Friday, January 8, 2010

KERUSAKAN DANAU INDONESIA

Setiap manusia di belahan dunia mana pun pasti memanfaatkan air dalam kehidupan mereka. Air merupakan kebutuhan vital. Maka, air pun menjadi sumber daya alam karena air berguna bagi manusia. Hakikatnya, air merupakan barang bebas yang mudah didapat di mana pun dan kapan pun sehingga menjadi sesuatu yang cuma-cuma. Manusia tidak perlu berkorban untuk mendapatkan air, sama halnya seperti manusia memperoleh udara dan sinar matahari, semua itu tersedia melimpah di alam. Namun, sayangnya manusia terlalu serakah terhadap alam. Semua dimanfaatkan untuk keuntungan tanpa memikirkan dampak selanjutnya. Manusia masih kurang bijaksana.

Permasalahan mengenai sumber daya air juga terjadi di Indonesia. Mungkin hal ini sudah tidak asing lagi bagi kita semua. Indonesia adalah salah satu negara dengan kekayaan alam terbesar di Asia Tenggara. Semestinya tidak diragukan lagi bahwa air tersedia melimpah ruah di Indonesia karena luas perairan Indonesia yang lebih besar dari luas daratan. Tetapi yang terjadi pada kenyataannya sungguh ironis, kini krisis air di berbagai daerah menjadi berita utama dalam media massa. Bahkan permasalahannya tidak hanya krisis air, namun meluas pada mulai rusaknya daerah-daerah perairan seperti danau.


Danau

Danau adalah sejumlah air (tawar atau asin) yang terakumulasi di suatu tempat yang cukup luas, yang dapat terjadi karena mencairnya gletser, aliran sungai, atau karena adanya mata air.

Berdasarkan proses terjadinya, danau dibedakan :

§ danau tektonik yaitu danau yang terbentuk akibat penurunan muka bumi karena pergeseran / patahan

§ danau vulkanik yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas vulkanisme / gunung berapi

§ danau tektovulkanik yaitu danau yang terbentuk akibat percampuran aktivitas tektonisme dan vulkanisme

§ danau bendungan alami yaitu danau yang terbentuk akibat lembah sungai terbendung oleh aliran lava saat erupsi terjadi

§ danau karst yaitu danau yang terbentuk akibat pelarutan tanah kapur

§ danau glasial yaitu danau yang terbentuk akibat mencairnya es / keringnya daerah es yang kemudian terisi air

· danau buatan yaitu danau yang terbentuk akibat aktivitas manusia



Kerusakan Danau

Keberadaan sejumlah danau di Indonesia sudah mengkhawatirkan, sedikitnya 10 danau di Indonesia rusak, sehingga fungsinya menurun . Hal tersebut akibat penggundulan hutan dan sedimentasi. Oleh karena itu, persoalan tersebut harus ditangani secara serius, tidak hanya oleh pemerintah pusat tetapi juga pemerintah daerah. Selain itu,sejumlah danau juga mengalami masalah dalam fungsinya sebagai daerah tangkapan air akibat kerusakan hutan di sekitarnya yang menyebabkan sedimentasi di dasar danau. Selain dua danau dikeruk, juga dilakukan peningkatan kualitas air, peningkatan komitmen pemerintah, pemulihan kawasan terpadu, pengawasan pemanfaatan multifungsi danau, peningkatan pariwisata, dan program perubahan iklim.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KNLH) memprakarsai Konferensi Nasional Danau Indonesia: Pengelolaan Danau dan Antisipasi Perubahan Iklim di Bali, 13-15 Agustus 2009. Diperkirakan ada 700 peserta dari sembilan departemen dan kementerian serta pemerintah daerah. "Banyak lahan kritis, hutannya juga sedikit," kata Asisten Deputi III Urusan Pengendalian Kerusakan Sungai dan Danau, Antung D Radiansyah, menambah ironis.

Masifnya kerusakan danau-danau di Indonesia menambah deret ironi kekayaan alam Tanah Air setelah pembabatan hutan dan eksploitasi sumber daya alam besar-besaran. Dari data KNLH, ada 840 danau besar dan 735 danau kecil di Indonesia. Danau-danau itu menyediakan 72 persen suplai air permukaan di Indonesia. Danau-danau juga dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik, wisata, irigasi, dan budidaya perikanan. Namun, daya dukungnya terus menyusut drastis akibat pola pembangunan dan pengelolaan yang mengabaikan fungsi penting dan daya tampungnya. Salah satu contoh pengabaian perhitungan daya tampung danau adalah kematian massal ikan di Danau Maninjau, Sumatera Barat, pada akhir tahun 2008 lalu hingga mencapai 13.413 ton atau setara dengan Rp 150 miliar.

Kejadian serupa pernah terjadi di tempat lain dalam skala berbeda-beda. Namun, terus berulang dan merugikan para pembudidaya ikan. Sebagai langkah perubahan, setidaknya membutuhkan komitmen sembilan departemen dan kementerian untuk kesepakatan pengelolaan danau berkelanjutan. Sejumlah target sudah dibuat dan rencana pengelolaan berkelanjutan disusun untuk dibahas pada pertemuan di Bali pada Agustus 2009 mendatang. Untuk mendanai program tersebut butuh dana besar. Untuk itu, KNLH akan mengajak semua departemen dan kementerian yang terlibat pengelolaan untuk turun tangan.


Berbagai kasus kerusakan danau di Indonesia

Berikut adalah beberapa contoh danau-danau terkenal yang terdapat di Indonesia yang mengalami kerusakan, danau-danau tersebut antara lain: Danau Laut Tawar (Nanggroe Acer Darussalam), Danau Singkarak dan Danau Maninjau (Sumatera Barat), Danau Toba (Sumatra Utara), Danau Tempe(Sulawesi Selatan), Danau Limboto (Sulawesi Utara) dan sebagainya.







Danau Laut Tawar

Debit air Danau Laut Tawar di Aceh Tengah, terus menyusut. Penyebabnya; hutan gundul dan pemanasan global. Takengon memang tak sedingin dulu lagi.
Berkunjung ke Kabupaten Aceh Tengah, sepertinya belum lengkap kalau tidak bertamasya ke Danau Laut Tawar. Selain pemandangan yang indah, danau ini juga punya banyak legenda rakyat. Danau ini terbentuk akibat letusan gunung berapi purba. Terletak di sebelah timur Kota Takengon, di dataran tinggi Gayo, 1.250 meter di atas permukaan laut. Danau terluas di Aceh.

Sangat memprihatinkan danau yang indah ini di ambang kehancuran. Airnya terancam kering. Tiap tahun terjadi penyusutan volume airnya. Dalam masa lima tahun terakhir, airnya sudah surut dua meter. Kepedulian warga sekitarnya juga kurang. Danau kebanggaan orang Gayo ini, kini seperti seorang gadis cantik yang dirundung duka, ditinggalkan kekasihnya. Kekeringan danau tinggal menunggu waktu.

Secara fisik, dari hasil penelitian Ir. M. Saleh M.si yang terangkum dalam buku ekosistim danau Laut Tawar tahun 2000, danau ini mempunyai luas 5,472 hektar, panjangnya 17 kilometer. Sedangkan lebarnya 3,219 kilometer. Diperkirakan volume airnya berjumlah 2,5 triliun liter.

Di sekitar danau saat ini dilengkapi prasarana jalan, yang merupakan jalan provinsi, panjang jalan utara 18 km, panjang jalan selatan 24 km. Jumlah aliran air yang masuk ke danau ini sebanyak 25 sumber aliran, terdiri dari sungai, alur, aliran dengan debit total 10.043, liter/detik. Sementara air yang keluar, hanya satu melalui sungai Krueng Peusangan dengan debit 5.664 liter/detik. Jumlah aliran air tersebut sebenarnya sudah berkurang sejak tahun terakhir. Kalau pun masih ada yang tersisa, airnya sudah sedikit. Danau ini punya kedalaman rata-rata untuk jarak 35 meter dan 8,9 meter untuk 100 meter. Dari pinggir kedalamannya rata-rata 19,27 meter, untuk jarak dari pinggir 1.620 meter danau ini memiliki kedalaman 51,13 meter. Untuk suhu danau, 21 hingga 70 derajat celcius, mulai tempat paling dangkal hingga tempat paling dalam.

“Dulu ketika saya masih berumur 15 tahun, sering mandi di jembatan, saya dan kawan-kawan sering melompat dari jembatan ke sungai, saat itu airnya masih dalam,” ujar Isranudin Harun, salah seorang pekerja LSM Tajuk, sebuah LSM Lingkungan di Takengon. Jembatan yang dimaksud adalah jembatan di Kampong Bale, Kecamatan Laut Tawar. Sebuah desa di pinggiran Kota Takengon, persis di pinggir danau. Jembatan penyeberangan yang melintasi sungai Peusangan.

Saat ini di sepanjang sisi sungai, dipenuhi dengan keramba penduduk setempat. Kebanyakan tidak beraturan. Saling berdesakan. Hanya menyisakan sedikit ruangan di tengahnya. Keramba-keramba ini juga berdesakan dengan WC umum, tempat cuci pakaian dan tempat mandi. Di tambah lagi tempat pembuangan limbah pasar daging dan ikan.

“Sekarang, kalau kita bisa melewati sungai tidak perlu takut tenggalam, bahkan di sisi sungai sering digunakan untuk tempat main volley pantai,” ujar Harun. Harun adalah anak danau, ia kelahiran Desa Toweren, Kecamatan Laut Tawar. Sebuah desa yang persis berada di pinggir laut tawar. Dia mengaku punya ikatan batin dengan danau yang penuh dengan cerita rakyat ini. Bersama teman-temannya, ia membentuk lembaga swadaya masyarakat (LSM) lingkungan, Maret 2008 lalu.

Sumber air bersih kedua kabupaten itu juga berasal dari air danau laut tawar, persawahan di sepanjang jalur sungai Peusangan di tiga kecamatan irigasinya juga bergantung pada air danau ini,” ungkap Harun.

Potensi lain dari Danau Laut Tawar adalah, hadirnya ikan Depik, ikan khas Aceh Tengah. Konon ikan ini hanya ada di Danau Laut Tawar. Ikan ini mirip ikan teri. Ikan ini punya musim. Biasanya ikan ini muncul antara bulan April sampai Agustus. Disebut Depik karena pada bulan tersebut terjadi angin kencang. Musim angin ini disebut musim angin Depik. Sebelum musim tiba, gerombolan Depik bersembunyi di selatan danau, di kaki Gunung Bur Kelieten. Gunung tertinggi di sekitar Laut Tawar. Cara menangkap ikan ini juga cukup unik, dibuat semacam bendungan dari batu dilengkapi dengan alat khas bernama bubu. Ikan ini dijual dalam takaran bambu, bukan kilo.

Di Danau Laut Tawar terdapat 22 jenis ikan yang terdiri dari 15 jenis ikan setempat (ikan Natif) dan 7 jenis diintroduksi dari daerah lain. Di sekitar danau juga hidup beragam fauna, serangga yang dijumpai di sekitar danau berjumlah 49 jenis dengan tingkat kepadatan antara 1-200 individu/meter.

Jumlah ikan di danau juga mulai berkurang. ”Menangkap ikan di danau sekarang tidak seperti dulu, kalau dulu banyak dapat ikan, tapi sekarang susah dapatnya, harus benar-benar sabar,” papar Udin, nelayan asal kampung Bale, Kecamatan Laut Tawar.

Dinas Petenakan dan Perikanan Aceh Tengah mengaku, telah melakukan restocking, yaitu penyebaran benih sekitar 60.000 dari berbagai jenis ikan. Selain itu, melakukan sosialisasi alat tangkap. ”Tapi hasilnya masih saja ada nelayan yang menangkap ikan dengan menggunakan alat-alat tangkap yang terlarang,” ujar Ir. Zulkifli, Kepala Bidang Perikanan Aceh Tengah.

Di sekitar danau, kini banyak hutan yang gundul. Banyak terjadi perambahan yang dilakukan oleh masyarakat setempat untuk membuat perkebunan. Penebangan liar juga terus terjadi. Meski tidak sebanyak ketika konflik dulu. Jika kita berkeliling, akan dijumpai gunung yang tandus di sepanjang gugusan Bukit Barisan. Sebagian besar tampak bekas-bekas kebun yang ditinggalkan. Kayu, yang tumbang juga banyak. Sebagian tempat, terlihat bekas-bekas kebakaran hutan. Yang tersisa hanya pemandangan bebatuan terjal dan batang-batang pohon yang hangus.

Menurut data Dinas Kehutanan, luas lahan kritis di kawasan itu 8.842 hektar, terdiri dari 6.450 hektar dalam kawasan hutan, dan 4.400 hektar di luar kawasan hutan. Menurut para ahli, untuk menjaga kelestarian danau Laut Tawar, idealnya dibutuhkan 25 ribu hektar luas hutan sebagai daerah kawasan tangkapan air.

Di sekitar danau saat ini hanya terdapat 74,57 pohon per hektar, idealnya 201 pohon perhektar. ”Kita telah siagakan 30 petugas polisi hutan, di tempat kecamatan di sekitar danau. Kita juga siagakan 24 penjaga api,” ujar Ir. Sahrial, Kepala Dinas Kehutanan Aceh Tengah. Untuk penghijauan di sekitar danau telah diprogramkan tahun 2007 dan 2008. Dananya delapan miliar yang berasal dari dana pusat. Pohon yang ditanam adalah pinus, mahoni, alpukat dan kayu manis.

Dinas Kehutanan Aceh Tengah, telah melakukan sosialisasi untuk penjagaan hutan di sekitar danau kepada masyarakat setempat, agar tidak merambah dan membakar kawasan hutan, melalui berbagai cara termasuk melalui radio. ”Tapi hasilnya belum maksimal,” kata Sahrial.

Di sekitar danau, terdapat 20 kampung, di empat wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Bintang, Kebayakan, Bebesan dan Kecamatan Laut Tawar. Warga setempat mayoritas petani dan nelayan.

“Penyusutan air memang terjadi, tapi itu adalah hal yang wajar saya kira. Dan hal itu tidak bisa dihindari,“ ujar Ir, Nugersyah, Kepala Kantor Lingkungan Aceh Tengah. Ia mengatakan, dari hasil penelitian Kantor Lingkungan Hidup, air danau Laut Tawar masih layak di minum. Kadar logamnya masih di ambang batas. Masih bisa dikonsumsi. Nugersyah membantah, kalau kondisi danau makin hari makin rusak. Ia berdalih itu adalah tuntutan jaman yang tidak bisa dihindari. Meski ia mengaku tidak mempunyai data yang akurat.

“Sekarang masalahnya, belum ada sebuah lembaga yang fokus mengelola danau,“ Nuger beralasan. Kata dia. “Kita sudah mewacanakan ke arah itu, tapi kita belum mulai,“ ujar Ir. Nasaruddin MM, Bupati Aceh Tengah. Salah satunya, kata Nasaruddin adalah Pemda Aceh Tengah akan membuat kerja sama dengan pihak pembangun mega proyek PLTA Peusangan. Mega proyek yang sempat terhenti karena konflik dan akan diteruskan pembangunan itu, sumber tenaganya adalah arus sungai Peusangan yang airnya berasal dari Danau Laut Tawar. Proyek ini terletak di Angkup, Kecamatan Silih Nara.

”Saat ini, penelitian tentang danau, belum ada yang lengkap dan detil. Padahal keberadaan danau ini sangat penting di Aceh,” ujar Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin. Dia mengatakan, kerusakan danau ini akan membawa pengaruh ke daerah kabupaten di sekeliling Aceh Tengah. Hal itu karena Aceh Tengah adalah daerah dataran tinggi. Selain punya potensi wisata, ternyata, danau ini juga punya potensi pertambangan. Potensi pertambangan yang belum dieksplorasi adalah Lempung (12,87 juta ton), Batu Gamping (60 juta ton), Marmer (7.800 juta ton), fosfat dan lain-lain.

”Sudah ada investor yang berminat,” ujar Nasaruddin. Dia optimis kalau masuknya investor tidak akan merusak lingkungan di sekitar danau. ”Kita akan memberikan penekanan pada mereka untuk menjaga lingkungan di sekitar danau,” tambahnya yakin. Entah bagaimana kenyataannya nantinya.


Danau Singkarak


Pemerintah Provinsi Sumatera Barat didesak segera mengatasi kerusakan daerah aliran sungai di Danau Singkarak. Pakar lingkungan dari Pusat Studi Lingkungan Hidup Universitas Bung Hatta, Padang Dahnil Aswad mengatakan, DAS yang bermuara ke Danau Singkarak sudah rusak sejak 1990-an. Karena itu diperlukan penghijauan yang lebih banyak.


Dahnil menambahkan, dana penghijauan bisa diambilkan dari pajak air permukaan yang dipungut Pemerintah Provinsi Sumbar kepada PLN, yang memanfaatkan air Danau Singkarak untuk kepentingan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air.

Kerusakan ini, menurut Dahlan disebabkan aktivitas permukiman, perladangan, dan pembalakan liar.

Sementara itu Kepala Bidang Peningkatan Kapasitas dan Informasi Lingkungan, Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Provinsi Sumbar Siti Aisyah mengatakan, kerusakan DAS ini telah mempengaruhi kondisi tinggi muka air bagi operasional PLTA Singkarak.

Menurut Siti Aisyah, luasnya lahan kritis pada DAS di Sumbar disebabkan kebijakan pengembangan wilayah yang lebih didasarkan pada pertimbangan ekonomi.


Danau Maninjau

Luas wilayah Maninjau diperkirakan 284 km persegi, terdiri dari daratan seluas 148,5 km persegi, perairan seluas 99,5 km persegi dan daerah resapan api berkisar 2-5 km. Dilihat dari puncak bukit, jalan raya yang melingkari Danau Maninjau kira-kira 47 km. Topografi Danau Maninjau dengan ketinggian kawasan berkisar 1.362-1.626 mdpl. Menurut Schemit dan Ferguson kawasan ini memilki iklim type A dengan rata-rata curah hujan tiap tahun adalah 2.000 mm/tahun.jenis tanah yang terdapat dalam kawasan ini adlah 45% andossol, 40% latosol, 5% alivial. Danau Maninjau menyerupai kuali besar yang berisi air, di sekelilingnya terdapat perbukitan berlereng yang di tumbuhi pohon-pohan besar yang menjadi kawasan penyangga dan cachmen area (daerah tangkapan air) Danau Maninjau.


Kawasan pantai secara alami diperuntukkan sebagai daerah resapan air. Namun pantai di dam dengan beton untuk mendirikan bangunan hotel, rumah, penginapan dan bangunan lainnya sehingga daerah resapan tersebut semakin berkurang. Disadari atau tidak pembangunan PLTA, hotel, rumah, penginapan dan bangunan lainnya yang melewati garis pantai sebagai daerah resapan air telah merubah bentuk ekosistem danau itu sendiri, jika hal ini dibiarkan saja tanpa ada upaya pencegahan maka kerusakan danau akan semakin parah, contoh sederhana ombak air danau pada sore hari menghempas ke pinggir pantai sekarang dihalangi oleh tembok bangunan (dam) sehingga siklus air tidak berjalan secara alami, jelas saja goncangan ombak akan besar didasar danau dan hal ini akan mengguncang dasar danau yang berlumpur akibatnya air danau akan cepat keruhnya.

Sangat disayangkan perlakuan ramah terhadap danau Maninjau belum sepenuhnya dilakukan bahkan kecendrungan mengabaikan tradisi lokal atau kearifan sosial yang selama ini ramah terhadap lingkungan, semakin tinggi pengetahuan dan penerapan teknologi yan didapati tidak sebanding dengan upaya pelestarian lingkungan hidup yang dijadikan sebagai sumber kehidupan ini. Siapa yang punya uang, siapa yang punya kekuasaan dan pengaruh dapat saja memperlakukan danau seenak perutnya (semaunya saja) tidak terlebih pemerintah, pengusaha, tokoh masyarakat dan rakyat biasa memperlakukan danau secara tidak adil.

Ada tiga kawasan yang perlu untuk diaudit, pertama kawasan pantai selingkar danau yang dibentoni sebut saja seperti PLTA, hotel, penginapan dan berbagai rumah penduduk. Kedua kawasan hutan yang rawan terjadi longsor/galodo. Ketiga kawasan pantai yang banyak terdapat jala apung/karamba.
Untuk mengurangi kerusakan lingkungan yang terjadi di Maninjau, menurut saya ada beberapoa tawan yang perlu dilakukan masyarakt selingkar Danau Maninjau. Setelah kembalinya pemerintahan terentah di Sumatera Barat dari desa ke nagari, akan membuka peluang bagi warga nagari membangun suatu model pengelolaan sumber daya alam Maninjau berbasis pada kearifan lokal atau nagari, dengan tradisi musyarwah dan mufakat para pihak berkepentingan nagari duduk bersama untuk memikirkan kearifan nagari dalam pengelolan sumber daya alam yang tersisa. Setelah terbangunnya model perlu didukung oleh kebijakan nagari yang mengatur segala urusan pengelolaan SDA nagari. Pihak BPRN dan Wali Nagari didukung oleh partisipasi penuh dari niniak-mamak, alim-ulana, cerdik-pandai, budo kanduang dan paga nagari beserta seluruh warga nagari, akan duduk bersama untuk membangun kebijakan yang berpihak pada pelestarian lingkungan dan keberlanjutan keberadaan lingkungan nagari. Perlunya kelembangan struktural yang kuat untuk menopang, menjalankan dan mengawasi tradisi PSDA berbasiskan nagari, disamping kelembangaan itu juga akan dibutuhkan kedepan untuk mengantisipasi dan menyelesaikan persoalan selingkar Danau Maninjau.



Danau Toba

Kerusakan ekosistem kawasan daerah tujuan objek wisata Danau Toba, Sumatera Utara, semakin sulit dikendalikan akibat aktifitas ekonomi masyarakat setempat dan perusahaan asing yang beroperasi sejak tahun 1990-an. “Aktifitas masyarakat setempat dalam pemanfaatan kawasan danau untuk kehidupan sehari-hari telah berlangsung lama dan semakin sulit untuk dikendalikan,” kata Kepala Bidang Bina Teknologi Lingkungan Badan Pengendalian dan Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda) Sumut, Rosdiana Simarmata.

Menurut dia, berdasarkan hasil survei pihaknya pada pertengahan Desember 2007 terdapat 87 persen penduduk di sekitar danau menggunakann air danau sebagai air baku untuk air minum dan kegiatan sehari-hari seperti mencuci dan mandi.

Kemudian air danau digunakan untuk budidaya ikan dengan menggunakan keramba jaring apung (KJA) yang berjumlah 5.612 unit pada 56 lokasi dan 51 lokasi diantaranya milik masyarakat sedangkan sisanyna lima lokasi milik perusahaan asing asal Belanda PT Aqua Farm. “Sisa-sisa pakan ikan budi daya keramba itu mengakibatkan tumbuhan gulma enceng gondok, kemudian lumut laut subur dan menutupi area Danau Toba dan mengurangi keindahan kawasan wisata alam itu,” katanya.

Kondisi itu mengakibatkan tanaman enceng gondok dan bunga teratai tumbuh di 94 lokasi dan menutupi permukaan Danau Toba seperti di daerah Tigaraja dengan ketebalan tumbuhan setinggi 20 meter.

Selain itu terdapat juga kegiatan penambangan ilegal di sejumlah lereng dan tebing danau oleh masyarakat seperti penambangan di daerah Horsik dan Panamean. Akibatnya danau yang terbentuk dari letusan gunung berapi yang memiliki luas 1.103 kilometer persegi ini dan disebut-sebut merupakan salah satu danau terindah di dunia itu, mengalami degradasi estetika.

Padahal pemerintah Gubernur Sumatera Utara saat dijabat oleh T Rizal Nurdin pada tahun 2004 telah membentuk suatu badan otoritas Lake Toba Ecosystem Management Plan (LTEMP) yang bertujuan untuk memulihkan dan menjaga ekosistem Danau Toba bersama sembilan pemerintah kabupaten/kota terkait yakni Tapanuli Utara, Humbang Hasudutan, Toba Samosir, Samosir, Simalungun, Karo, Dairi, Asahan dan Tanjung Balai. “Namun peran dari badan otoritas itu memang belum maksimal karena belum adanya pemahaman yang sama dalam pengembangan Danau Toba untuk objek wisata, padahal salah satu even untuk mendatang turis akan digelar di daerah itu pada tahun ini” ujarnya.

Sebelumnya Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumut, Iman Pandia, mengatakan, dari 100 even Visit Indonesia Year (VIY) 2008 salah satunya akan digelar di Danau Toba pada tahun ini. Sumut kebagian dua even VIY 2008 yakni Pesta Danau Toba pada bulan Juni dan Pesta Mejuah-juah dan Bunga di Berastagi, Kabupaten Karo pada bulan September, katanya.



Danau Tempe

Pendangkalan Danau Tempe yang setiap tahunnya menimbulkan bencana banjir bagi ratusan warga Kabupaten Sidrap dan Wajo, Sulawesi Selatan, tidak eratasi jika hanya bertumpu pada proyek fisik semata. Jauh lebih penting adalah melibatkan masyarakat dari hulu sampai ke hilir pada tiga sungai yang terakses ke danau tersebut, yakni Sungai Cenranae, Sungai Bila, dan Sungai Walanae.

Hutan di kawasan hulu Danau Tempe mengalami kerusakan seluas 308,9 ribu hektare dari luas total 830,4 ribu hektare. Kerusakan tersebut memperkecil daerah resapan sehingga memperbesar aliran permukaan (Media Indonesia) juga ketika terjadi erosi maka Danau Tempe akan menjadi tempat endapan tanah/pasir yang terbawa arus air, dan ini menjadikan Danau Tempe mengalami sedimentasi.

Menurut hasil penelitian Japan International Cooperation Agency(JICA) pada tahun 1993, pendangkalan berkisar 15 hingga 20 cm per tahun dimana angka itu cenderung meningkat. Jika ini terus menerus terjadi diperkirakan 15-20 tahun mendatang danau ini akan menjadi daratan dan daerah pesisir danau yang harus rela menampung kiriman air dari daerah hulu. Sedangkan untuk keluarnya air dari danau tersebut hanya ada satu sungai, yaitu sungai Cenranae yang bermuara ke teluk Bone. Keadaan sungai cenranae pun sama saja sedang dalam kondisi kritis. Penyempitan yang mulai terjadi juga menjadi salah satu penghambat keluarnya air ke teluk bone. Bisa dikatakan Danau Tempe merupakan saringan partikel-partikel sisa banjir dari enam kabupaten lainnya sebelum mencapai laut.

Ketika terjadi kerusakan pada alam maka manusialah yang paling bertanggung jawab. Karena peranan tingkah laku manusia bisa menjadi titik sentral dalam hubungan manusia dengan lingkungan(Sarlito,1995). Untuk mencegah semakin parahnya kerusakan Danau Tempe langkah awal yang perlu dilakukan adalah memperbaiki keadaan di Hulu baik itu dengan menghentikan penggundulan hutan dan mengadakan peremajaan hutan atau reboisasi , sehingga terjadinya erosi dapat diminimalisir. Adapun rencana pengerukan danau Tempe tak akan mempunyai arti ketika masyarakat tidak punya kesadaran untuk menjaga terjadinya kerusakan hutan. Masalah Danau Tempe bukan hanya masalah masyarakat Wajo tapi tanggung jawab kita bersama .



Danau Limboto


Badan Lingkungan Hidup Riset dan Teknologi (Balihristi) Provinsi Gorontalo menganalisis, laju pendangkalan danau 38,8 sentimeter per tahun. Kedalaman air menyusut dari rata-rata 30 meter pada 1932 menjadi 10 meter pada 1961 dan 2-2,5 meter pada 2008. Luas danau pun menyempit dari kisaran 7.000 hektar (1932) menjadi 2.537 hektar pada 2008. Jika laju sedimentasi tidak dikendalikan, Danau Limboto akan kering dan menjadi daratan pada 2025.

Saat ini air Danau Limboto keruh bercampur material hasil erosi daerah hulu 23 sungai yang bermuara ke danau. Tim peneliti Badan Kerja Sama Internasional Jepang (JICA) tahun 2002-2004 mencatat, sedimen yang masuk ke Limboto sebanyak 1 juta-2 juta meter kubik per tahun.

Setiap musim hujan, rumah-rumah digenangi air hingga dua bulan. Penghuninya mengungsi dan kembali lagi setelah air surut. Banjir menjadi ritual tahunan, tetapi masyarakat tidak jera bermukim di tubuh danau. Jumlahnya justru semakin bertambah. Sampai tahun 2008 ada 1.272 hektar lahan danau yang berubah menjadi permukiman, 329 hektar dijadikan ladang, dan 637 hektar untuk sawah.

Pendangkalan danau terjadi karena tingginya sedimentasi akibat pembalakan liar di hulu, daerah aliran sungai yang rusak ikut mempercepat proses sedimentasi. Alhasil, jika musim kemarau datang, kedalaman danau hanya 1,5 meter saja. Kemudian di sisi lain, penyempitan atau penyusutan luas danau terjadi karena berjamurnya pemukiman warga di pinggir danau dan juga keramba-keramba ikan yang sudah ditinggalkan warga. Yang mengagetkan ialah penguasaan lahan di tepi danau tersebut mendapat legalitas dari pemerintah pada tahun 1995 dengan membagikan sertifikat gratis.

Dengan adanya pendangkalan dan penyempitan danau jelas terlihat bahwa kondisi ini sudah tidak normal dan perlu perbaikan. Tentunya tidak kecil biaya yang diperlukan untuk menata ulang Danau Limboto. Namun jika danau itu hilang, mungkin akan jauh lebih besar lagi biaya yang dikeluarkan untuk membiayai penyediaan air tanah bagi warga. Matinya danau akan membawa dampak buruk karena cadangan air tanah juga ikut mati.

Sebenarnya kerusakan Danau Limboto tidak lain disebabkan aktivitas warga yang kurang memperhatikan lingkungan. Kekayaan alam Indonesia yang memanjakan tidak dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Saat semua sudah tidak lagi baik keadaannya, barulah masyarakat menyesal dan sadar akan perbuatan yang keliru selama ini.



No comments: