Monday, March 14, 2011

Paparan Sunda Dan Paparan Sahul

Wilayah Indonesia secara geografis terletak diantara dua benua yaitu Asia dan Australia serta terletak diantara dua samudra yaitu Pasifik dan Hindia. ndonesia sebagai negara kepulauan merupakan salah satu wilayah yang mempunyai tatanan geologi dan pola tektonik yang komplek dimuka Bumi ini. ecara tektonik lempeng (Gambar 2), Indonesia merupakan lokasi benturan antara tiga lempeng utama litosfir yaitu Hindia-Australia di bagian selatan, Pasifik di sebelah timur laut dan Eurasia di barat laut.
Di sebelah barat terdapat pulau besar bernama Sumatera, yang hanya dipisahkan oleh selat sempit (yang di beberapa titik hanya berjarak 30 km) bernama Selat Sunda dengan sebuah pulau besar di wilayah selatan yang bernama Pulau Jawa. Di bagian utara terdapat pulau besar yang bernama Pulau Kalimantan, sementara di sebelah timur terdapat Pulau Papua yang ditakdirkan menjadi pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland di bumi belahan utara. Antara Kalimantan dan Papua terdapat gugusan pulau-pulau yaitu Sulawesi dan Maluku yang ditakdirkan Tuhan menjadi kepulauan rempah-rempah yang kelak sangat mewarnai sejarah modern Indonesia. Di sebelah selatan gugus pulau ini terdapat Kepulauan Sunda Kecil (Nusa Tenggara) yang tersebar bak untaian zamrut antara Jawa dan Australia. Kepulauan Indonesia sekilas seperti jembatan alam yang menghubungkan benua Asia dengan benua Australia.
Lihatlah Indonesia bagian barat. Laut yang memisahkan benua Asia, Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan adalah laut dangkal yang tidak lebih dalam dari 100 meter.Tampaknya Sumatera, Jawa dan Kalimantan dulunya menyatu dengan Benua Asia, karena itulah sekarang kita menamai wilayah ini sebagai Paparan Sunda. Setelah periode Glasial berakhir pada ribuan tahun lalu, beberapa gunung es yang besar mulai meleleh hingga permukaan laut naik mencapai 60 meter sehingga tanah-tanah rendah menjadi terendam air laut dan kemudian membentuk Pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Kalimantan. Jan Huygen van Linschoten dalam buku Itinerario juga mengisahkan cerita yang beredar luas di kalangan para penjelajah pada abad ke 16 bahwa Semenanjung Malaya dan Sumatera dulunya membentuk satu benua Asia yang luas. Di sebelah timur terdapat laut Arafura yang dangkal memisahkan Pulau Papua dengan Australia. Kelihatan sekali bahwa dulu Laut Arafura adalah sebuah daratan yang menghubungkan Papua dengan Australia. Kita menamainya sekarang sebagai Paparan Sahul. Karena permukaan laut yang naiklah maka Papua terpisah dengan Australia oleh Laut Arafura.
Terlihat nyata di situ bahwa Paparan Sunda dan Paparan Sahul dipisahkan oleh laut dalam dengan kedalaman lebih dari 3.000 meter sampai 6.000 meter. Dan uniknya di laut dalam inilah muncul Pulau Sulawesi (yang kemudian tampak menyambung dengan Kepulauan Filipina), Pulau-pulau di Nusa Tenggara, Pulau Halmahera dan Kepulauan Maluku. Kentara sekali bahwa gugusan pulau di bagian tengah ini bagaikan pemisah antara Indonesia bagian barat dengan bagian timurnya. Karena itulah kondisi flora dan fauna di pulau-pulau Indonesia bagian barat, bagian tengah dengan pulau-pulau sebelah timur terdapat perbedaan yang cukup nyata.
Hubert Forestier dalam disertasinya mengutip penelitian Gibbons (J.R.H) dan Clunie (F.G.A.U) tentang “Sea level changes and Pacific prehistory” dalam Journal of Pacific History mengungkapkan hal yang sama dengan hal di atas bahkan lebih teliti lagi memperkirakan ada 4 tahapan kepulauan Nusantara mencapai bentuknya seperti sekarang ini. Diperkirakan pada tahap pertama, tepatnya 16.000 - 20.000 tahun yang lalu, beda permukaan Paparan Sunda dan sahul dengan permukaan air laut masih sekitar 130 meter. Kemudian sekitar 14.000 tahun yang lalu permukaan laut naik sekitar 30 meter. Sekitar 10.000 tahun yang lalu, beda permukaan Paparan Sunda dan Sahul dengan permukaan air laut tinggal 50 meter sampai kemudian wilayah Nusantara mencapai bentuknya seperti sekarang sejak 4.000 tahun yang lalu. Karena itulah diperkirakan sejarah modern Nusantara dimulai sejak Kala Holosen yaitu 4.000 - 5.000 tahun yang lalu dimana pulau-pulau terbentuk seperti sekarang ini.


Garis Wallace dan Weber

Ketika jaman es, permukaan air tidak setinggi sekarang. Hal itu menyebabkan Pulau Sumatera, Jawa, dan Kalimantan merupakan bagian dari benua Asia, sedangkan Pulau Papua merupakan bagian dari benua Australia.
lfred Russel Wallace (8 Januari 1823 – 7 November 1913) adalah seorang naturalist ( ahli flora dan fauna), explorer, geographer, anthropologist dan biologist. Antara tahun 1854-1862, Wallace menjelajahi Malaysia dan Indonesia. Pada tahun tersebut, ia menemukan garis Wallace setelah ia menyadari adanya perbedaan antara fauna bagian barat dan timur. Selain menemukan garis Wallace, ia juga dikenal sebagai orang yang membantu Charles Darwin untuk mencetuskan teorinya. Garis Weber dicetuskan oleh Max Carl Wilhelm Weber (5 Desember 1852 – 7 Februari 1937) atau juga dikenal sebagai Max Wilhelm Carl Weber. Ia merupakan orang asal Jerman yang berprofesi sebagai zoologist (ahli ilmu hewan) dan biogeographer (orang yang ahli dibidang biogeografi). Richard Lydekker (25 Juli 1849 – 16 April 1915) adalah seorang naturalist (ahli flora dan fauna), geologiwan (ahli geologi), dan penulis buku ilmu pengetahuan alam yang lahir di kota London, (Inggris). Pada tahun 1895, ia menggambarkan garis pemisah biogeografi Australialis yang berada di bagian barat Indonesia dan Asialis yang berada di bagian kiri Indonesia.
Garis Wallace adalah sebuah sempadan hipotetis yang memisahkan wilayah geografi hewan Asia dan Australasia. Bagian barat dari garis ini berhubungan dengan spesies Asia; di timur kebanyakan berhubungan dengan spesies Australia. Garis ini dinamakan atas Alfred Russel Wallace, yang menyadari perbedaan yang jelas pada saat dia berkunjung ke Hindia Timur pada abad ke-19. Garis ini melalui Kepulauan Melayu, antara Borneo dan Sulawesi; dan antara Bali (di barat) dan Lombok (di timur). Adanya garis ini juga tercatat oleh Antonio Pigafetta tentang perbedaan biologis antara Filipina dan Kepulauan Maluku, tercatat dalam perjalanan Ferdinand Magellan pada 1521. Garis ini lalu diperbaiki dan digeser ke Timur (daratan pulau Sulawesi) oleh Weber. Batas penyebaran flora dan fauna Asia lalu ditentukan secara berbeda-beda, berdasarkan tipe-tipe flora dan fauna. Garis ini lalu dinamakan “Wallace-Weber”.



Dampak Pergeseran Posisi Bumi

Posisi bumi terus bergeser dari posisinya semula. Saat ini posisi bumi bergerak pelan namun pasti ke arah utara. Pergeseran posisi bumi saat ini lebih besar dibandingkan dengan yang selama ini diprediksi oleh para ahli, walau belum ada efek signifikan yang terasa. Peneliti menemukan, pergeseran massa air yang berkolaborasi dengan post-glacial rebound menggeser permukaan bumi dari pusatnya sebanyak 0,035 inci atau 0,88 milimeter per tahun.
Post-glacial rebound adalah efek balik dari permukaan padat bumi terhadap berkurangnya gletser dan hilangnya beban berat. Akibatnya, tanah di bawah es bergerak naik. Akibatnya, lapisan padat di permukaan akan bergerak ke utara sebagai efek dari pusat massa planet.
Para ilmuwan mengombinasikan data gravitasi dari NASA dan satelit German Aerospace Center Gravity Recovery and Climate Experiment (GRACE) yang mengukur pergerakan permukaan bumi lewat GPS dan model yang dikembangkan oleh Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik NASA yang memperkirakan massa samudra di atas setiap titik di dasar samudera. Xiaoping Wu, peneliti JPL di Pasadena, California memperkirakan, penyebab utama pergeseran permukaan bumi adalah karena melelehnya lapisan es Laurentide, yang menyelimuti sebagian besar Kanada dan bagian utara Amerika Serikat di jaman es lalu. “Temuan baru ini ternyata jauh lebih besar dibandingkan perkiraan terdahulu yang hanya 0,019 inci atau 0,48 milimeter per tahun,” kata Wu, seperti dilansir Livescience, pada 28 September 2010.
Walau demikian, pergerakan permukaan ke arah atas belum mempengaruhi kehidupan di bumi. Pergeseran akan berpengaruh jika pergeseran mencapai satu centimeter per tahun, juga pergeseran berpengaruh pada pelacakan satelit dan pesawat luar angkasa.
Setiap kurang lebih 200 ribu tahun sekali, kedua kutub planet Bumi, utara dan selatan saling bergeser. Umumnya, pergeseran kedua kutub itu membutuhkan waktu ribuan tahun. Scott Bogue, geolog dari Occidental College dan Jonathan Glen, peneliti dari US Geological Survey (USGS) yang mengamati lava di kawasan Nevada yang telah berusia 15 juta tahun. Hasilnya, dari penelitian, mereka menemukan bahwa kutub planet Bumi pernah bergeser beberapa kali lipat lebih cepat dibanding kecepatan normal. Setidaknya satu kali.
“Saat lava mendingin, ia menyimpan catatan medan magnet Bumi,” kata Bogue, seperti dikutip dari Discovermagazine, 23 Desember 2010. “Setelah mengamati lava yang mengalami pendinginan selama 2 tahun berturut-turut, diketahui bahwa lava di kawasan itu bergeser 53 derajat dari timur ke arah utara dengan kecepatan 1 derajat setiap minggu,” ucapnya. Awalnya, keduanya mengira ada kesalahan dalam penelitian mereka. Namun pengujian lebih mendetail mengonfirmasikan pola pergeseran tersebut. Bukti lain terjadinya pergeseran kutub terekam oleh lava yang ada di Oregon, yang telah diteliti di tahun 1985 lalu. Catatan geologi dari medan magnet Bumi juga umumnya mengindikasikan bahwa medan magnet utara-selatan itu bergeser satu kali setiap sekitar 200 ribu tahun. Pergeseran terjadi secara lambat dan membutuhkan 4 ribu tahun untuk selesai.
Temuan ini diperkirakan akan memicu gelombang perdebatan baru. Sejumlah geolog berpendapat bahwa saat ini medan magnet juga sedang menjalani pergeseran.


Morfologi Daerah Transisi Sampai Abysal

Permukaan bumi mempunyai morfologi yang sangat beragam, mulai dari pegunungan, lembah sungai, pedataran, padang pasir (desert), delta sampai ke laut. Dengan analogi pembagian ini, lingkungan pengendapan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni darat (misalnya sungai, danau dan gurun), peralihan (atau daerah transisi antara darat dan laut; seperti delta, lagun dan daerah pasang surut) dan laut. Banyak penulis membagi lingkungan pengendapan berdasarkan versi masing-masing. Selley (1988) misalnya, membagi lingkungan pengendapan menjadi 3 bagian besar: darat, peralihan dan laut. Sedimen transisi, lokasi pembentukanya terletak antara darat dan laut,
misalnya endapan delta dan endapan rawa-rawa (limnis). Berdasarkan kedalamnya, laut dibagi menjadi beberapa zona (bathymetric zone), zona litoral, yaitu Zona Transisi yang terletak pada daerah pasang surut, Zona Epineritik, yaitu, dari batas daerah surut sampai kedalaman 50m, Zona
Neritik (50-200m), Zona Bathial (200-2000m), dan Zona Abysal (>2000m).
Berdasarkan kedalamannya, laut dibagi menjadi beberapa zona (Bathymetric zone) yaitu:
1. Zona litoral, yaitu zona transisi yang terletak pada daerah pasang surut.
2. Zona epinetrik, yaitu batas daerah surut terendah sampai kedalaman -50 meter.
3. Zona Neritik, yaitu daerah yang masih bisa ditembus oleh cahaya yang kedalamannya -50 sampai -200 meter.
4. Zona bathyal yaitu daerah yang kedalamannya -200 m sampai -2000 meter.
5. Zona Abysal yaitu daerah yang kedalamannya lebih dari -200 meter.(Mulyo, 2004)
Daerah dasar laut yang paling dalam dimulai dari mulai kedalaman 1.000 m. Dalam kategori ini termasuk lubuk laut dan palung laut. Palung laut terdalam di dunia adalah palung laut Mariana (11.000 m) di Samudera Pasifik. Pada kedalaman palung laut semacam ini tekanan air laut sudah amat besar. Akibatnya binatang-binantang laut yang ada di dalamnya cenderung berbentuk pipih dan panjang-panjang. Materi sedimentasinya sangat halus, berupa sejenis lumpur berwarna kemerah-merahan dan terdiri dari hancuran diatomea dan radiolaria, karena dalam kedalaman sekitar 3.000 m kerangka lokan pun sebelum mencapai dasar laut telah hancur dan larut. Dalam kedalaman kurang lebih 7.000 m unsur kapur dan binantang-binatang yang telah mati habis terlarut, hanya bagian-bagian yang terdiri dari S1O2 saja yang tersisa. Hasil penelitian tentang kecepatan sedimentasi di dasar laut dalam masih sangat terbatas dan masih sedikit data yang didapat. Kecematan sedimentasi akan semakin bertambah tebal sekitar 0.5 sampai dengan 2 cm dalam jangka waktu 1.000 tahun. Pada umumnya semakin dalam, kadar garam air laut akan menurut. Pada tingkat kedalaman 8.00 m sampai dengan 1.200 m kadar garam mencapai minimumnya (34,4%). Tetapi pada tingkat kedalaman 1.600 m sampai dengan 2.000 naik lagi hingga mencapai 34,9%, setelah itu kadar garamnya akan mulai menurun secara perlahan-lahan. Suhu air laut pada kedalaman lebih dari 4.000 m yang terletak di daerah sekitar 20o Lintang Selaran (LS) adalah 0,3o C; sedangkan di daerah ekuator 0,7oC; dan pada daerah 30oC Lintang Utara (LU) 2,5oC.








KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI



OCEANOGRAFI




TUGAS



















NAMA : ALFONSUS I S SIMALANGO
NIM : D611 08 289







MAKASSAR
2011
Sumber:

• http://sejarah.kompasiana.com/2010/07/07/l%E2%80%99histoire-se-repete-18-di-mana-kita-berpijak/
• http://somethingessential.wordpress.com/
• http://www.jurnaliswarga.com/index.php/iptek/antariksa/227-posisi-bumi-terus-bergeser
• http://www.kaskus.us/showthread.php?t=6692160
• http://bolonksendal.blogspot.com/2011/01/makalah-batuan-sedimen.html
• http://ciledugbased15152.blogspot.com/2009/02/abyssal.html
• http://valentinomalau31.blogspot.com/2010/12/lingkungan-pengndapan.html?zx=fdfc810dc7cedf2b

No comments: