Wednesday, November 11, 2009

Makalah

Kata Pengantar

Puji syukur saya ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karena dengan rahmat dan karunia-Nya saya masih diberi kesempatan untuk menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa saya ucapkan kepada dosen pembimbing dan teman-teman yang telah memberikan dukungan dalam menyelesaikan makalah ini.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Batuan Metamorf terutama tentang agen-agen metamorf, facies metamorf, serta mineral-mineral yang menyusun batuan metamorf.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih banyak kekurangan, oleh sebab itu penulis angat mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Dan semoga sengan selesainya makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Makassar, 9 November 2009

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar………………………………………………………..……………

1

Daftar Isi……………………………………………………………..…………….

2

BAB I

PENDAHULUAN………………………………………….………….

3

A. Latar Belakang…………………………………………..….………

3

B. Tujuan………………………………………………………..…………

3

BAB II

PEMBAHASAN……………………………………...……...……………………………….

4

A. Agen-agen Metamorfisme……………………………………………

4

B. Facies Metamorf…………………………….……….…………………………………

5

C. Jenis-jenis Metamorfisme………………………………….……….

8

D. Jenis-jenis Mineral Penyusun Batuan Metamorf……..…………….

9

BAB III

PENUTUP……………………………………………………………..

11

A. Kesimpulan…………………………………………………………

11

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………..…………………

12

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Batuan Metamorf adalah batuan yang terbentuk dari proses metamorfisme, dimana terjadi perubahan atau altereasi; physical (struktur, tekstur) dan chemical dari suatu batuan pada temperatur dan tekanan tinggi di dalam kerak bumi.

Proses metamorfisme adalah perubahan batuan yang sudah ada menjadi batuan metamorf karena perubahan tekanan dan temperature yang besar. Batuan metamorf dapat berasal dari batuan beku, batuan sedimen , maupun batuan metamorf yang sudah ada. Kata metamorf sendiri artinya adalah perubahan bentuk. Media atau agen yang menyebabkan terjadinya proses metamorfisme adalah panas, tekanan, dan cairan kimia aktif. Sedangkan perubahan yang terjadi pada batuannya adalah sifat fisik dan komposisi mineral.

Kadangkala proses metamorfisme tidak berlangsung sempurna, sehingga batuan asal tidak mengalami perubahan sempurna, perubahannya tidak terlalu besar, hanya kenampakannya saja yang berubah. Kondisi ini dapat dikenal dengan masih terlihat sifat fisik batuan asal. Batuan demikian diberikan nama meta pada batuan asalnya, misalnya meta sedimen bila batuan asalnya adalah sediment. Proses metamorfisme yang sempurna menyebabkan karateristik batuan asal tidak terlihat lagi. Pada kondisi perubahan yang sangat ekstrim, peningkatan temperatur dapat mendekati atau bahkan mencapai titik lebur batuan asal, padahal perubahan batuan selama proses metamorfisme harus tetap dalam keadaan padat. Apabila peningkatan temperatur sampai meleburkan batuan, maka proses tersebut sudah tidak termasuk proses metamorfisme lagitetapi menjadi proses magmatisme.

Proses metamorfisme terjadi apabila kondisi lingkungan batuan mengalami perubahan yang tidak sama dengan kondisi pada waktu batuan tersebut terbentuk, sehingga batuan menjadi tidak stabil. Untuk mendapatkan kestabilannya kembali pada kondisi yang baru, maka batuan mengalami perubahan. Perubahan tersebut terjadi pada kondisi tekanan dan temperatur yang beberapa kilometer di bawah permukaan bumi. Proses metamorfisme tersebut terbagi menjadi tiga macam yakni metamorfisme kontak, dinamik dan regional

B. Tujuan

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini sebagian besarnya ialah untuk memperluas pengetahuan akan Batuan Metamorf serta bagian-bagian yang terdapat di dalamnya seperti agen-agen metamorf, facies metamorf, serta mineral-mineral yang menyusun batuan metamorf.

BAB II

PEMBAHASAN

A. Agen-agen Metamorfisme

Agen atau media yang menyebabkan terjadinya proses metamorfisme adalah panas, tekanan, dan cairan kimia aktif.

Panas sebagai agen metamorfisme

Panas merupakan agen metamorfisme yang sangat penting. Batuan yang terbentuk dekat permukaan bumi akan mengalami perubahan kalau mengalami pemanasan yang tinggi pada waktu diterobos oleh magma. Apabila panas magma tidak terlalu tinggi, proses metamorfisme tidak terjadi. Pada keadaan yang demikian hanya akan terjadi proses pembakaran pada batuan yang diterobos yang disebut baking effect.

Seperti diketahui bahwa tempratur akan meningkat dengan meningkatnya kedalaman (gradient geothermal). Pada kerak bumi bagian atas rata-rata kenaikan temperatur sekitar 30oC per kilometer. Batuan dekat permukaan bumi juga dapat mengalami pemindahan tempat ke tempat yang lebih dalam. Proses ini terjadi pada pertemuan lempeng-lempeng tektonik yang konvergen, yaitu pada zona subduksi.

Proses perubahan mineral juga terjadi pada mineral penyusun batuan, yang kestabilannya berubah karena perubah kedalaman. Contohnya, mineral lempung menjadi tidak stabil pada kedalaman hanya beberapa kilometer, dan akan mengalami rekristalisasi menjadi mineral yang lebih stabil pada kondisi lingkungannya yang baru. Mineral lain yang umumnya dijumpai pada batuan kristalin dan stabil pada kondisi temperatur dan tekanan yang lebih tinggi, akan mengalami proses metamorfisme pada kedalaman sekitar 30 kilometer.

Tekanan sebagai agen metamorfisme

Tekanan seperti halnya temperatur akan meningkat dengan meningkatnya kedalaman. Tekanan ini, seperti tekanan gas, akan sama besarnya ke segala arah. Tekanan yang terdapat di dalam bumi ini merupakan tekanan tambahan dari tekanan pada batuan oleh pembebanan batuan di atasnya. Pada keadaan ini batuan akan mengalami penekanan yang berarah, dan pemerasan. Batuan pada tempat yang dalam akan menjadi plastis pada waktu mengalami deformasi. Sebaliknya pada tempat yang dekat dengan bumi, batuan akan mengalami keretakan pada waktu mengalami deformasi. Hasilnya batuan yang bersifat rapuh akan hancur dan menjadi material yang lebih halus.

Cairan kimia aktif sebagai agen metamorfisme

Larutan kimia aktif, umumnya adalah air yang mengandung ion-ion terlarut, juga dapat menyebabkan terjadinya proses metamorfisme. Perubahanmineral yang dilakukan oleh air yang kaya mineral dan panas, telah banyak dipelajari di beberapa daerah gunung berapi. Di sepanjang pematang pegunungan lantai dasar samudera, sirkulasi air laut pada batuan masih panas mengubah mineral pada batuan beku basalt yang berwarna gelap menjadi mineral-mineral metamorf seperti serpentin dan talk.

B. Facies Metamorf

Berikut ialah beberapa facies dari metamorf antara lain :

Eclogite

Eclogite fasies hasil dari suhu tinggi (> 400-1.000 ° C) dan tekanan sangat tinggi (1,2 GPa) kondisi yang diperlukan untuk bermetamorfosis basaltik batu ke eclogite assemblage, yang mencakup garnet (almandine-Pyrope) ditambah clinopyroxene (omphacite). Tekanan yang sangat tinggi, menengah dan suhu tinggi Fransiskan metamorphismmencerminkan pemakaman pada kedalaman 45 km kedalaman. Karena eclogites formulir di kedalaman, mereka mineral yang stabil pada tekanan yang lebih besar daripada yang khas kerak bumi. Batu penampilan mengejutkan karena merah ke pink garnet (almandine-Pyrope) menetapkan terhadap matriks hijau kaya natrium-pyroxenes (omphacite).

Karena eclogite adalah batu yang sangat padat, dapat memainkan peran penting alam mengarahkan konveksi. Mineral metamorf aksesori termasuk kyanite, Rutile, kuarsa, lawsonite,coesite,amphiboles, phengite, paragonite, zoisite, dolomit,korundum, dan, jarang, berlian. Feldspars tidak stabil di eclogites, dan glaucophane dan titanite (sphene) baik bentuk selama penggalian sebagai tekanan terhadap penurunan batu, atau mereka mungkin membentuk sebelumnya mineral yang belum sepenuhnya bereaksi menjauh. Eclogites berisi hydrous aluminium kalsium silikat, lawsonite sangat jarang terkena pada permukaan bumi, meskipun mereka diperkirakan eksperimen bentuk normal selama subduksi dari kerak samudra pada kedalaman antara ~ 45-300 kilometer.

Granulite

Granulites kualitas terbaik dari batuan metamorf kontak dengan tekstur granuloblastic, meskipun istilah telah diterapkan untuk Muscovite biotite granit.

Granulites mirip dengan gneisses, yang terdiri dari mineral serupa. Namun, granulites yang lebih halus-halus, biasanya memiliki kurang sempurna foliation, berisi lebih garnet, dan memiliki struktur mikroskopis yang berbeda (kecil, bulat butir membentuk mosaik erat-pas).

Komponen mineral granulites tergantung pada komposisi dari batuan induk (protolith) dan suhu dan tekanan alami selama metamorphism. Common granulites bermutu tinggi mengandung plagioclase feldspar, pyroxenes (yang koeksistensi dan clino-orthopyroxene dalam mendefinisikan basal bermetamorfosis granulite fasies). Mungkin juga mengandung Granulites aksesori garnet, oksida, dan amphiboles.

Amphibolites

Amphibolites adalah batuan metamorf (amphibolite fasies) kebanyakan terdiri dari prograde hornblende amphiboles dengan beberapa (Na / Ca) plagioclase feldspars dan sedikit atau tidak ada kuarsa. Amphibolites biasanya berwarna gelap, seringkali garam-dan-lada, dengan lemah foliated atau schistose tekstur. Bidang hubungan amphibolites sering termasuk interfingering dengan sedimen lain, terutama greywackesdan disortir buruk sedimen. Kondisi-kondisi untuk fasies termasuk amphibolite melebihi suhu 500 ° C dan tekanan yang melebihi 1.2GPa, batu-batuan di dekatnya sehingga dapat mencakup gneissic tekstur, mylonite zona,foliations dan ulet perilaku, termasuk peregangan lineations. Hal ini umum adalah untuk menemukan phenocrysts dari pyroxene, olivin, plagioclase dan bahkan magmatik amphibole sepertipargasite rhombohedra, pseudomorphed oleh hornblende amphibole.

Biasanya mengumpul, holocrystalline plutonik batuan terutama terdiri dari hornblende amphibole ini disebut hornblendites. Porphyritic batuan yang terdiri dari> 90% amphiboledalam feldspar groundmass dapat lamprophyres. Basalt-basalt bermetamorfosis menghasilkan orto-amphibolites dan kimia lain yang sesuai lithologies menghasilkanpara-amphibolites. Tremolites adalah amphiboles metamorf biasanya berasal dari batu-batu ultramafic sangat bermetamorfosis, jadi tremolite-bedak schists umumnya tidak dianggap sebagai 'amphibolites'. Uralites adalah hydrothermally berubah pyroxenites.

Blueschist

Blueschists muncul biru, hitam, abu-abu, atau biru-hijau dalam singkapan, dan perkiraanbasaltik komposisi unsur. Ketika biru, batu-batuan ini berwarna oleh natrium-bantalan biruamphiboles glaucophane atau crossite daripada dengan kalsium-bantalan hijau atau hitam amphiboles actinolite atau hornblende, yang berkembang di lebih umum dijumpaifasies greenschist atau amphibolite fasies metamorphism. Glaucophane adalah biru-biru , lavender-biru atau hitam kebiruan mineral. Felsic batu dan pelitic sedimen fasies mengalamikondisi blueschist bentuk mineral yang berbeda daripada assemblages bermetamorfosis basal.

The basal blueschist berbasis fasies didefinisikan oleh kehadiran mineral glaucophane (lawsonite atau epidote) ,jadeite , albite atau chlorites , garnet , Muscovite. Dalam basal berbasis blueschists, lawsonite muncul sebagai tabel putih kristal; jadeite + kuarsa menunjukkan tekanan dari 10 kbar atau lebih.

Batu Ultramafic dikenai blueschist metamorphism mengandung mineral serpentine,lizardite , zoisite. Pelites menghasilkan kyanite , zoisite , pargasite atau phengite , albite , kuarsa ,garnet.

Granit menghasilkan kyanite , paragonite , -chlorites , albite , kuarsa , pargasite atau phengite.

Blueschists terranes biasanya ditemukan di dalam ikat pinggang orogenic muda menyalahkan kontak dengan batu dari temperatur yang lebih tinggi greenschist fasies (jarang eclogite fasies). Biasanya bebatuan sedimen bermetamorfosis kelautan dan kelautan basaltik kerak. Blueschists dan tekanan tinggi lain batu zona subduksi mungkin digali dengan cepat (dan karena itu dipelihara) oleh aliran dan / atau faulting di accretionary wedges atau bagian atas subducted kerak. Mereka mungkin juga akan digali sebagian karena daya apung isostatic ketika batuan metabasaltic berkaitan dengan kepadatan rendah kerak benua (marmer, metapelite, dan batu-batu lain benua margin).

Bukti banyak blueschist sabuk mungkin telah hilang karena hydrous mineral metamorphism adalah blueschist fasies overprinted oleh fasies yang dihasilkan dari panas bumi normal gradien. Gradien panas bumi permukaan urutan 30 ° C / km yang umum di kerak benua dan cekungan sedimen tebal, sedangkan kondisi mapan gradien permukaan hanya sekitar 15 hingga 20 ° C / km yang cukup untuk blueschist metamorphism. Overprinting terjadi ketika cairan yang beredar blueschist mengkonversi greenschist dan mineral untukamphibolite mineral fasies assemblages. Dalam reaksi dehidrasi, batuan menjadi lebih padat dan kehilangan volatiles.

Greenschist

Greenschist fasies menentukan suhu rendah / sedang tekanan metamorf pada kondisi operasi waktu asal-usul mereka. Greenschists berasal dari protolithic basal, gabbro, dan batu-batu yang kaya mengandung Na-feldspar plagioclase, chlorites, epidote,dan kuarsa.

Greenschists atau schistose atau greenstones adalah batu berfoliasi oleh kehijauan kloritphyllosilicates, actinolite, dan epidote, dan dapat sangat gelap ketika primer pyroxene tidak kembali ke klorit atau actinolite.

Facies Zeolit

Metamorfosis hasil oleh lempung dehidrasi selama pemadatan, dan dari ketinggian suhu ringan karena terus menyelimuti oleh pengendapan sedimen. Menyebabkan pemadatan foliation sejajar dengan bidang alas tidur batu karena alignment platy mineral lempung dalam orientasi horizontal.

Para fasies zeolit dianggap transisi antara proses-proses perubahan diagenetic yang mengubah sedimen menjadi batuan sedimen, dan prehnite-pumpellyite fasies (subseafloor ciri khas perubahan dari kerak samudra sekitar mid-ocean ridge menyebarkan pusat-pusat).

Para fasies zeolit hasil dari metamorfosis pelitic sedimen kaya aluminium, silika, kalium dan natrium, tetapi biasanya rendah zat besi, magnesium dan kalsium. Mineralis dari seri zeolitzeolit, albite, dan kuarsa, dan kumpulan kuarsa + laumontite + chlorites merupakan diagnostik. Metamorphism fasies zeolit biasanya mengkonversi suhu rendah lempungmineral ke polimorf temperatur yang lebih tinggi seperti kaolinit dan vermikulit.Assemblages mineral juga termasuk montmorillonite dengan laumontite, wairakite, prehnite,chlorites dan klorit. Hasil sedimen kaya kalium phengite dan adularia.

C. Jenis-jenis Metamorfisme

Batuan metamorf umumnya terbentuk pada salah satu dari tiga kondisi lingkungan yaitu di sepanjang zona sesar, pada kontak antara batuan beku dengan batuan sekitarnya, atau pada waktu pembentukan pegunungan.

Adapun jenis-jenis dari metamorfisme tersebut antara lain ialah metamorfisme kontak, metamorfisme dinamik dan metamorfisme regional.

Metamorfisme Kontak

Metamorfisme kontak atau sering juga disebut metamorfisme termal, terjadi pada waktu magma bersentuhan dengan batuan samping yang relatif lebih dingin. Kontak metamorfisme dapat dilihat dengan jelas apabila terjadi pada atau dekat permukaan bumi, dimana perbedaan temperatur antara magma dengan batuan samping sangat besar. Kontak metamorfisme juga terjadi pada tempat yang dalam, sehingga batuan metamorf yang terbentuk hampir sama dengan batuan hasil proses metamorfisme regional.

Pada proses metamorfisme kontak, terbentuk di zona sekitar magma yang disebut aurole. Dekat dengan tubuh magma, terbentuk mineral garnet. Mineral ini hanya terbentuk pada temperatur yang tinggi. Semakin jauh dari tubuh magma akan terbentuk mineral dengan tingkat yang lebih rendah seperti klorit. Kebanyakan batuan yang terbentuk oleh proses metamorfisme kontak berbutir halus, sangat kompak dan berat, serta disusun oleh komposisi mineral yang sangat berfariasi. Karena arah tekanan tidak merupakan faktor yang penting pada permukaan bumi ini, maka batuan yang terbentuk umumnya tidak berfoliasi.

Metamorfisme Dinamik

Pada waktu terjadi pensesaran pada batuan yang menyusun kerak bumi, tekanan yang panas yang terbentuk di sepanjang jalur sesar tersebut akan membentuk batuan lepas yang disusun oleh fragmen-fragmen batuan yang mengalami pensesaran. Apabila batuan tersebut disusun oleh fragmen-fragmen kasar yang bentuknya menyudut, maka batuan tersebut disebut breksi sesar. Sedangkan apabila batuannya disusun oleh material yang berbutir halus disebut milonit. Agen dominan yang bekerja pada proses metamorfisme ini adalah tekanan, sehingga prosesnya disebut proses metamorfisme dinamik.

Metamorfosa kataklastik terjadi pada daerah yang mengalami deformasi intensif, seperti pada patahan. Proses yang terjadi murni karena gaya mekanis yang mengakibatkan penggerusan dan granulasi batuan. Batuan yang dihasilkan bersifat non-foliasi dan dikenal sebagai fault breccia, fault gauge, atau milonit.

Jumlah batuan metamorf yang terbentuk oleh proses ini relatif sangat kecil dibandingkan dengan yang terbentuk oleh proses metamorfisme lainnya. Tetapi pada tempat-tempat tertentu batuan ini sangat dominan.

Metamorfisme Regional

Metamorfosa regional yang meliputi daerah yang sangat luas disebabkan oleh efek tekanan dan panas pada batuan yang terkubur sangat dalam.

Pada metamorfisme regional terjadi pada tempat yang dalam meliputi daerah yang sangat luas dan berasosiasi dengan proses pembentukan gunung. Pada tempat inilah terjadi proses metamorfisme yang kuat.

Karena batuan metamorf yang terbentuk oleh proses metamorfisme regional dipengaruhi juga oleh tekanan yang berarah, maka batuan yang terbentuk berfoliasi yang arah foliasinya sesuai dengan arah tekanannya. Proses metamorfisme regional umumya memperlihatkan perubahan derajat metamorfisme dari derajat yang terendah sampai ketingkat yang lebih tinggi, sehingga perubahan tekstur dan komposisi mineral dapat diamati. Contoh sederhana dari proses metamorfisme yang progresif ini adalah batuan sedimen serpih yang berubah menjadi batusabak pada waktu mengalami proses metamorfisme tingkat rendah. Pada kondisi temperatur dan tekanan tinggi, batusabak akan berubah menjadi sekis mika. Pada kondisi yang sangat ekstrim, mineral mika dalam sekis akan mengalami rekristalisasi menjadi mineral butiran seperti feldsfar dan hornblende sehingga membentuk genes.

D. Jenis-jenis Mineral Penyusun Batuan Metamorf

Mineral-mineral umum yang terdapat dalam batuan metamorf antara lain:

  1. Kwarsa : bentuk agak pipih atau mengkristal tak teratur berwarna agak mengkilap, putih jernih atau putih kehijauan.
  2. Klorit : berwarna hijau, coklat, atau coklat kehitaman,bentuk terpilin atau bengkok, seperti tanah. Kilab viterous, kekerasan 1-2,5.
  3. Feldsfar : Bentuk dan sifatnya sama dengan feldsfar dalam batuan beku atau agak pipih akibat tekanan.
  4. Mika : bentuk lembar-lembar halus, dapat memberikan warna mengkilap. Terdapat banyak pada sekis dan gneis.
  5. Andalusit : prismatik kasar, berwarna pudar, merah jambu sampai violet. Kilab viterous, kekerasan 5-7.
  6. Glaukofan : kristal monoklin, perismatik seperti serat, batang atau butiran, pecahan konkoidal, warna biru abu-abu, biru kehitaman.
  7. Kianit : bentuk kristal triklin, memanjang atau lempeng-lempeng, warna biru laut, kilab viterous, kekerasan 4-7.
  8. Aktinolit : menjarum halus atau serupa serat-serat, warna hijau atau abu-abu kehijauan, kilab viterous seperti sutra.
  9. Garnet : kristal sistem reguler, berbentu kubus, warna merah jambu hingga merah kecoklat atau merah tua, kilab viterous, transparan hingga opak.
  10. Serpentin : bentuk seratan pipih atau seratan fleksibel warna merah kecoklatan dan hijau kekuningan,.
  11. Talk : berbentuk granular, tipis-tipis semacam serabut, fleksible, warna hijau muda sampai hijau tua, kilab mutiara, kekerasan 1-2.
  12. Kordierit : perismatik pendek, kompak atau granular, warna abu-abu kebiruan, hijau kuning atau tak berwarna, kilab viterous.
  13. Silimatit : panjang-panjang tipis seperti jarum kadang-kadang bengkok, warna abu-abu, putih atau kuning pucat. Kilab viterous.
  14. Tremolit : lempeng-lempeng berserat seperti asbes, granular. Warna putih, abu-abu, hijau, atau kuning, belahan prismatik, kilab viterous.
  15. Wolanstonit : tabular atau prismatik, berserat-serat paralel, menyebar atau granular. Warna putih keabu-abuan atau tidak berwarna, kilab sutera.
  16. Piroksin : perismatik pendek, warna coklat hingga hitam, belahan dua arah.
  17. Olivine : berwarna hijau, kuning kecoklatan. Kekerasan 6 hingga 7.
  18. Amphibole : perismatik panjang bersisi 6, warna hijau kehitaman, kilab viterous, kekerasan 5-6.

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari isi makalah diatas ialah bahwa:

Batuan metamorf adalah batuan yang terbentuk sebagai akibat dari proses metamorfosa pada batuan yang sudah ada karena perubahan temperatur(T), tekanan (P), atau Temperatur (T) dan Tekanan (P) secara bersamaan.

Media atau agen yang menyebabkan terjadinya proses metamorfisme adalah panas, tekanan, dan cairan kimia aktif. Ketiga media itu dapat bekrja bersama-sama pada batuan yang mengalami proses metamorfisme, dengan derajat metamorfisme dan kontribusi setiap agen berbeda-beda. Pada metamorfisme tingkat rendah, kondisi tempratur dan tekanan hanya sedikit di atas kondisi proses pembatuan pada proses pembentukan batuan sedimen. Sedangkan pada proses metamorfismetingkat tinggi, kondisinya sedikit dibawah kondisi proses peleburan batuan menjadi magma.

Sedangkan facies nya ialah suatu tempat terbentuknya batuan metamorf berdasarkan kedalam dan temperatur, yakni terdapat beberapa antara lain seperti; Eclogite, Granulite, Amphibolites, Blueschist, Greenschist, Facies Zeolit.

Macam-macam metamorfisme terbagi atas tiga yakni:

1. Metamofrisme Kontak

2. Metamorfisme Dinamik

3. Metamorfisme Regional

Dan mineral-mineral yang umumnya menjadi penyusun dari batuan metamorf antara lain: Kwarsa, Klorit, Feldsfar, Mika, Andalusit, Glaukofan, Kianit, Aktinolit, Garnet, Serpentin, Talk, Kordierit, Silimatit, Tremolit, Piroksin, Wolanstonit, Olivine, Amphibole .

DAFTAR PUSTAKA

  1. Rochmanto, Budi. Diktat Mata Kuliah Geologi Fisik. Makassar: UNHAS, 2008.
  2. M.S, Kaharuddin. Penuntun Praktikum Petrologi. Makassar, 1988.
  3. Simon and Schuster. Rocks and Minerals. New York, 1977.
  4. http://febryirfansyah.wordpress.com/2009/08/14/petrologi-batuan-metamorf/

No comments: