Alfonsus Simalango

Sunday, March 9, 2014

Geologi Pulau Sumbawa



Geologi Pulau Sumbawa
Peta tektonik yang dibuat Carlile dan Mitchel (1994) yang menggambarkan penyebaran busur-busur magma Zaman Kapur Akhir hingga Pliosen dengan mineralisasi yang dikontrol oleh pola tektonik ini. Dalam busur magma mineralisasi terdapat di daerah Batu Hijau KSB dan Dodo Elang di Sumbawa yang termasuk dalam paparan Busur Magma Sunda-Banda. Temuan ini tentunya menunjukkan besarnya potensi mineralisasi dari jenis porfiri dan tidak mustahil di kemudian hari masih akan didapatkan temuan-temuan penting lainnya. Atas dasar berbagai sifat geologi tersebut diatas kemudian dapat dibuatkan prediksi tentang potensi Sumberdaya Mineral. Kendati demikian masih diperlukan berbagai langkah dalam penyelidikan umum dan eksplorasi sebelum suatu perusahaan berani menanamkan modalnya dalam pengelolaan suatu pertambangan.

Struktur Geologi Pulau Sumbawa
Ditinjau dari tatanan Tektonik terbentuknya P. Sumbawa erat kaitannya dengan penunjaman Lempeng Hindia yang berarah utara–timurlaut di bawah Daratan Sunda yang menerus mulai dari P. Sumatera – Jawa terus ke arah timur membentuk Busur Kepulauan Banda yang terbentuk pada masa Kenozoikum, yang dilandasi oleh batuan gunung api kalk alkalin dari busur dalam Banda yang masih aktif hingga sekarang.oleh batuan sedimen pinggiran benua yang beralaskan batuan malihan
Geologi daerah Sumbawa disusun oleh terbentuknya batuan gunung api Tersier (Miosen Awal) breksi-tuf (Tmv) bersifat andesit dengan sisipan tuf pasiran, tuf batuapung dan batupasir tufan. Satuan breksi tuf ini menjemari dengan batuan sedimen yaitu satuan batu pasir tufan (Tms) dan juga satuan batugamping (Tml).Kemudian diterobos oleh batuan terobosan (Tmi) yang terdiri dari andesit, basal, dasit, dan batuan yang tak teruraikan, diperkirakan berumur Miosen Tengah.
Diatasnya diendapkan Batu gamping koral (Tmcl) pada Miosen Akhir dilanjutkan pada pliosen diendapkan batulempung tufan (Tpc) dengan sisipan batupasir dan kerikil hasil rombakan gunungapi, menindih tidak selaras batuan yang lebih tua (Tmv danTms), kemudian diendapkan batuan gunungapi kuarter yang diendapkan dimulai dari satuan breksi Tanah Merah (Qot), Batuan Breksi Andesit- Basal (Qv) dan satuan Lava-Breksi (Qhv), juga diendapkan batuan sedimen kuarter yaitu terumbu koral yang terangkat (Ql), terakhir pada Holosen diendapkan aluvium dan endapan pantai (Qal).
Batuan yang terdapat terdiri dari Satuan Batuan Breksi gunungapi, Satuan Batuan Tufa dan Breksi tufa, Satuan Batuan Tufa gampingan, Satuan Batuan Batugamping, Satuan Batuan Andesit, Satuan Batuan Diorit dan Aluvial. Sebagian dari batuan tersebut terbreksikan dan mengalami ubahan silisifikasi hingga argilik Dari pengamatan di lapangan batuan ini dipengaruhi oleh struktur patahan geser menganan (dextral)maupun mengiri (Sinistral)
Batuan lainnya yang terdapat di daerah penyelidikan berupa endapan aluvial rawa dan sungai .
Struktur geologi yang berkembang di daerah penyelidikan adalah berupa struktur kekar dan sesar. Struktur kekar berkembang pada batuan intrusi sedangkan struktur sesar di daerah penyelidikan diketahui berdasarkan indikasi adanya gawir sesar yang terdapat di daerah penyelidikan diantaranya lereng terjal di daerah Bukit Olat Maja dari pola aliran sungai dan
Kelurusan topografi serta adanya mata air yang mengandung sulfur dan besi yang tinggi. Pola dan kelurusan di daerah penyelidikan, baratdaya-timurlaut, baratlaut-tenggara. Sedangkan pola aliran sungai yang diperkirakan mendukung adanya pola sesar adalah aliran S Lenteh yang bermuara pada teluk Ailepok.



II. TEKTONIK DAN GEOLOGI REGIONAL
Ditinjau dari tatanan Tektonik terbentuknya P. Sumbawa erat kaitannya dengan penunjaman Lempeng Hindia yang berarah utara–timurlaut di bawah Daratan Sunda yang menerus mulai dari P. Sumatera – Jawa terus ke arah timur membentuk Busur Kepulauan Banda yang terbentuk pada masa Kenozoikum, yang dilandasi oleh batuan gunung api kalk alkalin dari busur dalam Banda yang masih aktif hingga sekarang.oleh batuan sedimen pinggiran benua yang beralaskan batuan malihan.
Geologi daerah Sumbawa disusun oleh terbentuknya batuan gunung api Tersier (Miosen Awal) breksi-tuf (Tmv) bersifat andesit dengan sisipan tuf pasiran, tuf batuapung dan batupasir tufan. Satuan breksi tuf ini menjemari dengan batuan sedimen yaitu satuan batu pasir tufan (Tms) dan juga satuan batugamping (Tml).Kemudian diterobos oleh batuan terobosan (Tmi) yang terdiri dari andesit, basal, dasit, dan batuan yang tak teruraikan, diperkirakan berumur Miosen Tengah.
Diatasnya diendapkan Batu gamping koral (Tmcl) pada Miosen Akhir dilanjutkan pada pliosen diendapkan batulempung tufan (Tpc) dengan sisipan batupasir dan kerikil hasil rombakan gunungapi, menindih tidak selaras batuan yang lebih tua (Tmv danTms), kemudian diendapkan batuan gunungapi kuarter yang diendapkan dimulai dari satuan breksi Tanah Merah (Qot), Batuan Breksi Andesit- Basal (Qv) dan satuan Lava-Breksi (Qhv), juga diendapkan batuan sedimen kuarter yaitu terumbu koral yang terangkat (Ql), terakhir pada Holosen diendapkan aluvium dan endapan pantai (Qal). (Adjat Sudrajat, 1998).
III. GEOLOGI DAERAH ELANG
III.1. LITOLOGI
Daerah Elang Prospek tersusun oleh satuan batuan volkanik andesit tua yang mempunyai pelamparan yang luas kurang lebih 80 % dimana satuan ini disusun oleh lava andesit, tuff, lapili tuff, dan breksi volkanik, pada satuan ini umumnya mempunyai struktur massif dan secara setempat mempunyai struktur perlapisan yang mempunyai karakter yang berbeda antar lapisan ((intercalation) yaitu kristal lapili tuff dengan debu lapili.
Satuan dasitik volkanik yang mempunyai penyebaran yang tidak luas yaitu terdapat pada punggungan bukit Jelatang dimana satuan ini tersusun oleh batuan tuff, lapili dan lava, pada satuan ini telah mengalami alterasi yaitu advantage argilic hingga argilik. Satuan ini mempunyai kedudukan yang tidak selaras dengan satuan andesit dengan didasarkan penyebaran topografi. Pada satuan ini hadir tipe dari endapan porpiri sistem yang ditandai dengan veinlet dan stocwork yang sebagai data awal akan adanya Cu - Au porpiri
Daerah Elang terdapat beberapa intrusi yang mempunyai komposisi dari intrusi diorit hingga dacite dimana dengan tekstur equigranular hingga porpiritik dan ukuran dari intrusi berupa dike hingga stock. Pengamatan terhadap intrusi mempunyai kandungan felsfar porpiritik, delta tonalite, Echo tonalite, diorite, hornblende diorite, kuarsa diorite, dan dacite porpiri. Dike tonalite diinterpretasikan sebagai batuan sumber dari terjadinya alterasi Cu – Au porpiri..
Intrusi tonalit diidentifikasi dipermukaan dengan pemboran dan dengan hasil sebagai fase charli tonalite dan delta tonalite diyakini sebagi batuan host rock dengan Cu porphiri. Secara deskriptip intrusi tonalite mempunyai kandungan 30 – 40 % feldspar (diameter 3 – 7 mm) 5% kuarsa (1-3mm) fenokris ini melingkupi dari massa batuan. Charli tonalite diamati dengan hasil pemboran dan terbentuk Cu - Au porphiri dengan high grade.
III.2. STRUKTUR GEOLOGI DAERAH ELANG
Daerah Elang diinterpretasikan terdapat adanya kelurusan sesar yang ditandai dengan adanya pensejajaran mineralisasi dengan arah barat laut yang berhubungan dengan arah gaya ekstensi dari kekar – kekar, struktur didaerah Elang terbentuk setelah terjadinya proses mineralisasi.
Sistem porphiri awal yang terbentuk di daerah Elang dipengaruhi dari bentuk radial dari karakteristik sistem urat porphiri, dan pola lemah dari sistem urat porphiri yang terlihat adanya kelurusan dari urat dengan arah NNE dan NNW didaerah Elang dan urat - urat porphiri yang terbentuk dipengaruhi oleh sistem intrusi complek
IV. ALTERASI HIDROTERMAL DAN MINERALISASI
IV.1. Alterasi
Altersi hidrotermal didaerah Elang dibagi menjadi beberapa kelompok alterasi dan dibagi dalam Fase awal, transisi, dan akhir
1. Fase Alterasi Awal
Terbentuknya altersi actinolit – biotit - magnetit kemudian dioverprinting oleh retrograde klorit - magnetit dan membentuk kelompok altersi klorit – actinolit – biotit – magnetit + oligoklas. Alterasi pada fase awal terekspose pada lokasi yang kecil dan alterasi ini berasosiasi dengan urat – urat porphiri tipe “A”,“B”,“A” famili ( Gustafson and Hunt, 1975). Pada pase ini didiminasi dengan mineral kalkopirit .
2. Fase Alterasi Transisi
Alterasi transisi ini menghasilkan wilayah yang luas yang ditandai oleh mineral klorit – sericit – magnetit + lempung , dimana alterasi terbentuk dengan meng overprinting fase awal. Alterasi transisi ini merupakan bentuk terluar yang luas dan berasosiasi dengan klorit – actinolit – biotit – magnetit Karakteristik dari alterasi transisi ditandai dengan hadirnya mineral klorit, serisit hijau, dan magnetic, Untuk kelompok mineral serisit – lempung – klorit – magnetic + lempung berasosiasi dengan intrusi echo tonalit dan system urat “B” (Silitoe and Gappe, 1984).
3. Fase Alterasi Akhir
Fase ini mempunyai zona yang luas yang meliputi tipe alterasinya adalah advantage argilik dan argilik, zona argilik (serisit, illite, kaolinit) meliputi zona yang luas kurang lebih 5 km kearah NNE. Dan untuk zona alterasi advantage argilik (pyropilitik, diklite, kaolinit, alunit) terbentuk pada topografi yang tinggi dan zona ini akan berasosiasi dengan sistem endapan epitermal dan sistem diaterm breksi.
IV. 2. MINERALISASI
Tipe mineralisasi pada daerah porphiri Elang bersasosiasi dengan intrusi porphiri kecil yang mempunyai luas wilayah 1.5 – 2 km. berdasarkan hasil dari analisa geokimia soil dan batuan mineralisasi tembaga dan emas berhubungan langsung dengan kuarsa , urat – urat sulfida dan perkembangan alterasi batuan dinding pada intrusi tonalit..
Mineralisasi hipogen tembaga ditandai dengan 0,3% Cu pada zona lubang bor yang hasil pengukuran dengan luas 1,5 – 0,8 km, mineralisasi utama didominasi oleh mineral kalkopirit dan sedikit bornit dan digenit yang terkonsentrasi pada intrusi tonalit. Kandungan tembaga menengah (>0,5%) berkembang pada zona disekeliling delta tonalit dan kontak dengan zona intrusi breksi. Kandungan tembaga menengah hingga tinggi dan terkonsentrasi pada batuan andesit volkanik sebagai batuan dinding dan disekitar tubuh intrusi dan bersasosiasi dengan urat – urat stockworks.
Pengkayaan supergen Cu berkembang dibawah alterasi advantage argilik terutama pada bagian barat dan selatan dari sistem porphiri Elang, dengan ketebalan 91, 80 m dan kandungan rata – rata 0,69% Cu.
V. KESIMPULAN
1. Daerah Elang porpiri Cu – Au prospek mempunyai kelurusan zona minerlisasi dengan arah NNE dengan perbedaan tingkat yang terlihat
2. Intrusi tonalit dipermukaan diidentifikasikan dengan lubang pemboran dan dibagi menjadi charli, delta, dan echo tonalit, pada charrli dan delta tonalit merupakan zona intrusi tempat terjadinya mineralisasi Cu – Au
3. Alterasi hidrotermal terpusat pada intrusi tonalit yang mempunyai luas 5 km dengan dibagi menjadi fase awal dengan terbentuknya altersi actinolit – biotit - magnetit kemudian dioverprinting oleh retrograde klorit - magnetit dan membentuk kelompok altersi klorit – actinolit – biotit – magnetit + oligoklas. Altersi pada pase awal terekspose lokasi yang kecil dan altersi ini berasosiasi dengan urat – urat porpiri tipe “A”,“B”,“A” famili ( Gustafson and Hunt, 1975). Pada pase ini didiminasi dengan mineral kalkopirit
4. Alterasi transisi ini menghasilkan wilayah yang luas yang ditandai oleh mineral klorit – sericit – magnetit + lempung , dimana alterasi terbentuk dengan meng overprinting fase awal. Alterasi transisi ini merupakan bentuk terluar yang luas dan berasosiasi dengan klorit – actinolit – biotit – magnetit alterasi awal. Karakteristik dari alterasi transisi ditandai dengan hadirnya mineral klorit, serisit hijau, dan magnetic,
5. Fase akhir mempunyai zona yang luas yang meliputi tipe alterasinya adalah advantage argilik dan argilik, zona argilik (serisit, illite, kaolinit) meliputi zona yang luas
6. Tipe mineralisasi pada daerah porpiri Elang bersasosiasi dengan intrusi porpiri kecil yang mempunyai luas wilayah 1.5 – 2 km. berdasarkan hasil dari analisa geokimia soil dan batuan mineralisasi tembaga dan emas berhubungan langsung dengan kuarsa – urat – urat sulfide dan dan perkembangan alterasi batuan dinding pada intrusi tonalit..





