Alfonsus Simalango

Wednesday, July 16, 2014

Back to basics : accoustic guitarBack to basics: We have players of all different skill-levels here on Facebook, so let’s take a look the very basic function of an acoustic guitar.

Back to basics: We have players of all different skill-levels here, so let’s take a look the very basic function of an acoustic guitar. Here’s a good infographic on what it is and what it does.


From : D'Addario FB

Friday, July 11, 2014

Karakteristik zeolit

Sifat-sifat kimia dan sika zeolit. Mineral zeolit adalah kelompok mineral alumunium silikat terhidrasi  LmAlxSiyOz nH2O, dari logam alkali dan alkali tanah (terutama Ca, dan Na), m, x, y, dan z merupakan  bilangan 2 hingga 10, n koe sien dari H2O, serta L adalah logam. Zeolit secara empiris ditulis (M+ 2 , M2+)Al2O3gSiO2 zH2O, M+ berupa Na atau K dan M2+ berupa Mg, Ca, atau Fe. Li , Sr atau Ba dalam jumlah kecil dapat menggantikan M+ atau M2+, g dan z bilangan koe sien. Beberapa specimen zeolit berwarna putih, kebiruan, kemerahan, coklat, dll., karena hadirnya oksida besi atau logam lainnya. Densitas zeolit antara 2,0 { 2,3 g/cm3, dengan bentuk halus dan lunak. Kilap yang dimiliki bermacam-macam. Struktur zeolit dapat dibedakan dalam tiga komponen yaitu rangka aluminosilikat, ruang kosong saling berhubungan yang berisi kation logam, dan molekul air dalam fase occluded (Flanigen, 1981 dalam Harben & Kuzvart, 1996). Zeolit berbentuk kristal aluminosilikat terhidrasi yang mengandung muatan positif dari ion-ion logam alkali dan alkali tanah dalam kerangka kristal tiga dimensi (Hay, 1966), dengan setiap oksigen membatasi antara dua tetrahedra.

Zeolit pada dasarnya memiliki tiga variasi struktur yang berbeda yaitu: a) struktur seperti rantai (chain-like structure), dengan bentuk kristal acicular dan prismatic, contoh: natrolit, b) struktur seperti lembaran (sheet-like structure), dengan bentuk kristal platy atau tabular biasanya dengan basal cleavage baik, contoh: heulandit, c) struktur rangka, dimana kristal yang ada memiliki dimensi yang hampir sama, contoh: kabasit. Zeolit mempunyai kerangka terbuka, sehingga memungkinkan untuk melakukan adsorpsi Ca bertukar dengan 2(Na,K) atau CaAl dengan (Na,K)Si. Morfologi dan struktur kristal yang terdiri dari rongga-rongga yang berhubungan ke segala arah menyebabkan permukaan zeolit menjadi luas. Morfologi ini terbentuk dari unit dasar pembangunan dasar primer yang membentuk unit dasar pembangunan sekunder dan begitu seterusnya.

Zeolit secara umum dibedakan dalam tipe yang calcic dan alkaliarich, dengan komposisi yang berbeda, berikut komposisi dan formula dari zeolit. Selain jenis zeolit alam, ada zeolit jenis lain yaitu zeolit sintetis. Zeolit sintetis dibuat dengan rekayasa yang sedemikian rupa sehingga mendapatkan karakter yang sama dengan zeolit alam. Zeolit sintetis sangat bergantung pada jumlah Al dan Si, sehingga ada 3 kelompok zeolit sintetis:

(1) Zeolit sintetis dengan kadar Si rendah
Zeolit jenis ini banyak mengandung Al, berpori, mempunyai nilai ekonomi tinggi karena efektif untuk  pemisahan dengan kapasitas besar. Volume porinya dapat mencapai 0,5 cm3 tiap cm3 volume zeolit.
(2) Zeolit sintetis dengan kadar Si sedang
Jenis zeolit modernit mempunyai perbandingan Si/Al = 5 sangat stabil, maka diusahakan membuat zeolit Y dengan perbandingan Si/Al = 1-3. Contoh zeolit sintetis jenis ini adalah zeolit omega.
(3) Zeolit sintetis dengan kadar Si tinggi
Zeolit jenis ini sangat higroskopis dan menyerap molekul non polar sehingga baik untuk digunakan sebagai katalisator asam untuk hidrokarbon. Zeolit jenis ini misalnya zeolit ZSM-5, ZSM-11, ZSM-21, ZSM-24.

Berbagai Cara Analisis Kestabilan Lereng

Cara analisis kestabilan lereng banyak dikenal, tetapi secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga kelompok yaitu: cara pengamatan visual, cara komputasi dan cara grafik (Pangular, 1985) sebagai berikut :
1) Cara pengamatan visual adalah cara dengan mengamati langsung di lapangan dengan membandingkan kondisi lereng yang bergerak atau diperkirakan bergerak dan yang yang tidak, cara ini memperkirakan lereng
labil maupun stabil dengan memanfaatkan pengalaman di lapangan (Pangular, 1985). Cara ini kurang teliti, tergantung dari pengalaman seseorang. Cara ini dipakai bila tidak ada resiko longsor terjadi saat pengamatan. Cara ini mirip dengan memetakan indikasi gerakan tanah dalam suatu peta lereng.
2) Cara komputasi adalah dengan melakukan hitungan berdasarkan rumus (Fellenius, Bishop, Janbu, Sarma, Bishop modified dan lain-lain). Cara Fellenius dan Bishop menghitung Faktor Keamanan lereng dan dianalisis
kekuatannya. Menurut Bowles (1989), pada dasarnya kunci utama gerakan tanah adalah kuat geser tanah yang dapat terjadi :
(a) tak terdrainase,
(b) efektif untuk beberapa kasus pembebanan,
(c) meningkat sejalan peningkatan konsolidasi (sejalan dengan waktu) atau dengan kedalaman,
(d) berkurang dengan meningkatnya kejenuhan air (sejalan dengan waktu) atau terbentuknya tekanan pori yang berlebih atau terjadi peningkatan air tanah.
3) Cara grafik adalah dengan menggunakan grafik yang sudah standar (Taylor, Hoek & Bray, Janbu, Cousins dan Morganstren). Cara ini dilakukan untuk material homogen dengan struktur sederhana. Material yang heterogen (terdiri atas berbagai lapisan) dapat didekati dengan penggunaan rumus (cara komputasi). Stereonet, misalnya diagram jaring Schmidt (Schmidt Net Diagram) dapat menjelaskan arah longsoran atau runtuhan batuan dengan cara mengukur strike/dip kekar-kekar (joints) dan strike/dip lapisan batuan.

Friday, May 9, 2014

kegunaan global mapper

Global Mapper harus dimiliki setiap orang yang berurusan dengan peta, karena fungsi yang luas dan penggunaannya yang lebih simple,yang pastinya sangat berguna karena menawarkan tools untuk banyak type data spasial.

  1. Melakukan perhitungan jarak dan luas dengan akurat, pembauran arsir dan penyesuaian kontras, melihat elevasi, dan perhitungan garis pandang untuk memaksimalkan presisi. 
  2. Secara rutin menghemat waktu yang dihabiskan untuk melakukan tugas berulang dengan menggunakan fungsi bahasa script yang built-in dan konversi batch secara menyeluruh. 
  3. Dengan cepat mendigitalkan fitur vektor baru, mengedit fitur yang sudah ada, dan dengan mudah menyimpannya ke format ekspor yang didukung. 
  4. Dengan mudah melacak setiap perangkat GPS yang kompatibel yang terhubung ke port serial komputer   Anda melalui data apa pun yang di-upload, menandai waypoint tanpa sambungan, serta merekam log pelacakan.  
  5. Dalam sekejap menetapkan interval kontur untuk setiap kombinasi data elevasi dengan fitur pembuat kontur tingkat lanjut. 
  6. Secara otomatis melakukan triangulasi dan grid kumpulan data titik 3D untuk mengkonversi contoh kumpulan elevasi menjadi kumpulan data yang sepenuhnya di-grid. 
  7. Dengan cepat menyimpan isi layar menjadi file BMP, JPG, PNG, atau (Geo) TIFF, yang dapat Anda rektifikasi secara intuitif dan disimpan dalam citra baru yang sepenuhnya dapat dijadikan georeferensi. 
  8. Dengan segera melakukan dekompresi setiap transfer file SDTS ke direktori yang terpisah, menghemat waktu yang berharga.  
  9. Segera menampilkan file DRG terdekat melalui kliping otomatis file collar USGS DRG

Keunggulan Global Mapper:

  • Editor/viewernya sangat mudah digunakan dan telah mampu menampilkan berbagai data raster, DEM, data vektor dan GeoPDF
  • Mengkonvert data hasil penginderaam jauh, mengedit data vektor, reproject citra satelit, mosaik citra satelit, print, track GPS
  • Kemampuan akses secara online ke berbagai sumber data citra, peta topografi , DTM dan banyak lagi.
  • Dapat menghitung jarak dan luas dengan akurat, pembauran arsir dan penyesuaian kontras, melihat elevasi citra satelit DEM, dan perhitungan garis pandang untuk memaksimalkan presisi.
  • Secara cepat mendigitalkan fitur vektor baru, mengedit fitur yang sudah ada, dan dengan mudah menyimpannya ke format ekspor yang didukung software global mapper
  • Mudah melacak setiap perangkat GPS yang kompatibel yang terhubung ke port serial komputer melalui data apa pun yang di-upload, menandai waypoint tanpa sambungan, serta merekam log pelacakan.
  • Dengan cepat menyimpan isi layar menjadi file BMP, JPG, PNG, atau (Geo) TIFF, yang dapat Anda rektifikasi secara intuitif dan disimpan dalam citra baru yang sepenuhnya dapat dijadikan georeferensi.
  • Kelebihan versi 12 dari software sebelumnya yaitu dapat secara otomatis membuat Watershed dan kelebihan-kelebihan yang lain
Fungsi-fungsi yang terdapat pada global mapper diantaranya adalah :
1.   Dukungan kepada beragam format terkenal baik raster maupun vektor. 
2.  Kemampuan akses ke database citra dari Digitalglobe , akses ke database TerraServer-USA dan data topografi daerah USA secara gratis.
3.  Koneksi langsung ke sumber data WMS, termasuk akses built in ke database NED 30-m, database SRTM 3-arc second secara gratis.
4.   Mendukung tampilan 3D data elevasi.
5.  Memotong, proyeksi ulang, menyatukan berbagai data raster dan elevasi, termasuk DRG. 
6.  Mendukung digitasi. mendukung digitasi, baik titik, garis atau poligon dengan mouse dan hasilnya dapat disimpan dalam berbagai format vektor terkenal. Juga dapat melakukan input data koordinat COGO, hambatan dan jarak. 
7.   Mendukung GPS. pengguna dapat mengakses GPS dengan global mapper. kita dapat menandai waypoint, merekam jalur semuanya secara live. bahkan kita dapat melakukan koneksi dengan beberapa GPS sekaligus.
8.  Dukungan Datum/proyeksi. global mapper mendukung konversi yang akurat antara beberapa sistem proyeksi dan datum.metode NADCON, NTv2, dan lain-lain.
9.    Mendukung eksport data ke berbagai macam format yang ada. hampir semua format vektor, raster dan elevasi dapat dieksport ke dalam format-format lain. 
10.  Pengguna dapat melakukan rektifikasi citra secara grafikal untuk format JPG, TIFF, dan PNG dan menyimpannya sebagai raster yang terkoreksi.
11.   Kita dapat menggenerate kontur dari berbagai macam kombinasi data elevasi. kita dapat menentukan kontur interval.
12.  Selain itu kita juga bisa melakukan triangulasi otomatis dan gridding untuk data titik 3D.
13. Selain itu juga mendukung kombinasi serta perbandingan terrain surface seperti DEM. kita dapat melakukan operasi pembagian, rata-rata, dan lain -lain.
14. Dukungan untuk NASA World Wind, Google Map, Virtual Earth
15. Anda Dapat menangkap tampilan gambar menjadi file BMP, JPG, PNG atau (Geo)TIFF dengan resolusi yang anda inginkan.
16. Dapat melakukan proses batch konversi untuk berbagai macam file.
17. Auto clip collar untuk DRG, BSB dan DOQQ (marine chart).
18. Dukungan untuk file SDTS DLG, SDTS DEM dan file lain yang di kompres dengan .tar, .gz atau zip.
19. Analisis visualisasi shading komprehensif dengan data elevasi dari lokasi yang spesifik. 
20. Analisa LOS (3D Path Profiling and Line of Sight) termasuk kurva bumi, ketinggian reciever/transmiter, dan minimum clearance.
21. Kemampuan Pengukuran, termasuk panjang multi segmen, luas area, analisa cut-and-fill.
22. Kemampuan mengaitkan atribut file vektor ke website atau file lain.
23. mendukung format DEM dan SDTS DEM terkini termasuk DEM Desimeter.
24. Dapat membuka file DLG-O dan DEM langsung dari file kompresi gzip tanpa perlu melakukan dekompress.
25. Dapat memberikan keterangan setiap kali kita menjalankan kursor ke sebuah feature. 
26. Mendukung navigasi dengan keyboard.
27. Mencari dan editing data vektor berdasarkan nama, isi atribut atau deskripsinya.
28. Membuka file JPG dengan data posisi EXIF didalamnya.




Sumber : 
  • http://www.gis-technician.com/2012/12/global-mapper-12.html
  • http://pankromatik.blogspot.com/2013/03/tutorial-global-mapper.html
  • http://bocahkobam.blogspot.com/2011/06/global-mapper.html

Sunday, March 9, 2014

Geologi Pulau Sumbawa



Geologi Pulau Sumbawa
Peta tektonik yang dibuat Carlile dan Mitchel (1994) yang menggambarkan penyebaran busur-busur magma Zaman Kapur Akhir hingga Pliosen dengan mineralisasi yang dikontrol oleh pola tektonik ini. Dalam busur magma mineralisasi terdapat di daerah Batu Hijau KSB dan Dodo Elang di Sumbawa yang termasuk dalam paparan Busur Magma Sunda-Banda. Temuan ini tentunya menunjukkan besarnya potensi mineralisasi dari jenis porfiri dan tidak mustahil di kemudian hari masih akan didapatkan temuan-temuan penting lainnya. Atas dasar berbagai sifat geologi tersebut diatas kemudian dapat dibuatkan prediksi tentang potensi Sumberdaya Mineral. Kendati demikian masih diperlukan berbagai langkah dalam penyelidikan umum dan eksplorasi sebelum suatu perusahaan berani menanamkan modalnya dalam pengelolaan suatu pertambangan.

Struktur Geologi Pulau Sumbawa
Ditinjau dari tatanan Tektonik terbentuknya P. Sumbawa erat kaitannya dengan penunjaman Lempeng Hindia yang berarah utara–timurlaut di bawah Daratan Sunda yang menerus mulai dari P. Sumatera – Jawa terus ke arah timur membentuk Busur Kepulauan Banda yang terbentuk pada masa Kenozoikum, yang dilandasi oleh batuan gunung api kalk alkalin dari busur dalam Banda yang masih aktif hingga sekarang.oleh batuan sedimen pinggiran benua yang beralaskan batuan malihan
Geologi daerah Sumbawa disusun oleh terbentuknya batuan gunung api Tersier (Miosen Awal) breksi-tuf (Tmv) bersifat andesit dengan sisipan tuf pasiran, tuf batuapung dan batupasir tufan. Satuan breksi tuf ini menjemari dengan batuan sedimen yaitu satuan batu pasir tufan (Tms) dan juga satuan batugamping (Tml).Kemudian diterobos oleh batuan terobosan (Tmi) yang terdiri dari andesit, basal, dasit, dan batuan yang tak teruraikan, diperkirakan berumur Miosen Tengah.
Diatasnya diendapkan Batu gamping koral (Tmcl) pada Miosen Akhir dilanjutkan pada pliosen diendapkan batulempung tufan (Tpc) dengan sisipan batupasir dan kerikil hasil rombakan gunungapi, menindih tidak selaras batuan yang lebih tua (Tmv danTms), kemudian diendapkan batuan gunungapi kuarter yang diendapkan dimulai dari satuan breksi Tanah Merah (Qot), Batuan Breksi Andesit- Basal (Qv) dan satuan Lava-Breksi (Qhv), juga diendapkan batuan sedimen kuarter yaitu terumbu koral yang terangkat (Ql), terakhir pada Holosen diendapkan aluvium dan endapan pantai (Qal).
Batuan yang terdapat terdiri dari Satuan Batuan Breksi gunungapi, Satuan Batuan Tufa dan Breksi tufa, Satuan Batuan Tufa gampingan, Satuan Batuan Batugamping, Satuan Batuan Andesit, Satuan Batuan Diorit dan Aluvial. Sebagian dari batuan tersebut terbreksikan dan mengalami ubahan silisifikasi hingga argilik Dari pengamatan di lapangan batuan ini dipengaruhi oleh struktur patahan geser menganan (dextral)maupun mengiri (Sinistral)
Batuan lainnya yang terdapat di daerah penyelidikan berupa endapan aluvial rawa dan sungai .
Struktur geologi yang berkembang di daerah penyelidikan adalah berupa struktur kekar dan sesar. Struktur kekar berkembang pada batuan intrusi sedangkan struktur sesar di daerah penyelidikan diketahui berdasarkan indikasi adanya gawir sesar yang terdapat di daerah penyelidikan diantaranya lereng terjal di daerah Bukit Olat Maja dari pola aliran sungai dan
Kelurusan topografi serta adanya mata air yang mengandung sulfur dan besi yang tinggi. Pola dan kelurusan di daerah penyelidikan, baratdaya-timurlaut, baratlaut-tenggara. Sedangkan pola aliran sungai yang diperkirakan mendukung adanya pola sesar adalah aliran S Lenteh yang bermuara pada teluk Ailepok.



II. TEKTONIK DAN GEOLOGI REGIONAL
Ditinjau dari tatanan Tektonik terbentuknya P. Sumbawa erat kaitannya dengan penunjaman Lempeng Hindia yang berarah utara–timurlaut di bawah Daratan Sunda yang menerus mulai dari P. Sumatera – Jawa terus ke arah timur membentuk Busur Kepulauan Banda yang terbentuk pada masa Kenozoikum, yang dilandasi oleh batuan gunung api kalk alkalin dari busur dalam Banda yang masih aktif hingga sekarang.oleh batuan sedimen pinggiran benua yang beralaskan batuan malihan.
Geologi daerah Sumbawa disusun oleh terbentuknya batuan gunung api Tersier (Miosen Awal) breksi-tuf (Tmv) bersifat andesit dengan sisipan tuf pasiran, tuf batuapung dan batupasir tufan. Satuan breksi tuf ini menjemari dengan batuan sedimen yaitu satuan batu pasir tufan (Tms) dan juga satuan batugamping (Tml).Kemudian diterobos oleh batuan terobosan (Tmi) yang terdiri dari andesit, basal, dasit, dan batuan yang tak teruraikan, diperkirakan berumur Miosen Tengah.
Diatasnya diendapkan Batu gamping koral (Tmcl) pada Miosen Akhir dilanjutkan pada pliosen diendapkan batulempung tufan (Tpc) dengan sisipan batupasir dan kerikil hasil rombakan gunungapi, menindih tidak selaras batuan yang lebih tua (Tmv danTms), kemudian diendapkan batuan gunungapi kuarter yang diendapkan dimulai dari satuan breksi Tanah Merah (Qot), Batuan Breksi Andesit- Basal (Qv) dan satuan Lava-Breksi (Qhv), juga diendapkan batuan sedimen kuarter yaitu terumbu koral yang terangkat (Ql), terakhir pada Holosen diendapkan aluvium dan endapan pantai (Qal). (Adjat Sudrajat, 1998).
III. GEOLOGI DAERAH ELANG
III.1. LITOLOGI
Daerah Elang Prospek tersusun oleh satuan batuan volkanik andesit tua yang mempunyai pelamparan yang luas kurang lebih 80 % dimana satuan ini disusun oleh lava andesit, tuff, lapili tuff, dan breksi volkanik, pada satuan ini umumnya mempunyai struktur massif dan secara setempat mempunyai struktur perlapisan yang mempunyai karakter yang berbeda antar lapisan ((intercalation) yaitu kristal lapili tuff dengan debu lapili.
Satuan dasitik volkanik yang mempunyai penyebaran yang tidak luas yaitu terdapat pada punggungan bukit Jelatang dimana satuan ini tersusun oleh batuan tuff, lapili dan lava, pada satuan ini telah mengalami alterasi yaitu advantage argilic hingga argilik. Satuan ini mempunyai kedudukan yang tidak selaras dengan satuan andesit dengan didasarkan penyebaran topografi. Pada satuan ini hadir tipe dari endapan porpiri sistem yang ditandai dengan veinlet dan stocwork yang sebagai data awal akan adanya Cu - Au porpiri
Daerah Elang terdapat beberapa intrusi yang mempunyai komposisi dari intrusi diorit hingga dacite dimana dengan tekstur equigranular hingga porpiritik dan ukuran dari intrusi berupa dike hingga stock. Pengamatan terhadap intrusi mempunyai kandungan felsfar porpiritik, delta tonalite, Echo tonalite, diorite, hornblende diorite, kuarsa diorite, dan dacite porpiri. Dike tonalite diinterpretasikan sebagai batuan sumber dari terjadinya alterasi Cu – Au porpiri..
Intrusi tonalit diidentifikasi dipermukaan dengan pemboran dan dengan hasil sebagai fase charli tonalite dan delta tonalite diyakini sebagi batuan host rock dengan Cu porphiri. Secara deskriptip intrusi tonalite mempunyai kandungan 30 – 40 % feldspar (diameter 3 – 7 mm) 5% kuarsa (1-3mm) fenokris ini melingkupi dari massa batuan. Charli tonalite diamati dengan hasil pemboran dan terbentuk Cu - Au porphiri dengan high grade.
III.2. STRUKTUR GEOLOGI DAERAH ELANG
Daerah Elang diinterpretasikan terdapat adanya kelurusan sesar yang ditandai dengan adanya pensejajaran mineralisasi dengan arah barat laut yang berhubungan dengan arah gaya ekstensi dari kekar – kekar, struktur didaerah Elang terbentuk setelah terjadinya proses mineralisasi.
Sistem porphiri awal yang terbentuk di daerah Elang dipengaruhi dari bentuk radial dari karakteristik sistem urat porphiri, dan pola lemah dari sistem urat porphiri yang terlihat adanya kelurusan dari urat dengan arah NNE dan NNW didaerah Elang dan urat - urat porphiri yang terbentuk dipengaruhi oleh sistem intrusi complek
IV. ALTERASI HIDROTERMAL DAN MINERALISASI
IV.1. Alterasi
Altersi hidrotermal didaerah Elang dibagi menjadi beberapa kelompok alterasi dan dibagi dalam Fase awal, transisi, dan akhir
1. Fase Alterasi Awal
Terbentuknya altersi actinolit – biotit - magnetit kemudian dioverprinting oleh retrograde klorit - magnetit dan membentuk kelompok altersi klorit – actinolit – biotit – magnetit + oligoklas. Alterasi pada fase awal terekspose pada lokasi yang kecil dan alterasi ini berasosiasi dengan urat – urat porphiri tipe “A”,“B”,“A” famili ( Gustafson and Hunt, 1975). Pada pase ini didiminasi dengan mineral kalkopirit .
2. Fase Alterasi Transisi
Alterasi transisi ini menghasilkan wilayah yang luas yang ditandai oleh mineral klorit – sericit – magnetit + lempung , dimana alterasi terbentuk dengan meng overprinting fase awal. Alterasi transisi ini merupakan bentuk terluar yang luas dan berasosiasi dengan klorit – actinolit – biotit – magnetit Karakteristik dari alterasi transisi ditandai dengan hadirnya mineral klorit, serisit hijau, dan magnetic, Untuk kelompok mineral serisit – lempung – klorit – magnetic + lempung berasosiasi dengan intrusi echo tonalit dan system urat “B” (Silitoe and Gappe, 1984).
3. Fase Alterasi Akhir
Fase ini mempunyai zona yang luas yang meliputi tipe alterasinya adalah advantage argilik dan argilik, zona argilik (serisit, illite, kaolinit) meliputi zona yang luas kurang lebih 5 km kearah NNE. Dan untuk zona alterasi advantage argilik (pyropilitik, diklite, kaolinit, alunit) terbentuk pada topografi yang tinggi dan zona ini akan berasosiasi dengan sistem endapan epitermal dan sistem diaterm breksi.
IV. 2. MINERALISASI
Tipe mineralisasi pada daerah porphiri Elang bersasosiasi dengan intrusi porphiri kecil yang mempunyai luas wilayah 1.5 – 2 km. berdasarkan hasil dari analisa geokimia soil dan batuan mineralisasi tembaga dan emas berhubungan langsung dengan kuarsa , urat – urat sulfida dan perkembangan alterasi batuan dinding pada intrusi tonalit..
Mineralisasi hipogen tembaga ditandai dengan 0,3% Cu pada zona lubang bor yang hasil pengukuran dengan luas 1,5 – 0,8 km, mineralisasi utama didominasi oleh mineral kalkopirit dan sedikit bornit dan digenit yang terkonsentrasi pada intrusi tonalit. Kandungan tembaga menengah (>0,5%) berkembang pada zona disekeliling delta tonalit dan kontak dengan zona intrusi breksi. Kandungan tembaga menengah hingga tinggi dan terkonsentrasi pada batuan andesit volkanik sebagai batuan dinding dan disekitar tubuh intrusi dan bersasosiasi dengan urat – urat stockworks.
Pengkayaan supergen Cu berkembang dibawah alterasi advantage argilik terutama pada bagian barat dan selatan dari sistem porphiri Elang, dengan ketebalan 91, 80 m dan kandungan rata – rata 0,69% Cu.
V. KESIMPULAN
1. Daerah Elang porpiri Cu – Au prospek mempunyai kelurusan zona minerlisasi dengan arah NNE dengan perbedaan tingkat yang terlihat
2. Intrusi tonalit dipermukaan diidentifikasikan dengan lubang pemboran dan dibagi menjadi charli, delta, dan echo tonalit, pada charrli dan delta tonalit merupakan zona intrusi tempat terjadinya mineralisasi Cu – Au
3. Alterasi hidrotermal terpusat pada intrusi tonalit yang mempunyai luas 5 km dengan dibagi menjadi fase awal dengan terbentuknya altersi actinolit – biotit - magnetit kemudian dioverprinting oleh retrograde klorit - magnetit dan membentuk kelompok altersi klorit – actinolit – biotit – magnetit + oligoklas. Altersi pada pase awal terekspose lokasi yang kecil dan altersi ini berasosiasi dengan urat – urat porpiri tipe “A”,“B”,“A” famili ( Gustafson and Hunt, 1975). Pada pase ini didiminasi dengan mineral kalkopirit
4. Alterasi transisi ini menghasilkan wilayah yang luas yang ditandai oleh mineral klorit – sericit – magnetit + lempung , dimana alterasi terbentuk dengan meng overprinting fase awal. Alterasi transisi ini merupakan bentuk terluar yang luas dan berasosiasi dengan klorit – actinolit – biotit – magnetit alterasi awal. Karakteristik dari alterasi transisi ditandai dengan hadirnya mineral klorit, serisit hijau, dan magnetic,
5. Fase akhir mempunyai zona yang luas yang meliputi tipe alterasinya adalah advantage argilik dan argilik, zona argilik (serisit, illite, kaolinit) meliputi zona yang luas
6. Tipe mineralisasi pada daerah porpiri Elang bersasosiasi dengan intrusi porpiri kecil yang mempunyai luas wilayah 1.5 – 2 km. berdasarkan hasil dari analisa geokimia soil dan batuan mineralisasi tembaga dan emas berhubungan langsung dengan kuarsa – urat – urat sulfide dan dan perkembangan alterasi batuan dinding pada intrusi tonalit..





Friday, February 14, 2014

LIPATAN



I. Definisi
Lipatan adalah bentuk lengkung suatu benda yang pipih/lempeng, dapat disebabkan oleh 2 macam mekanisme, yaitu buckling (melipat) dan bending (melengkung), (Sukendar Asikin, 1978).

Pada gejala buckling atau melipat, gaya penyebab adalah gaya tekan yang arahnya sejajar dengan permukaan lempeng, sedang pada bending atau pelengkungan gaya utamanya mempunyai arah yang tegak lurus pada permukaan lempeng.

Gaya perlipatan pada umumnya terjadi pada lapisan batuan sedimen. Sebelum suatu urutan batuan sedimen mengalami perlipatan, batuan tersebut diendapkan dalam keadaan yang mendatar. Tetapi ada kalanya juga sudah mempunyai timbulan-timbulan, hal ini disebabkan oleh keadaan cekungannya yang sifat permukaannya tidak rata. Kemudian sejak saat pengendapannya, lapisan-lapisan sedimen tersebut telah pula mengalami tekanan-tekanan atau tarikan-tarikan oleh gaya-gaya berasal dari dalam. Kebanyakan berupa gaya tekan atau shearing. Dengan perkataan lain sedimen tersebut secara terus menerus mengalami perubahan-perubahan sepanjang sejarah pembentukkannya, dan mengakibatkan terjadinya lipatan-lipatan berukuran besar ataupun kecil.

Lipatan yang berukuran besar dapat mencapai berkilo-kilo meter untuk melaluinya, sedangkan yang berukuran kecil hanya beberapa meter sampai sentimeter.


II. Geometri Lipatan


• Lipatan merupakan struktur seperti gelombang yang terhasil akibat canggaan perlapisan, foliasi dan permukaan planar yang lain pada skala yang berbagai.
• Lipatan terbentuk di persekitaran canggaan yang berbagai, daripada permukaan kerak bumi yang rapuh hingga ke bahagian dalam bumi yang mulur.
• Lipatan boleh berbentuk secara terbuka dan landai hingga ke sangat ketat dan berlaku secara berasingan atau berkumpulan.
• Batuan mungkin mengalami satu episod perlipatan atau lebih, sehingga menyebabkan pertindihan beberapa generasi lipatan.
• Semasa mengkaji lipatan, ada tiga skala digunakan untuk memudahkan penerangan, iaitu struktur mikroskopik (dilihat di bawah mikroskop), mesoskopik (saiz daripada sampel tangan hingga singkapan) dan makroskopik (saiz peta atau lebih besar).
• Kebanyakan kajian geometri lipatan melibatkan pengukuran pada skala mesoskopik, dan skala yang lain menguatkan lagi cerapan kita. Biasanya struktur berskala kecil akan menyerupai struktur berskala besar dan sebaliknya.


III. Anatomi Lipatan Ringkas

- Anticline (antiform), adalah unsur struktur lipatan dengan bentuk yang konveks ke atas.
- Syncline (sinform) adalah lipatan yang concave ke atas.
- Limb (sayap) adalah bagian dari lipatan yang terletak down dip dimulai dari lengkungan maksimum suatu antiklin atau updip bila dari lengkungan maksimum suatu syncline.
- Backline adalah sayap yang landai.
- Fore limb adalah sayap yang curam pada bentuk lipatan yang tidak simetris.
- Axial line (garis poros), garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari lengkungan maksimum pada setiap permukaan lapisan dari suatu struktur.
- Axial suface, permukaan khayal dimana terdapat semua axial line dari suatu lipatan.
Pada beberapa lipatan permukaan ini dapar merupakan suatu bidang planar, dan dinamakan axial plane.
- Crestal line (garis puncak), suatu garis khayal yang menghubungkan titik-titik tertinggi pada setiap permukaan lapisan dari suatu antiklin.

IV. Jenis Lipatan

Pengelompokkan lipatan secara morfologis
Didasarkan atas :
1. Perubahan bentuk daripada lipatan pada kedalaman.
2. Susunan atau pola daripada struktur lipatan, dilihat dalam penampang denah.

Jenis-jenis lipatan tersebut adalah :
- Concentric fold (lipatan konsentris/lipatan paralel) adalah sebutan untuk perlapisan dimana jarak-jarak (tebal) tiap lapisan yang terlipat tetap sama.
- Similar fold adalah sebutan untuk perlipatan dimana lapisan-lapisan yang terlipat/dilipat dengan bentuk-bentuk yang sama sampai ke dalam. Antiklin maupun sinklin ukurannya tidak banyak berubah ke dalam maupun ke atas.


V. Klasifikasi Lipatan


Ada beberapa pengelasan yang digunakan oleh pengkaji tertentu dengan penekanan yang berbeda. Ada yang berdasarkan kepada bentuknya dan ada berdasarkan kepada mekanisma pembentuknya.

Antara yang lebih terkenal adalah pengelasan John Ramsay, di mana beliau menggunakan isogon sebagai petunjuk secara tidak bias kelas lipatan tertentu.

Isogon adalah garis yang menyambung titik pada sayap lipatan yang mempunyai kemiringan yang sama. Taburan garis isogon ini samada selari, mencapah atau menumpuh menjadi asas pengelasan ini. Mengikut pengelasan Ramsay ada 3 kelas lipatan. Kelas pertama menunjukkan isogon yang menumpuh, sementara kelas 2 dan 3 menunjukkan isogon yang selari dan mencapah, masing-masing.

VI. Mekanisme Lipatan

• Perlipatan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, cecair dan sifat badan batuan (komposisi, tekstur dan sifat setiap lapisan).
• Mekanisma perlipatan merangkumi pemampatan atau pemendekkan (buckling), pembengkokkan (bending), aliran fleksur (flexural flow) dan aliran pasif (passive flow). Setiap mekanisma ini disertai oleh gelincir fleksur (flexural slip).
• Untuk lapisan mengekalkan ketebalannya semasa ia dilipat, gelincir fleksur berlaku sepanjang sempadan perlapisan. Kesan gelinciran ini diperhatikan daripada kehadiran kesan gores-garis (slickenside) pada permukaan lapisan.
• Mekanisma pembengkokkan melibatkan arah canggaan yang tegak dengan sesuatu lapisan dan biasanya menghasilkan lipatan yang terbuka, seperti kubah, lembangan dan gerbang.
• Pembengkokkan boleh berlaku bila ada objek tertentu (seperti intrusi batuan igneus, struktur dupleks) berada di bawah sesuatu lapisan.
• Pemampatan/Pemendekkan (buckling) melibatkan arah canggaan yang selari dengan perlapisan. Pada suhu yang rendah, buckling disertai oleh gelincir fleksur.
• Sebelum buckling berlaku lapisan biasanya dipendekkan secara mendatar dan ditebalkan secara menegak dengan lapisan.
• Variasi daripada buckling adalah kinking. Kinking ini biasanya berasosiasi dengan batuan skis dan membentuk lipatan chevron. Ia terhasil akibat daripada proses gelincir fleksur yang terkekang.
• Mekanisma aliran fleksur (flexural flow) berlaku bila sebahagian lapisan bersifat mulur dan sebahagian bersifat rapuh. Lapisan yang bersifat rapuh mempengaruhi bentuk lipatan yang terhasil.
• Mekanisma aliran pasif (passive flow) melibatkan aliran mulur pada keseluruhan batuan. Perlapisan, foliasi atau jalur hanya menjadi lapisan petunjuk. Aliran pasif ini hanya berlaku pada batuan di mana tidak ada perbezaan kemuluran antara lapisan dan menghasilkan lipatan serupa.
• Kombinasi antara beberapa mekanisma di atas sering berlaku atau bersaingan pada persekitaran tekanan dan suhu yang berbagai.
• Dekat permukaan bumi, gelincir fleksur dan buckling biasa berlaku. Bila lipatan menjadi lebih ketat, geseran antara lapisan meningkat dan gelinciran sukar berlaku. Pada peringkat ini mekanisma yang menghasilkan ira mengambilalih untuk proses canggaan seterusnya.

VII. Lipatan Kompleks

• Lipatan kompleks berlaku apabila satu set lipatan ditindih oleh satu atau lebih set lipatan baru, samada akibat arah daya yang sama atau berlainan.
• Bentuk lipatan bertindih ini adalah berkaitan dengan orientasi kedua-dua set lipatan itu dan juga sifat fizikal batuan yang tercangga.
• Dua episod perlipatan boleh dipisahkan oleh masa beberapa saat sahaja atau berjuta tahun, atau berlaku secara berterusan.
• Batuan bersifat mulur membolehkan lipatan kompleks terhasil. Keadaan ini biasanya terdapat di kawasan teras pergunungan, di kawasan zon subduksi dan kawasan sesar transform di mana mampatan, metamorfisma dan ricihan berterusan berlaku.
• Secara amnya ada tiga jenis lipatan bertindih.

1. Struktur Kotak Telur atau Corak Kubah dan Lembangan.
Ia berlaku bila dua set lipatan tegak bertemu atau berinteraksi pada sudut besar.

2. Corak Boomerang
Ia berlaku bila lipatan yang dengan paksi permukaan miring (e.g. lipatan isoklinal) dan lipatan dengan paksi permukaan tegak (e.g. lipatan tegak) bertemu/berinteraksi pada sudut yang besar.

3. Corak Hook
Ia berlaku bila lipatan isoklinal yang ketat dilipat semula pada paksi yang sama, pada berbagai skala.
• Kombinasi ketiga-tiga jenis di atas juga boleh berlaku. Satu jenis boleh bertukar secara beransur-ansur ke jenis yang lain.
• Lipatan yang bertindih ini penting untuk menentukan sejarah canggaan sesuatu kawasan.
• Kita boleh mengenalpasti pertindihan lipatan ini bila kita membuat permerhatian dan pemetaan struktur secara terperinci sesuatu kawasan.
• Biasanya, satu kawasan yang telah mengalami dua arah perlipatan menunjukkan perubahan arah jurus dan miringan yang agak mendadak tetapi sistematik.




Pendahuluan Pemetaan Geologi Struktur



Pemetaan geologi struktur bertujuan untuk mendapatkan gambaran struktur/tektonik di suatu daerah/wilayah, sehingga penyebaran, jenis serta genetik pembentukannya dapat diketahui.

Dalam pemetaan geologi struktur, kegiatan yang perlu dilakukan adalah mengamati, mengukur dan menganalisis gejala-gejala struktur yang tersingkap di lapangan.
Gejala struktur di lapangan dapat berupa struktur bidang maupun garis (bidang sesar, bidang kekar, gores-garis, bidang lapisan, gores-garis, cleavage, dsb) dan dapat pula merupakan jejak-jejak struktural lainnya (breksi sesar, milonit dsb). Disamping adanya bentuk geometri, juga dikenal adanya bentuk morfologis topografi misalnya kelurusan topografi, kelurusan dan kelokan sungai, bergesernya punggungan bukit dsb.

Pengetahuan geologi struktur wajib dipahami oleh seseorang yang akan melakukan pemetaan geologi, terlebih lagi bagi yang khusus meneliti tektonik suatu daerah. Kualitas hasil penelitian geologi struktur salah satunya tergantung pada tingkat kemampuan seseorang dalam menguasai ilmu geologi struktur.

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang maksimal dari kegiatan pemetaan struktur ini, dilakukan beberapa tahapan, yaitu :

a. Pendahuluan :
- Studi Pustaka
- Interpretasi foto udara, citra landsat (citra indraja) dan topografi.

b. Penelitian Lapangan
- Pengamatan, pengukuran, pencatatan data, pembuatan sketsa, analisis sementara dan plotting data struktur ke dalam peta dasar.

c. Penelitian Laboratorium/studio
- Pengolahan data
- Pembuatan penampang struktur dan peta struktur

d. Analisis data secara menyeluruh
- Melakukan analisis tektonik daerah penelitian yang bersesuaian dengan konsep/teori struktur geologi dan membandingkannya dengan tektonik regional yang berkaitan dengan daerah penelitian.

e. Laporan hasil penelitian
- Seluruh hasil analisis tersebut dituangkan ke dalam buku laporan yang didalamnya disertai peta struktur beserta penampang strukturnya.