Sunday, February 20, 2011

PERANAN AHLI GEOLOGI DALAM PENANGANAN GUNUNG API

Dampak Letusan

Gunung berapi meletus akibat magma di dalam perut bumi yang didorong keluar oleh gas yang bertekanan tinggi atau karena gerakan lempeng bumi, tumpukan tekanan dan panas cairan magma. Letusannya membawa abu dan batu yang menyembur dengan keras, sedangkan lavanya bisa membanjiri daerah sekitarnya. Akibat letusan tersebut bisa menimbulkan korban jiwa dan harta benda yang besar pada wilayah radius ribuan kilometer dan bahkan bisa mempengaruhi putaran iklim di bumi ini, seperti yang terjadi pada Gunung Pinatubo di Filipina dan Gunung Krakatau di Propinsi Banten, Indonesia.
Gas vulkanik adalah gas-gas yang dikeluarkan saat terjadi letusan gunung api antara lain Karbon Monoksida (CO), Karbon Dioksida (CO2), Hidrogen Sulfida (H2S), Sulfur Dioksida (SO2) dan Nitrogen (N2) yang membahayakan bagi manusia. Lava adalah cairan magma bersuhu sangat tinggi yang mengalir ke permukaan melalui kawah gunung api. Lava encer mampu mengalir jauh dari sumbernya mengikuti sungai atau lembah yang ada, sedangkan lava kental mengalir tidak jauh dari sumbernya.
Lahar juga merupakan salah satu ancaman bagi masyarakat sekitar Gunung Merapi. Ancaman lahar telah terjadi pada letusan Gunung Merapi pada tahun 1994 dan 2006. Lahar adalah banjir bandang di lereng gunung yang terdiri dari campuran bahan vulkanik berukuran lempung sampai bongkah. Lahar dapat berupa lahar panas atau lahar dingin. Lahar panas berasal dari letusan gunung api yang memiliki danau kawah, dimana air danau menjadi panas kemudian bercampur dengan material letusan dan keluar dari mulut gunung. Lahar dingin atau lahar hujan terjadi karena percampuran material letusan dengan air hujan di sekitar gunung yang kemudian membuat lumpur kental dan mengalir dari lereng gunung. Lumpur ini bisa panas atau dingin.
Awan panas (wedhus gembel) adalah hasil letusan gunung api yang paling berbahaya karena tidak ada cara untuk menyelamatkan diri dari awan panas tersebut kecuali melakukan evakuasi sebelum gunung meletusAwan panas hembusan adalah awan dari material letusan kecil yang panas, dihembuskan angin dengan kecepatan mencapai 90 km per jam. Awan panas jatuhan adalah awan dari material letusan panas besar dan kecil yang dilontarkan ke atas oleh kekuatan letusan yang besar. Material berukuran besar akan jatuh di sekitar puncak sedangkan yang halus akan jatuh mencapai puluhan, ratusan bahkan ribuan kilometer dari puncak karena pengaruh hembusan angin. Awan panas dapat mengakibatkan luka bakar pada bagian tubuh yang terbuka seperti kepala, lengan, leher atau kaki, dan juga menyebabkan sesak napas sampai tidak bisa bernapas.
Abu Letusan gunung api adalah material letusan yang sangat halus. Karena hembusan angin dampaknya bisa dirasakan ratusan kilometer jauhnya. Pada letusan besar seperti pernah terjadi di Gunung Krakatau, abu yang dihasilkan bahkan menutupi sinar matahasi sampai berminggu-minggu.

Peranan Ahli Geologi

• Letusan Gunung Merapi 2010
Peningkatan status dari "normal aktif" menjadi "waspada" pada tanggal 20 September 2010 direkomendasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTK) Yogyakarta. Setelah sekitar satu bulan, pada tanggal 21 Oktober status berubah menjadi "siaga" sejak pukul 18.00 WIB. Pada tingkat ini kegiatan pengungsian sudah harus dipersiapkan. Karena aktivitas yang semakin meningkat, ditunjukkan dengan tingginya frekuensi gempa multifase dan gempa vulkanik, sejak pukul 06.00 WIB tangggal 25 Oktober BPPTK Yogyakarta merekomendasi peningkatan status Gunung Merapi menjadi "awas" dan semua penghuni wilayah dalam radius 10 km dari puncak harus dievakuasi dan diungsikan ke wilayah aman.


• Ahli Geologi ITM : Gunung Berapi Sumatera Beda dengan Jawa
Komposisi gunung api kawasan Pulau Sumatera berbeda dengan di Pulau Jawa. Perbedahan tersebut dilihat dari komposisi magma yang dikeluarkan gunung api pada saat meletus. “Secara umum, magma gunung api di Jawa komposisinya intermidiatis hingga basa atau adesitic. Sedangkan gunung api yang ada di Sumatera cenderung intermidiatis hingga asam atau granitis,” ucap Pakar Geologi ITM, Ir Lisnawaty MT didampingi Ka Humas ITM, MH Vivahmi Manafsyah SH MSi, Selasa [9/11] di kampus ITM Jalan Gedung Arca Medan. Menurut Ketua Jurusan Geologi ITM ini, debu vulkanik yang dikeluarkan Gunung Merapi, yang saat ini sedang meletus, ke depan bernilai ekonomis untuk mengembalikan kesuburan tanah, bahkan pasir yang dimuntakan memiliki kualitas terbaik untuk bahan bangunan dibandingkan pasir sungai. Kualitas ekonomis ini jika dilihat dari bentuk debu vulkanik yang dikelurkan bukan dari komposisi magma. Tapi jika dilihat dari komposisi setiap gunung api akan memiliki komposisi material yang berbeda. Untuk Gunung api di kawasan Pulau Sumatera debu vulkaniknya tebal dan memiliki keasaman sedangkan di Jawa tipis dan sifatnya basa.
• Ahli Geologi Temukan Gunung Api Raksasa Bawah Laut Sumatera
Para pakar geologi Indonesia, AS dan Prancis berhasil menemukan gunung api bawah laut raksasa berdiameter 50 km dan tinggi 4.600 meter yang berada 330 km arah barat Kota Bengkulu. Para ahli geologi ini berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia ( LIPI), Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, CGGVeritas dan IPG (Institut de Physique du Globe) Paris. “Gunung api ini sangat besar dan tinggi. Di daratan Indonesia tak ada gunung setinggi ini kecuali Gunung Jayawijaya di Papua, ” kata Direktur Pusat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, BPPT, Yusuf Surachman kepada wartawan di Jakarta, Kamis. Gunung api bawah laut berada di Palung Sunda di barat daya Sumatera, 330km dari Bengkulu, di kedalaman 5,9 km dengan puncak berada di kedalaman 1.280 meter dari permukaan laut. “Bagaimanapun gunung api bawah laut sangat berbahaya jika meletus,” katanya. Survei yang menggunakan kapal seismik Geowave Champion canggih milik CGGVeritas itu adalah yang pertama di dunia karena menggunakan streamer terpanjang, 15 km, dari yang pernah dilakukan oleh kapal survei seismik. Tujuan dari survei ini adalah untuk mengetahui struktur geologi dalam (penetrasi sampai 50km) yang meliputi Palung Sunda, Prisma Akresi, Tinggian Busur Luar (Outer Arc High) dan Cekungan Busur Muka (Fore Arc Basin) perairan Sumatera.
• Ada Jalur Air Laut ke Gunung Api
Banyak orang yang mengkaitkan ketiga bencana alam tersebut. Beberapa ahli geologi dan vulkanologi buru-buru menjelaskan bahwa tidak ada kaitan antara gempa dan letusan gunung berapi, atau antara letusan gunung yang satu dengan lainnya. "Dapur magmanya beda-beda" kata Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Sukhyar. Kini, ada penelitian baru yang menemukan kaitan aktivitas gunung berapi dengan tumbukan lempeng samudra ke bawah lempeng benua. Lempeng samudra mengambil banyak air ketika menunjam ke bawah lempeng benua di zona subduksi. Air ini ternyata memainkan peran sentral dalam batas lempeng vulkanik. "Ada jalur air di kedalaman 120 kilometer," kata Tamara Worzewski, ahli geofisika dari Collaborative Research Centre (SFB) 574 yang melakukan peneliti bertajuk 'Cairan dan Volatil di Zona Subduksi - Umpan Balik Iklim dan Mekanisme Pemicu Bencana Alam.' Penelitian gabungan ini dilakukan bersama Dr Marion Jegen dan Prof Dr Heidrun Kopp dari Institut Leibniz tentang Ilmu Kelautan di Christian-Albrechts-Universit├Ąt (IFM-GEOMAR) di Kiel, Dr Heinrich Brasse dari Freie Universit├Ąt Berlin dan Dr Waldo Taylor dari Costa Rica. Hasil penelitian yang diterbitkan di jurnal Nature Geoscience edisi Desember ini dapat menjawab teka-teki untuk memahami aktivitas gunung berapi yang sangat aktif di wilayah yang disebut "Sabuk Sirkum atau Cincin Api Pasifik." Sri Widiyantoro yang menjabat Ketua Kelompok Keahlian Ilmu dan Teknik Geofisika ITB menjelaskan tunjaman subduksi litosfer samudra dapat mencapai batas mantel dan inti Bumi. Di Amerika Tengah, kedalamannya mencapai 3.000 kilometer. "Di bawah Pulau Jawa kedalaman penunjaman bisa mencapai 1.500 kilometer," kata Widiyantoro yang publikasi ilmiahnya berjudul ”The Evidence for Deep Mantle Circulation from Global Tomography” dirilis jurnal Nature. Tunjaman lempeng yang terus menerus itu ternyata menimbulkan retakan besar yang membuat air laut masuk dan sebagian ditangkap serta diangkut dalam mantel bumi. Dari temuan ini para ahli makin yakin bahwa banyak gunung berapi membutuhkan air untuk letusan mereka. Di dalam mantel bagian atas, air menurunkan suhu leleh batuan. Sebagai konsekuensinya mencair lebih cepat dan dapat naik dalam bentuk magma ke permukaan bumi. Selama ini para ahli menjelaskan di dalam mantel, suhu dan tekanan tinggi memerasnya keluar dari lempeng subduksi dan air naik kembali ke permukaan. Pada perjalanan kembali mendukung pembentukan magma dan terjadinya gunung berapi serta letusannya. "Namun demikian jalur yang pasti air turun ke mantel dan kembali ke permukaan sejauh ini tidak pernah ditampilkan dalam satu konteks kesatuan," kata Tamara Worzewski. Untuk pertama kalinya di dunia, tim peneliti menemukan adanya jalur air lengkap dari dasar laut hingga kedalaman 120 kilometer dan kembali ke permukaan dengan menggunakan metode elektromagnetik.
• Hasil Penelitian Ahli Vulkanologi Aktivitas Gunung Berapi Burni Telong
REDELONG - Hasil penelitian tim ahli vulkanologi menyebutkan, aktivitas gunung berapi Burni Telong, Kabupaten Bener Meriah semakin meningkat menyusul gempa dan tsunami yang melanda Aceh akhir Desember 4 tahun lalu. Peningkatan aktivitas itu antara lain ditandai adanya perubahan kondisi geokimia, biokimia, suhu, air, lingkungan, dan beberapa fenomena alam di sekitar gunung berapi. Diingatkan, perubahan tersebut perlu diwaspadai guna mencegah timbulnya korban. Demikian diungkapkan tiga ahli vulkanologi dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi (PPPG) Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral RI. Tim peneliti gunung berapi itu adalah Dr H Fauzie Hasibuan (ahli geologi), Ir Rimbaman MSc (ahli geologi lingkungan), dan Ir Asdani Suhaimi Dipl Eng (ahli seismologi) yang datang atas undangan Penjabat Bupati Bener Meriah,saat itu Drs H Saat Isra. Mereka meneliti selama sepekan dari tgl 17-21 Mei 2005. Fauzie Hasibuan yang ditemui ditemui Serambi di Takengon, Sabtu (22/5) mengatakan, pascagempa 26 Desember 2004, banyak terjadi perubahan pada gunung berapi Burni Telong, Bener Meriah. Perubahan itu merupakan indikasi aktivitas gunung berapi Burni Telong mengalami peningkatan. Tanda-tanda itu antara lain meningkatanya suhu sekitar gunung berapi menjadi 55 derajat Celsius. Padahal suhu sebelum tgl 25 Desember 2004 berkisar 45-48 derajat Celsius, temperatur air meningkat, kondisi geokimia (kimia tanah) berubah, tumbuhan lingkaran puncak gunung mengering semakin melebar. Sedangkan tanda-tanda alam lainnya, sering terjadi gataran (gemuruh) yang dirasakan hewan-hewan. Contohnya, ada burung berterbangan ke segala arah, tanpa sebab. Hewan-hewan punya kepekaan lebih tinggi dibanding manusia, ujar Ir Rimbaman Gejala atau keanehan-keanehan itu juga diakui masyarakat penghuni sekitar gunung Burni Telong. Di Kabupaten Bener Meriah, katanya, terdapat empat gunung berapi selain Burni Telong. Di antara gugusan itu adalah Gunung Gereudong yang sudah pernah meletus dan kini dalam kondisi pasif. Sedangkan gunung berapi Burni Telongdan pernah tidak pasif dalam jangka waktu 17 tahun. Dari data geologi, gugusan gunung berapi di Bener Meriah termasuk kawasan patahan Semangko (sesar Semangko) yang membujur sepanjang pulau Sumatera dan Jawa. Dan setelah terjadinya patahan yang menyebabkan tumbukan keras di Samudera Indonesia tgl 26 Desember 2004 lalu, memicu aktifnya sejumlah gunung berapi di Aceh termasuk gunung Burni Telong. Tiga ahli itu menyimpulkan, bila gunung berapi Burni Telong meletus maka akan memuntahkan magma –– batu panas dan material panas dari perut bumi lainnya –– sejauh lima kilometer dari kawahnya. Kawasan (area) radius lima kilometer kategorikan daerah bahaya, sedangkan dalam radius delapan kilometer digolongkan area waspadayang akan ditimpa gelindingan batu, debu, dan hawa panas. Dari tinjauan ilmiah, kata Fauzie, area bahaya tidak boleh dihuni manusia secara permanen, kawasan itu lebih baik dijadikan hutan konservasi, hutan agrowisata, hutan petualangan yang bersifat hunian sementara. Dan bila sewaktu-waktu, aktivitas gunung berapi membahayakan maka akan mudah dievakuasi.


Sumber :

· http://sahrul1987.wordpress.com/2008/11/06/potensi-bencana-dan-penanggulangan-akibat-letusan-gunung-merapi-di-kabupaten-sleman/

· http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Merapi

· http://beritasore.com/2010/11/09/ahli-geologi-itm-gunung-berapi-sumatera-beda-dengan-jawa/

· http://ariefgeo.blogspot.com/2009/06/ahli-geologi-temukan-gunung-api-raksasa.html

· http://www.tempointeraktif.com/hg/sains/2010/12/22/brk,20101222-300734,id.html

· http://kuldonk.multiply.com/journal/item/1/Hasil_Penelitian_Ahli_Vulkanologi_Aktivitas_Gunung_Berapi_Burni_Telong





KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL
UNIVERSITAS HASANUDDIN
FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK GEOLOGI
PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI



BENCANA ALAM GEOLOGI




“PERANAN AHLI GEOLOGI DALAM PENANGANAN GUNUNG API”


















NAMA : ALFONSUS I S SIMALANGO
NIM : D611 08 289








MAKASSAR
2011

No comments: