagai keperluan urugan lainnya.

2. Sebagai massa batuan yang terkait langsung dengan bangunan. Batuan berfungsi

sebagai landasan atau fundasi ataupun tumpuan bangunan, misalnya:

Massa batuan sebagai tumpuan bendungan, baik di

bawah maupun di kiri-kanan tubuh bendungan yang

bersangkutan (right and/or left abutment).

Selanjutnya, sebagai massa batuan, batuanpun berfungsi sebagai media tempat

bangunan dibuat, sehingga batuan berfungsi sebagai penyusun bangunan tersebut

termasuk sebagai lingkungan bangunan yang bersangkutan, contoh :

Terowongan yang dibuat menembus massa batuan.

3. Sebagai massa batuan penyusun bangunan alami di lingkungan bangunan, misalnya

lereng rawan longsor, lembah rawan banjir dan sebagainya.

Ruanglingkup kajian tersebut pada akhirnya meliputi studi tentang kekuat-

an/kelemahan batuan dan/atau tanah sebagai material bangunan maupun massa batuan

secara luas, sehingga geoteknik perlu didukung oleh ilmu-ilmu penunjangnya, yaitu:

Mekanika tanah, dan Mekanika batuan,

Geologi Teknik,

Geologi Kebencanaan,

Hidrogeologi, dan

Geologi (yang secara luas membahas genesis batuan,

urutan kejadiannya, tektonik dan konfigurasi struktur geo-

logi termasuk kegempaan dan bentuk-bentuk bangunan

alami yang dikenal sebagai geomorfologi ).

Dalam mempelajari kekuatan maupun kelemahan batuan dan/atau tanah untuk

kepentingan pemenuhan kebutuhan tersebut di atas (dalam konteks dengan bangunan),

studi geoteknik tidak lepas dari kajian genesis batuan, yang lebih meluas lagi kepada

genesis tanah yang berasal dari batuan induknya, dengan lima faktor terkait sbb. : S = f

(R, C, T, O, t),

(topografi), O (organisme), dan t (waktu), karena terbentuk oleh 5 faktor tersebut.

Dengan diketahui genesis tanah, maka kekuatannya ataupun kelemahannya

makin mudah dipelajari, makin mudah pula diketahui daerah penyebarannya untuk setiap

jenis tanah karena terkait dengan penyebaran batuan induknya, topografinya, iklim

sekitarnya, organisme yang tumbuh/hidup di dalamnya dan sebagainya, sehingga jelas

dapat diketahui penyebaran wilayah tempat berlangsungnya proses pembentukan tiap

jenis tanah yang bersangkutan (perhatikan pelapukan di daerah basah dan kering).

Selanjutnya pada proses pembentukan residual soil, dikenal urutan profil tanah

mulai dari batuan induk yang segar, ke arah atas bertahap lapisan-lapisan yang

berangsur menuju tanah terlapukan kuat dan lengkap, yang kemudian ditutupi tanah

organik, campur humus. Urutan tersebut dari atas ke bawah :

Top soil (organic soil)

Completelly weathered zone

Strongly weathered zone

Moderatelly weathered zone

Partly weathered zone

Fresh rock

Selain itu dikenal pula jenis tanah transport (transported soil), berupa aluvium,

kolovium maupun dilivium. Ada juga sand dunes dan sebagainya.

Salah satu ilmu penunjang dalam geoteknik adalah geologi teknik, Geologi

Teknik adalah ilmu yang mempelajari atau mengkaji gejala geologi dari aspek kekuatan

dan/atau kelemahan geologi (a.l. aspek kebencanaan), diaplikasikan untuk kepentingan

pembangunan infrastruktur terutama pada tahap desain dan tahap konstruksi bangunan-

bangunan. Beberapa kajian yang penting untuk geologi teknik, antara lain: Erosi dan

erodibilitas, genesa tanah & faktor-faktor yang mempengaruhi lapukan tanah, profil

pelapukan tanah residu, deskripsi dan klasifikasi tanah, dan peta geologi teknik dan skala

peta (1:5.000 s/d 1:200.000)

Ruanglingkup kajian geologi teknik meliputi kajian terhadap aspek-aspek

keteknikan dari berbagai masalah (sebagai faktor penghambat, a.l. kebencanaan) dan

manfaat (sebagai faktor pendukung) beberapa faktor, antara lain: Batuan / tanah /

material, struktur geologi dan geomorfologi.

Dalam mempelajari aspek kebencanaan geologi, dikenal salah satu jenis

kebencanaan berupa longsor. Faktor-faktor penunjang daerah rawan longsor adalah

(batuan

geomorfologi (terutama aspek kemiringan lereng), vegetasi dan iklim (terutama curah

hujan). Berdasarkan jenisnya, longsoran dapat diklasifikasikan (lihat lampiran)

Dalam mempelajari aspek kekuatan batuan (a.l. Mekanika Batuan), dikenal istilah

RQD rock quality designation yaitu suatu penandaan atau penilaian kualitas batuan

berdasarkan kerapatan kekar. RQD penting untuk digunakan dalam pembobotan massa

batuan (Rock Mass Rating, RMR) dan pembobotan massa lereng (Slope Mass Rating,

SMR). Perhitungan RQD biasa didapat dari perhitungan langsung dari singkapan batuan

yang mengalami retakan-retakan (baik lapisan batuan maupun kekar atau sesar)

berdasarkan rumus Hudson (1979, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) sbb.:

RQD = 100 (0.1 λ + 1) e- 0.1 λ

λ adalah rasio antara jumlah kekar dengan panjang scan-line (kekar/meter). Makin besar

nilai RQD, maka frekuensi retakannya kecil. Frekuensi retakannya makin banyak, nilai

RQD makin kecil.

Jika frekuensi retakan = 20 kekar/meter, maka RQD = 40,60 %

Jika frekuensi retakan = 11 kekar/meter, maka RQD = 69,90 %

Jika frekuensi retakan = 5 kekar/meter, maka RQD = 90,9 %

Jika frekuensi retakan = 2 kekar/meter, maka RQD = 98,2 %

Dalam penilaian massa batuan (Rock Mass Rating, RMR),

prosentase RQD diberikan penilaian berikut di tabel bawah:

RQD (%)

Nilai

90 - 100

75 - 90

50 - 75

25 - 50

<>

20

17

13

8

3

2. KLASIFIKASI GEOMEKANIK

Dalam mempelajari aspek kekuatan batuan (a.l. Mekanika Batuan, Geomekanika

dll.) diperlukan klasifikasi geomekanik. Tujuan klasifikasi geomekanik ini adalah sebagai

alat komunikasi para ahli dalam permasalahan geomekanika selain untuk memperkirakan

sifat-sifat dari massa batuan, dan juga merencanakan atau menilai kemantapan

terowongan maupun lereng.

Klasifikasi Geomekanik (Bieniawski, 1973, 1976, 1984, dalam Setiawan 1990)

didasarkan pada hasil penelitian 49 terowongan di Eropa dan Afrika. Klasifikasi ini

menilai beberapa parameter yang kemudian diberi bobot (rating) dan digunakan dalam

perencanaan terowongan.

Rock Mass Rating (RMR) adalah pembobotan massa batuan. Sistem

pembobotan dapat dilihat pada Tabel klasifikasi geomekanik (Tabel A, B, C, dan D).

Pembobotan adalah jumlah dari nilai bobot parameter pada Tabel A dan B. Pada tabel C

jumlah nilai tersebut dimasukkan ke dalam kelompok yang sesuai dengan pembobotan

masing-masing.

Pada Tabel C, nomer kelas dan pemerian dapat diberikan. Pada Tabel D makna

dan kegunaan tiap-tiap nomer kelas disampaikan di sini. Berdasarkan nilai RMR,

jangkauan atap (span) apat direncanakan, serta keleluasaan waktu yang tersedia agar

terowongan tidak runtuh dapat diperkirakan.

Klasifikasi Geomekanik (Bieniawski, 1973, dalam Djakamihardja & Soebowo,

1996), juga dipakai dalam memperkirakan kestabilan suatu pengupasan lereng massa

batuan. Sama halnya dengan penilaian terowongan, penilaian kestabilan lereng juga

menggunakan data hasil observasi lapangan dan data laboratorium (lihat Tabel)

sehingga dalam pembobotan dapat dilihat nilai RMR. Massa batuan dapat diklasifikasikan sebagai berikut:

Sangat buruk Nilai RMR 0- 20

Buruk Nilai RMR 21 – 40
Sedang Nilai RMR 41 – 60

Baik Nilai RMR 61 – 80

Sangat Baik Nilai RMR 81 – 100

Slope Mass Rating (SMR), adalah penerapan nilai RMR untuk memperkirakan

sudut kemiringan lereng pengupasan. Romano (1990, dalam Djakamihardja & Soebowo,

1996) mengaitkan nilai RMR dengan faktor penyesuaian dari orientasi kekar tehadap

orientasi lereng serta sistem pengupasan lereng dalam bentung angka rating

(pembobotan), yaitu:

F1 mencerminkan paralelisme antara arah kekar dan arah lereng

F2 memperlihatkan kemiringan kekar

F3 memperlihatkan hubungan kemiringan kekar dengan kemiringan lereng

F4 merupakan penyesuaian untuk metoda pengupasan.

Romano (1990) memberikan nilai SMR dari keempat faktor tersebut sbb.:

SMR = RMR - ( F1 x F2 x F3 ) + F4

Laubscher (1975, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) membahas hubungan RMR

dan SMR sebagai berikut :

Sudut lereng yang disarankan

(pembobotan massa lereng, SMR)

Untuk nilai RMR

(pembobotan massa batuan) sebesar:

75

65

55

45

35

81 – 100

61 - 80

41 - 60

21 - 40

00 - 20

Hall (1985, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) memberikannilai SMR, sbb.:

SMR = 0,65 RMR +25

Orr (1992, dalam Djakamihardja & Soebowo, 1996) membahas hubungan sbb.:

SMR = 35 ln RMR – 71

3. KULIAH LAPANGAN PRAKTEK GEOMEKANIK

Kuliah lapangan penunjang geoteknik khususnya kajian geomekanik (metode

Bieniawski) dapat dilakukan di lokasi :

1) Citatah, Rajamandala, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

2) Citoal, Luragung, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

Tujuan kuliah lapangan ini adalah untuk :

a) Mengetahui, mendeskripsi dan mengklasifikasikan jenis tanah lapukan melalui

deskripsi di lapangan;

b) Mengevaluasi kondisi longsoran bagian lembah di jalan KM 23.

c) Menghitung / menilai kualitas batuan berdasarkan kerapatan kekar.

d) Mengetahui, mendeskripsi dant mengklasifikasikan batuan melalui deskripsi di

lapangan sehingga dapat mencoba menilai RMR dan SMR-nya;

e) Mencoba mengevaluasi bangunan jalan di bawah bukit Citatah yang bertujuan

menilai sampai sejauh mana keamanan ditinjau dari massa batuan,

diskontinuitas batuan, dan ancaman lingkungan sekitarnya.

Setelah mengikuti kuliah lapangan ini diharapkan mahasiwa dapat menambah

khazanah ilmu pengetahuannya tentang geoteknik antara lain

daerah labil/lemah dengan mengenal aspek kekuatan dan kelemahan geologi,

khususnya kejelasan mengenai jenis-jenis kualitas massa batuan dan hubungannya

dengan kondisi struktur geologi, selain itu mahasiswa dapat mengetahui cara

mendeskripsi tanah di lapangan, mengevaluasi massa batuan dan kestabilan massa

lereng

Peralatan geologi lapangan terdiri atas:

kompas geologi (merk Shunto)

palu geologi

alat tulis

kamera

pita ukur.




Sunday, February 20, 2011

PERANAN AHLI GEOLOGI DALAM PENANGANAN GUNUNG API

Dampak Letusan

Gunung berapi meletus akibat magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusannya membawa abu dan batu yang menyembur dengan keras, sedangkan lavanya bisa membanjiri daerah sekitarnya. Akibat letusan tersebut bisa menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar pada wilayah radius ribuan kilometer dan bahkan bisa mempengaruhi putaran iklim di bumi ini, seperti yang terjadi pada Gunung Pinatubo di Filipina dan Gunung Krakatau di Propinsi Banten, Indonesia.
Gas vulkanik adalah gas-gas yang dikeluarkan saat terjadi letusan gunung api antara lain Karbon Monoksida (CO), Karbon Dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur Dioksida (SO2) dan Nitrogen (N2) yang membahayakan bagi manusia. Lava adalah cairan magma bersuhu sangat tinggi yang mengalir ke permukaan melalui kawah gunung api. Lava encer mampu mengalir jauh dari sumbernya mengikuti sungai atau lembah yang ada, sedangkan lava kental mengalir tidak jauh dari sumbernya.
Lahar juga merupakan salah satu ancaman bagi masyarakat sekitar Gunung Merapi. Ancaman lahar telah terjadi pada letusan Gunung Merapi pada tahun 1994 dan 2006. Lahar adalah banjir bandang di lereng gunung yang terdiri dari campuran bahan vulkanik berukuran lempung sampai bongkah. Lahar dapat berupa lahar panas atau lahar dingin. Lahar panas berasal dari letusan gunung api yang memiliki danau kawah, dimana air danau menjadi panas kemudian bercampur dengan material letusan dan keluar dari mulut gunung. Lahar dingin atau lahar hujan terjadi karena percampuran material letusan dengan air hujan di sekitar gunung yang kemudian membuat lumpur kental dan mengalir dari lereng gunung. Lumpur ini bisa panas atau dingin.
Awan panas (wedhus gembel) adalah hasil letusan gunung api yang paling berbahaya karena tidak ada cara untuk menyelamatkan diri dari awan panas tersebut kecuali melakukan evakuasi sebelum gunung meletusAwan panas hembusan adalah awan dari material letusan kecil yang panas, dihembuskan angin dengan kecepatan mencapai 90 km per jam. Awan panas jatuhan adalah awan dari material letusan panas besar dan kecil yang dilontarkan ke atas oleh kekuatan letusan yang besar. Material berukuran besar akan jatuh di sekitar puncak sedangkan yang halus akan jatuh mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer dari puncak karena pengaruh hembusan angin. Awan panas dapat mengakibatkan luka bakar pada bagian tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki, dan juga menyebabkan sesak napas sampai tidak bisa bernapas.
Abu Letusan gunung api adalah material letusan yang sangat halus. Karena hembusan angin dampaknya bisa dirasakan ratusan kilometer jauhnya. Pada letusan besar seperti pernah terjadi di Gunung Krakatau, abu yang dihasilkan bahkan menutupi sinar matahasi sampai berminggu-minggu.

Peranan Ahli Geologi

• Letusan Gunung Merapi 2010
Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.


• Ahli Geologi ITM : Gunung Berapi Sumatera Beda dengan Jawa
Komposisi gunung api kawasan Pulau Sumatera berbeda dengan di Pulau Jawa. Perbedahan tersebut dilihat dari komposisi magma yang dikeluarkan gunung api pada saat meletus. “Secara umum, magma gunung api di Jawa komposisinya intermidiatis hingga basa atau adesitic. Sedangkan gunung api yang ada di Sumatera cenderung intermidiatis hingga asam atau granitis,” ucap Pakar Geologi ITM, Ir Lisnawaty MT didampingi Ka Humas ITM, MH Vivahmi Manafsyah SH MSi, Selasa [9/11] di kampus ITM Jalan Gedung Arca Medan. Menurut Ketua Jurusan Geologi ITM ini, debu vulkanik yang dikeluarkan Gunung Merapi, yang saat ini sedang meletus, ke depan bernilai ekonomis untuk mengembalikan kesuburan tanah, bahkan pasir yang dimuntakan memiliki kualitas terbaik untuk bahan bangunan dibandingkan pasir sungai. Kualitas ekonomis ini jika dilihat dari bentuk debu vulkanik yang dikelurkan bukan dari komposisi magma. Tapi jika dilihat dari komposisi setiap gunung api akan memiliki komposisi material yang berbeda. Untuk Gunung api di kawasan Pulau Sumatera debu vulkaniknya tebal dan memiliki keasaman sedangkan di Jawa tipis dan sifatnya basa.
• Ahli Geologi Temukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera
Para pakar geologi Indonesia, AS dan Prancis berhasil menemukan gunung api bawah laut raksasa berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter yang berada 330 km arah barat Kota Bengkulu. Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris. “Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua, ” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, BPPT, Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis. Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. “Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” katanya. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik. Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50km) yang meliputi Palung Sunda, Prisma Akresi, Tinggian Busur Luar (Outer Arc High) dan Cekungan Busur Muka (Fore Arc Basin) perairan Sumatera.
• Ada Jalur Air Laut ke Gunung Api
Banyak orang yang mengkaitkan ketiga bencana alam tersebut. Beberapa ahli geologi dan vulkanologi buru-buru menjelaskan bahwa tidak ada kaitan antara gempa dan letusan gunung berapi, atau antara letusan gunung yang satu dengan lainnya. "Dapur magmanya beda-beda" kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar. Kini, ada penelitian baru yang menemukan kaitan aktivitas gunung berapi dengan tumbukan lempeng samudra ke bawah lempeng benua. Lempeng samudra mengambil banyak air ketika menunjam ke bawah lempeng benua di zona subduksi. Air ini ternyata memainkan peran sentral dalam batas lempeng vulkanik. "Ada jalur air di kedalaman 120 kilometer," kata Tamara Worzewski, ahli geofisika dari Collaborative Research Centre (SFB) 574 yang melakukan peneliti bertajuk 'Cairan dan Volatil di Zona Subduksi - Umpan Balik Iklim dan Mekanisme Pemicu Bencana Alam.' Penelitian gabungan ini dilakukan bersama Dr Marion Jegen dan Prof Dr Heidrun Kopp dari Institut Leibniz tentang Ilmu Kelautan di Christian-Albrechts-Universität (IFM-GEOMAR) di Kiel, Dr Heinrich Brasse dari Freie Universität Berlin dan Dr Waldo Taylor dari Costa Rica. Hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Geoscience edisi Desember ini dapat menjawab teka-teki untuk memahami aktivitas gunung berapi yang sangat aktif di wilayah yang disebut "Sabuk Sirkum atau Cincin Api Pasifik." Sri Widiyantoro yang menjabat Ketua Kelompok Keahlian Ilmu dan Teknik Geofisika ITB menjelaskan tunjaman subduksi litosfer samudra dapat mencapai batas mantel dan inti Bumi. Di Amerika Tengah, kedalamannya mencapai 3.000 kilometer. "Di bawah Pulau Jawa kedalaman penunjaman bisa mencapai 1.500 kilometer," kata Widiyantoro yang publikasi ilmiahnya berjudul ”The Evidence for Deep Mantle Circulation from Global Tomography” dirilis jurnal Nature. Tunjaman lempeng yang terus menerus itu ternyata menimbulkan retakan besar yang membuat air laut masuk dan sebagian ditangkap serta diangkut dalam mantel bumi. Dari temuan ini para ahli makin yakin bahwa banyak gunung berapi membutuhkan air untuk letusan mereka. Di dalam mantel bagian atas, air menurunkan suhu leleh batuan. Sebagai konsekuensinya mencair lebih cepat dan dapat naik dalam bentuk magma ke permukaan bumi. Selama ini para ahli menjelaskan di dalam mantel, suhu dan tekanan tinggi memerasnya keluar dari lempeng subduksi dan air naik kembali ke permukaan. Pada perjalanan kembali mendukung pembentukan magma dan terjadinya gunung berapi serta letusannya. "Namun demikian jalur yang pasti air turun ke mantel dan kembali ke permukaan sejauh ini tidak pernah ditampilkan dalam satu konteks kesatuan," kata Tamara Worzewski. Untuk pertama kalinya di dunia, tim peneliti menemukan adanya jalur air lengkap dari dasar laut hingga kedalaman 120 kilometer dan kembali ke permukaan dengan menggunakan metode elektromagnetik.
• Hasil Penelitian Ahli Vulkanologi Aktivitas Gunung Berapi Burni Telong
REDELONG - Hasil penelitian tim ahli vulkanologi menyebutkan, aktivitas gunung berapi Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah semakin meningkat menyusul gempa dan tsunami yang melanda Aceh akhir Desember 4 tahun lalu. Peningkatan aktivitas itu antara lain ditandai adanya perubahan kondisi geokimia, biokimia, suhu, air, lingkungan, dan beberapa fenomena alam di sekitar gunung berapi. Diingatkan, perubahan tersebut perlu diwaspadai guna mencegah timbulnya korban. Demikian diungkapkan tiga ahli vulkanologi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (PPPG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral RI. Tim peneliti gunung berapi itu adalah Dr H Fauzie Hasibuan (ahli geologi), Ir Rimbaman MSc (ahli geologi lingkungan), dan Ir Asdani Suhaimi Dipl Eng (ahli seismologi) yang datang atas undangan Penjabat Bupati Bener Meriah,saat itu Drs H Saat Isra. Mereka meneliti selama sepekan dari tgl 17-21 Mei 2005. Fauzie Hasibuan yang ditemui ditemui Serambi di Takengon, Sabtu (22/5) mengatakan, pascagempa 26 Desember 2004, banyak terjadi perubahan pada gunung berapi Burni Telong, Bener Meriah. Perubahan itu merupakan indikasi aktivitas gunung berapi Burni Telong mengalami peningkatan. Tanda-tanda itu antara lain meningkatanya suhu sekitar gunung berapi menjadi 55 derajat Celsius. Padahal suhu sebelum tgl 25 Desember 2004 berkisar 45-48 derajat Celsius, temperatur air meningkat, kondisi geokimia (kimia tanah) berubah, tumbuhan lingkaran puncak gunung mengering semakin melebar. Sedangkan tanda-tanda alam lainnya, sering terjadi gataran (gemuruh) yang dirasakan hewan-hewan. Contohnya, ada burung berterbangan ke segala arah, tanpa sebab. Hewan-hewan punya kepekaan lebih tinggi dibanding manusia, ujar Ir Rimbaman Gejala atau keanehan-keanehan itu juga diakui masyarakat penghuni sekitar gunung Burni Telong. Di Kabupaten Bener Meriah, katanya, terdapat empat gunung berapi selain Burni Telong. Di antara gugusan itu adalah Gunung Gereudong yang sudah pernah meletus dan kini dalam kondisi pasif. Sedangkan gunung berapi Burni Telongdan pernah tidak pasif dalam jangka waktu 17 tahun. Dari data geologi, gugusan gunung berapi di Bener Meriah termasuk kawasan patahan Semangko (sesar Semangko) yang membujur sepanjang pulau Sumatera dan Jawa. Dan setelah terjadinya patahan yang menyebabkan tumbukan keras di Samudera Indonesia tgl 26 Desember 2004 lalu, memicu aktifnya sejumlah gunung berapi di Aceh termasuk gunung Burni Telong. Tiga ahli itu menyimpulkan, bila gunung berapi Burni Telong meletus maka akan memuntahkan magma –– batu panas dan material panas dari perut bumi lainnya –– sejauh lima kilometer dari kawahnya. Kawasan (area) radius lima kilometer kategorikan daerah bahaya, sedangkan dalam radius delapan kilometer digolongkan area waspadayang akan ditimpa gelindingan batu, debu, dan hawa panas. Dari tinjauan ilmiah, kata Fauzie, area bahaya tidak boleh dihuni manusia secara permanen, kawasan itu lebih baik dijadikan hutan konservasi, hutan agrowisata, hutan petualangan yang bersifat hunian sementara. Dan bila sewaktu-waktu, aktivitas gunung berapi membahayakan maka akan mudah dievakuasi.


Sumber :

· http://sahrul1987.wordpress.com/2008/11/06/potensi-bencana-dan-penanggulangan-akibat-letusan-gunung-merapi-di-kabupaten-sleman/

· http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi

· http://beritasore.com/2010/11/09/ahli-geologi-itm-gunung-berapi-sumatera-beda-dengan-jawa/

· http://ariefgeo.blogspot.com/2009/06/ahli-geologi-temukan-gunung-api-raksasa.html

· http://www.tempointeraktif.com/hg/sains/2010/12/22/brk,20101222-300734,id.html

· http://kuldonk.multiply.com/journal/item/1/Hasil_Penelitian_Ahli_Vulkanologi_Aktivitas_Gunung_Berapi_Burni_Telong





KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI



BENCANA ALAM GEOLOGI




“PERANAN AHLI GEOLOGI DALAM PENANGANAN GUNUNG API”


















NAMA : ALFONSUS I S SIMALANGO
NIM : D611 08 289








MAKASSAR
2011

Friday, February 18, 2011

KONSEP DASAR UU & HK KEBUMIAN

KONSEP DASAR UU & HK KEBUMIAN

Dasar-Dasar Hukum Yang Mengatur Tentang Pengelolaan Agraria, Tata Ruang , Kelautan & Perairan, Sumberdaya Bumi Serta Konservasi Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup Di Indonesia

DASAR HUKUM :

ž UU DASAR 1945, ‘‘Pasal 33 ayat 2 & 3’’

ž UU NO. 5 /1960, PENGATURAN DASAR POKOK-POKOK AGRARIA

ž UU NO.23 / 1997, PENGELOLAAN LH

ž UU NO. 5 / 1990, KONSERVASI SDA HAYATI & EKOSISTEM

ž UU NO. 5 / 1994, KEANEKARAGAMAN HAYATI

ž UU NO.41 / 1999, KEHUTANAN

ž UU NO. 26 /2007, TATA RUANG

ž UU NO. 7 / 2006, SUMBERDAYA AIR

ž UU NO. 27 /2007, PENGELOLAAN WILAYAH PESISIR & PULAU-PULAU KECIL

ž UU NO. 43 / 2008, BATAS NEGARA

ž UU NO.22 / 2001, MIGAS

ž UU NO. 27 / 2003, PANAS BUMI

ž PPRES NO.5 /2006, KEBIJAKAN ENERGI NASIONAL

ž UU NO. 4 / 2009, PERTAMBANGAN MINERAL & BATUBARA

Hukum ada 2 Jenis :

1. Hukum Alam ( Sunnatullah )

2. Hukum Buatan ( Manusia )

Ø Menurut bentuk :

1. Hukum Formal ( Tertulis )

2. Hukum Non Formal ( Hk.Adat)

SUMBER-SUMBER HUKUM

I. UU (Statute)

II. KEBIASAAN (Custom) à tumbuh & berkembang dalam masyarakat.

III. KEPUTUSAN2 (Yurisprudensi)à kebijakan Hakim. Syarat : jika dalam memutuskan masalah yang tidak terdapat UU / Peraturan yang melandasinya.

IV. TRAKTAT (Treaty)à Perjanjian antar negara/ Internasional, sifatnya saling mengikat warganegara antar negara yang bersangkutan. Contoh :

q Traktat Bilateral : perjanjian ekstradisi

q Traktat Multilateral : bebas bea masuk u/barang2 ttt diantara negara2 ASEAN.

V. PENDAPAT SARJANA HUKUM (Dokrin) : umumnya dibuat oleh ahli2 hukum dari Eropa & Amerika.

KIBLAT HUKUM DI DUNIA

  1. CONTINENTAL LAW
  2. WESTERN LAW
  3. ISLAMIC LAW
  4. SOSIALIS LAW
  5. TRADITIONAL LAW
  6. MIX LAW


BENCANA ALAM GEOLOGI DI INDONESIA PADA TAHUN 2010

BENCANA ALAM GEOLOGI DI INDONESIA PADA TAHUN 2010


Bencana alam geologi merupakan peristiwa/kejadian/fenomena alamiah yang disebabkan oleh proses geologi dan mengakibatkan terjadinya kerusakan alam, kerugian harta benda serta jatuhnya korban jiwa. Bencana Alam Geologi ini dapat disebabkan oleh berbagai penyebab, yaitu : Gempa Bumi (Earthquake), Tsunami (Tsunamis), Letusan Gunungapi (Volcanic Eruptions), dan Gerakan Tanah (Mass Movement). Indonesia merupakan negara yang sangat berpotensi mengalami bencana alam geologi. Letak geografis Indonesia berada di antara dua benua dan dua samudera, terbentang di garis khatulistiwa serta terletak pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama dunia, merupakan wilayah territorial yang sangat rawan terhadap bencana khususnya bencana geologi. Berikut merupakan beberapa bencana alam geologi yang terjadi di Indonesia pada tahun 2010 :


Tanah Longsor Tenjolaya



Terjadi pada 23 Februari 2010 di Tenjolaya, Pasirjambu, Bandung. Lokasi longsor meliputi 3 RT dari 15 RT di RW 18. Longsor ini menimbun 50 rumah bedeng milik buruh, longsor juga menimbun satu pabrik pengolahan teh, satu gedung olahraga, satu koperasi karyawan, satu puskesmas pembantu, dan satu masjid. Jumlah korban jiwa, akibat longsor berjumlah 45 orang, terdiri dari 12 orang laki-laki, 21 orang perempuan, dan 12 orang anak-anak berdasarkan dari data pengaduan dari masyarakat yang kehilangan anggota keluarga kepada posko penanganan bencana longsor. Para korban selamat longsor Tenjolaya mengungsi keberbagai tempat, diantaranya di Desa Sugihmukti, Pasirjambu, Cisondari, dan Tenjolaya di Kecamatan Pasirjambu, dan juga di Desa Rancabali dan Rawabogo Kecamatan Ciwidey. Pencarian korban longsor akan dilakukan hingga jam 12.00 pada 1 Maret 2010, apabila tidak ditemukan kembali korban longsor, maka lokasi longsor akan dijadikan kuburan masal.

Gempa Bumi Aceh

Gempa bumi Sumatera 9 Mei 2010 terjadi di 66 kilometer barat daya Meulaboh, 110 kilometer barat daya Blang Pidie, 126 kilometer barat laut Labuhan Haji, dan 138 kilometer barat laut Sinabang dengan kekuatan 7,2 SR (7,2 MW pada pukul 12.59 WIB (5.59 UTC)dengan kedalaman 30 kilometer. Berdasarkan laporan dari United States Geological Survey, gempa bumi terjadi di sepanjang lempeng Indo-Australia dan lempeng Sunda. Gempa ini terjadi di wilayah gempa yang terjadi sejak tahun 2000an. Selain dirasakan di Indonesia, gempa juga dirasakan di Laos, Malaysia, Myanmar, Singapura, dan Thailand. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika sempat memberikan peringatan potensi terjadi tsunami dengan naiknya gelombang di laut setinggi 20 sentimeter, namun sekitar 90 menit setelah terjadinya gempa (sekitar pukul 14.30 WIB atau 7.30 UTC), peringatan bahaya tsunami dicabut. Gempa dirasakan hingga wilayah Medan, Sumatera Utara. Gempa juga dirasakan hingga wilayah Padang, Sumatera Barat. Kerusakan ringan dilaporkan terjadi di menara pengawas bandar udara di Meulaboh. Gempa juga mengakibatkan sejumlah rumah warga di Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Nagan Raya, rusak ringan dan retak-retak.
Gempa Bumi Jawa Barat



Terjadi di 147 kilometer arah Tenggara Sukabumi, 149 kilometer arah Barat Daya Tasikmalaya, 150 kilometer arah Barat Daya Bandung, 160 kilometer arah Barat Daya Ciamis, dan 231 kilometer arah Tenggara, Jakarta pada 18 Mei 2010 pada pukul 19.00. Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menyatakan gempa berpusat di koordinat 8,22 Lintang Selatan (LS) dan 107,21 Bujur Timur (BT) di kedalaman 13 kilometer. Sementara menurut United States Geological Survey (USGS), pusat pemantau gempa Amerika Serikat, gempa di wilayah Jawa Barat ini terjadi pukul 19.00 WIB dengan kedalaman 69,7 kilometer berkekuatan 5,4 SR. Lokasi gempa berada sekitar 115 kilometer arah Tenggara dari Sukabumi. Gempa bumi juga terjadi di Ujung Kulon pada 19 Mei 2010 dengan kekuatan 5,4 Skala Richter pada pukul 07.13. Pusat gempa di 36 kilometer barat laut Ujung Kulon, Banten. Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa berlokasi 6,78 Lintang Selatan, 105,16 Bujur Timur dengan kedalaman 10 km dan tidak berpotensi tsunami. Sejumlah rumah di Sukabumi dilaporkan mengalami kerusakan ringan maupun berat akibat diguncang gempa bumi terutama di Sukabumi Selatan.

Gempa Bumi Papua



Gempa bumi Papua 2010 terjadi pada 16 Juni 2010 pukul 12:16 waktu lokal (03:16 UTC) di Papua dengan kekuatan 7,0 Skala Richter. Gempa didahului oleh gempa pertama dengan kekuatan 6,2 Mw pada pukul 12:06 waktu lokal, dan disusul gempa dengan kekuatan 6,6 Mw 42 menit kemudian. Gempa menghancurkan 9 desa, yaitu Aiyari, Randawaya, Hamtimoi, Karowaiti, Waita, Waridoni, Tare, Larelahiti dan Wabudayar, dan menewaskan 17 orang. Intensitas gempa di Serui di Pulau Yapen dan wilayah pesisir lain mencapai VII pada Skala Mercalli, dan lebih dari skala VI di Biak. Banyak bangunan mengalami kerusakan di Yapen. Gempa juga menyebabkan tanah longsor dan sejumlah kebakaran di Serui.


Gempa Bumi Sulawesi Barat



Terjadi pada 16 Juni 2010 pukul 07:52 waktu lokal di Mamuju, Sulawesi Barat dengan kekuatan 5,1 Skala Richter. Gempa terjadi di kedalaman 10 km di 91 km Barat Daya Palu, Sulawesi Tengah. Gempa bumi ini menyebabkan satu orang tewas di Desa Kasano, Kecamatan Baras, sementara korban terluka sebanyak 135 orang, sebagian besar luka ringan, dan enam korban lainnya mengalami patah tulang. Akibat gempa ini menyebabkan 94 rumah rusak ringan hingga berat. Gempa bumi ini juga menyebabkan terjadinya lubang semburan gas di Kecamatan Baras.












Letusan Gunung Sinabung



Sinabung bersama Sibayak di dekatnya adalah dua gunung berapi aktif di Sumatera Utara. Ketinggian gunung ini adalah 2.460 meter. Gunung ini menjadi puncak tertinggi di Sumatera Utara. Gunung ini belum pernah tercatat meletus sejak tahun 1600. Sejak 27 Agustus 2010, gunung ini mengeluarkan asap dan abu vulkanis. Pada tanggal 29 Agustus 2010 dini hari sekitar pukul 00.15 WIB (28 Agustus 2010, 17.15 UTC), gunung Sinabung mengeluarkan lava. Dua belas ribu warga disekitarnya dievakuasi dan ditampung di 8 lokasi. Abu Gunung Sinabung cenderung meluncur dari arah barat daya menuju timur laut. Sebagian Kota Medan juga terselimuti abu dari Gunung Sinabung. Bandar Udara Polonia di Kota Medan dilaporkan tidak mengalami gangguan perjalanan udara. Satu orang dilaporkan meninggal dunia karena gangguan pernafasan ketika mengungsi dari rumahnya. Pada tanggal 3 September, terjadi 2 letusan. Letusan pertama terjadi sekitar pukul 04.45 WIB sedangkan letusan kedua terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Letusan pertama menyemburkan debu vuklkanis setinggi 3 kilometer. Letusan kedua terjadi bersamaan dengan gempa bumi vulkanis yang dapat terasa hingga 25 kilometer di sekitar gunung ini. Pada tanggal 7 September, Gunung Sinabung kembali metelus. Ini merupakan letusan terbesar sejak gunung ini menjadi aktif pada tanggal 29 Agustus 2010. Suara letusan ini terdengar sampai jarak 8 kilometer. Debu vulkanis ini tersembur hingga 5.000 meter di udara.

Banjir Wasior



Adalah bencana banjir bandang yang terjadi pada 4 Oktober 2010 di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat. Banjir bandang terjadi, karena kerusakan hutan di Wasior, sehingga hujan tiada henti yang terjadi sejak Sabtu, 2 Oktober 2010 hingga Minggu, 3 Oktober 2010 menyebabkan Sungai Batang Salai yang berhulu di Pegunungan Wondiwoy meluap. Banjir yang terjadi menyebabkan banyak infrastruktur di Wasior hancur termasuk lapangan udara di Wasior, sementara kerusakan juga menimpa rumah warga, rumah sakit, dan jembatan. Kerusakan yang terjadi disebabkan banjir yang terjadi membawa serta batu-batuan besar, batang-batang pohon, lumpur. Bencana banjir bandang yang terjadi juga mengganggu hubungan komunikasi, jaringan listrik terputus dan aktifitas masyarakat lumpuh. Banjir bandang juga menyebabkan 110 orang tewas dan 450 orang masih dinyatakan hilang. Sementara sebagian korban luka-luka dibawa ke Manokwari dan Nabire. Sementara sebagian korban luka lainnya dan warga yang selamat ditampung di tempat-tempat pengungsian. Akibat banjir yang terjadi yang merusak rumah warga dan infrastruktur banyak warga yang selamat memutuskan mengungsi ke Manokwari dengan menggunakan kapal laut.


Tsunami Mentawai



Tsunami di kepulauan Mentawai ini terjadi pada tanggal 26 Oktober 2010. Tsunami ini diawali gempa berkekuatan 7,2 skala richter Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, telah menewaskan 112 orang, 502 lainnya dinyatakan hilang, dan 4.000 keluarga mengungsi. Tsunami yang terjadi di Mentawai adalah sebuah bencana yang tidak terduga dan tidak bisa diprediksi sehingga banyak jatuh korban saat peristiwa itu terjadi. Menurut data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat, korban dari Tsunami mencapai 445 orang. Data BPBD menunjukkan korban jiwa terbesar berasal dari dusun Muntei sebanyak 114 orang dan dusun Sabeugunggung sebanyak 121 orang Desa Betumonga, Kecamatan Pagai Utara. Korban jiwa dalam jumlah besar juga dialami oleh masyarakat dusun Balerak Sok dan dusun Taparaboat, Desa Malakopa, Kecamatan Pagai Selatan. Korban jiwa mencapai 58 orang, sisa korban jiwa lainnya tersebar di Desa Bosua dan Desa Beriuleu di Kecamatan Sipora Selatan, Desa Bulasat di Kecamatan Pagai Selatan, Desa silabu di Kecamatan Pagai Utara, serta Desa Taikako di Kecamatan Sikakap. BPBD juga mencatat jumlah penduduk yang masih belum ditemukan mencapai 58 orang. Sedangkan jumlah korban luka berat sebanyak 175 orang dan luka ringan sebanyak 325 orang. Penduduk yang mengungsi pun mencapai ribuan orang. BPBD mencatat jumlah pengungsi dari empat kecamatan di Mentawai yang menjadi korban keganasan tsunami mencapai 15.353 jiwa.

Letusan Gunung Merapi



Letusan Merapi 2010 adalah rangkaian peristiwa gunung berapi yang terjadi di Merapi di Indonesia. Aktivitas seismik dimulai pada akhir September 2010, dan menyebabkan letusan gunung berapi pada hari Selasa tanggal 26 Oktober 2010, mengakibatkan sedikitnya 28 orang tewas, termasuk Mbah Maridjan. Menurut data dari Pudalops Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada hari Sabtu (13/11/2010) pukul 18.00 WIB, jumlah korban meninggal menjadi 240 jiwa. Secara lebih rinci BNPB memaparkan bahwa dari 240 korban yang meninggal akibat letusan Gunung Merapi, terbanyak berasal dari Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta dengan jumlah 186 orang. Akibat luka bakar 157 orang dan non luka bakar 29 orang. Sedangkan korban yang meninggal lainnya berasal dari Klaten, Boyolali, dan Magelang. Di Klaten terdata lima orang meninggal akibat luka bakar dan 23 orang lainnya meninggal akibat non luka bakar. Sedangkan 7 orang meninggal di Boyolali dan 19 orang meninggal di Magelang, semuanya korban meninggal di kedua kabupaten tersebut diakibatkan non luka bakar. Secara keseluruhan, jumlah korban yang dirawat inap dibeberapa Rumah Sakit di Sleman, Klaten, Boyolali, Magelang dan Kota Magelang sebanyak 486 pasien. Untuk jumlah pengungsi, tercatat total keseluruhan warga Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta yang mengungsi berjumlah 396.407 orang yang terbagi dari 637 titik pengungsi.

Letusan Gunung Bromo



Setelah dinyatakan kondisi awas dalam 4 hari, akhirnya Gunung Bromo benar-benar meletus. Gunung yang terlhat sangat eksotik itu meletus sekitar pukul 17.22 WIB, Jum’at 26 November 2010. Letusan Gunung Bromo itu mencapai ketinggian sekitar 600 meter. Namun letusan pertama itu masih tergolong kecil. Beberapa hari setelah itu, bromo berulangkali mengeluarkan asap vulkanik, namun intensitasnya sudah menurun. Setelah dinyatakan menurun, justru kondisi letusan Gunung Bromo ini kembali meningkat hingga saat ini. Sampai saat ini Gunung Bromo masih dinyatakan terbuka untuk wisatawan dengan batasan tidak sampai lautan pasir. Meski begitu, sampai saat ini belum diketahui adanya korban jiwa akibat letusan gunung yang memiliki ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut (Dpl).

Sumber :

· http://museum.bgl.esdm.go.id/index.php/bencana-alam-geologi.html

· http://purbakala.jawatengah.go.id/detail_berita.php?act=view&idku=58

· http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6345036

· http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6504964

· http://id.wikipedia.org/wiki/Letusan_Merapi_2010

· http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir_Wasior_2010

· http://id.wikipedia.org/wiki/Longsor_Tenjolaya

· http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Aceh_2010

· http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Jawa_Barat_2010

· http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Kepulauan_Mentawai_2010

· http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Papua_2010

· http://id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Sulawesi_Barat_2010