Friday, February 14, 2014

LIPATAN



I. Definisi
Lipatan adalah bentuk lengkung suatu benda yang pipih/lempeng, dapat disebabkan oleh 2 macam mekanisme, yaitu buckling (melipat) dan bending (melengkung), (Sukendar Asikin, 1978).

Pada gejala buckling atau melipat, gaya penyebab adalah gaya tekan yang arahnya sejajar dengan permukaan lempeng, sedang pada bending atau pelengkungan gaya utamanya mempunyai arah yang tegak lurus pada permukaan lempeng.

Gaya perlipatan pada umumnya terjadi pada lapisan batuan sedimen. Sebelum suatu urutan batuan sedimen mengalami perlipatan, batuan tersebut diendapkan dalam keadaan yang mendatar. Tetapi ada kalanya juga sudah mempunyai timbulan-timbulan, hal ini disebabkan oleh keadaan cekungannya yang sifat permukaannya tidak rata. Kemudian sejak saat pengendapannya, lapisan-lapisan sedimen tersebut telah pula mengalami tekanan-tekanan atau tarikan-tarikan oleh gaya-gaya berasal dari dalam. Kebanyakan berupa gaya tekan atau shearing. Dengan perkataan lain sedimen tersebut secara terus menerus mengalami perubahan-perubahan sepanjang sejarah pembentukkannya, dan mengakibatkan terjadinya lipatan-lipatan berukuran besar ataupun kecil.

Lipatan yang berukuran besar dapat mencapai berkilo-kilo meter untuk melaluinya, sedangkan yang berukuran kecil hanya beberapa meter sampai sentimeter.


II. Geometri Lipatan


• Lipatan merupakan struktur seperti gelombang yang terhasil akibat canggaan perlapisan, foliasi dan permukaan planar yang lain pada skala yang berbagai.
• Lipatan terbentuk di persekitaran canggaan yang berbagai, daripada permukaan kerak bumi yang rapuh hingga ke bahagian dalam bumi yang mulur.
• Lipatan boleh berbentuk secara terbuka dan landai hingga ke sangat ketat dan berlaku secara berasingan atau berkumpulan.
• Batuan mungkin mengalami satu episod perlipatan atau lebih, sehingga menyebabkan pertindihan beberapa generasi lipatan.
• Semasa mengkaji lipatan, ada tiga skala digunakan untuk memudahkan penerangan, iaitu struktur mikroskopik (dilihat di bawah mikroskop), mesoskopik (saiz daripada sampel tangan hingga singkapan) dan makroskopik (saiz peta atau lebih besar).
• Kebanyakan kajian geometri lipatan melibatkan pengukuran pada skala mesoskopik, dan skala yang lain menguatkan lagi cerapan kita. Biasanya struktur berskala kecil akan menyerupai struktur berskala besar dan sebaliknya.


III. Anatomi Lipatan Ringkas

- Anticline (antiform), adalah unsur struktur lipatan dengan bentuk yang konveks ke atas.
- Syncline (sinform) adalah lipatan yang concave ke atas.
- Limb (sayap) adalah bagian dari lipatan yang terletak down dip dimulai dari lengkungan maksimum suatu antiklin atau updip bila dari lengkungan maksimum suatu syncline.
- Backline adalah sayap yang landai.
- Fore limb adalah sayap yang curam pada bentuk lipatan yang tidak simetris.
- Axial line (garis poros), garis khayal yang menghubungkan titik-titik dari lengkungan maksimum pada setiap permukaan lapisan dari suatu struktur.
- Axial suface, permukaan khayal dimana terdapat semua axial line dari suatu lipatan.
Pada beberapa lipatan permukaan ini dapar merupakan suatu bidang planar, dan dinamakan axial plane.
- Crestal line (garis puncak), suatu garis khayal yang menghubungkan titik-titik tertinggi pada setiap permukaan lapisan dari suatu antiklin.

IV. Jenis Lipatan

Pengelompokkan lipatan secara morfologis
Didasarkan atas :
1. Perubahan bentuk daripada lipatan pada kedalaman.
2. Susunan atau pola daripada struktur lipatan, dilihat dalam penampang denah.

Jenis-jenis lipatan tersebut adalah :
- Concentric fold (lipatan konsentris/lipatan paralel) adalah sebutan untuk perlapisan dimana jarak-jarak (tebal) tiap lapisan yang terlipat tetap sama.
- Similar fold adalah sebutan untuk perlipatan dimana lapisan-lapisan yang terlipat/dilipat dengan bentuk-bentuk yang sama sampai ke dalam. Antiklin maupun sinklin ukurannya tidak banyak berubah ke dalam maupun ke atas.


V. Klasifikasi Lipatan


Ada beberapa pengelasan yang digunakan oleh pengkaji tertentu dengan penekanan yang berbeda. Ada yang berdasarkan kepada bentuknya dan ada berdasarkan kepada mekanisma pembentuknya.

Antara yang lebih terkenal adalah pengelasan John Ramsay, di mana beliau menggunakan isogon sebagai petunjuk secara tidak bias kelas lipatan tertentu.

Isogon adalah garis yang menyambung titik pada sayap lipatan yang mempunyai kemiringan yang sama. Taburan garis isogon ini samada selari, mencapah atau menumpuh menjadi asas pengelasan ini. Mengikut pengelasan Ramsay ada 3 kelas lipatan. Kelas pertama menunjukkan isogon yang menumpuh, sementara kelas 2 dan 3 menunjukkan isogon yang selari dan mencapah, masing-masing.

VI. Mekanisme Lipatan

• Perlipatan dipengaruhi oleh suhu, tekanan, cecair dan sifat badan batuan (komposisi, tekstur dan sifat setiap lapisan).
• Mekanisma perlipatan merangkumi pemampatan atau pemendekkan (buckling), pembengkokkan (bending), aliran fleksur (flexural flow) dan aliran pasif (passive flow). Setiap mekanisma ini disertai oleh gelincir fleksur (flexural slip).
• Untuk lapisan mengekalkan ketebalannya semasa ia dilipat, gelincir fleksur berlaku sepanjang sempadan perlapisan. Kesan gelinciran ini diperhatikan daripada kehadiran kesan gores-garis (slickenside) pada permukaan lapisan.
• Mekanisma pembengkokkan melibatkan arah canggaan yang tegak dengan sesuatu lapisan dan biasanya menghasilkan lipatan yang terbuka, seperti kubah, lembangan dan gerbang.
• Pembengkokkan boleh berlaku bila ada objek tertentu (seperti intrusi batuan igneus, struktur dupleks) berada di bawah sesuatu lapisan.
• Pemampatan/Pemendekkan (buckling) melibatkan arah canggaan yang selari dengan perlapisan. Pada suhu yang rendah, buckling disertai oleh gelincir fleksur.
• Sebelum buckling berlaku lapisan biasanya dipendekkan secara mendatar dan ditebalkan secara menegak dengan lapisan.
• Variasi daripada buckling adalah kinking. Kinking ini biasanya berasosiasi dengan batuan skis dan membentuk lipatan chevron. Ia terhasil akibat daripada proses gelincir fleksur yang terkekang.
• Mekanisma aliran fleksur (flexural flow) berlaku bila sebahagian lapisan bersifat mulur dan sebahagian bersifat rapuh. Lapisan yang bersifat rapuh mempengaruhi bentuk lipatan yang terhasil.
• Mekanisma aliran pasif (passive flow) melibatkan aliran mulur pada keseluruhan batuan. Perlapisan, foliasi atau jalur hanya menjadi lapisan petunjuk. Aliran pasif ini hanya berlaku pada batuan di mana tidak ada perbezaan kemuluran antara lapisan dan menghasilkan lipatan serupa.
• Kombinasi antara beberapa mekanisma di atas sering berlaku atau bersaingan pada persekitaran tekanan dan suhu yang berbagai.
• Dekat permukaan bumi, gelincir fleksur dan buckling biasa berlaku. Bila lipatan menjadi lebih ketat, geseran antara lapisan meningkat dan gelinciran sukar berlaku. Pada peringkat ini mekanisma yang menghasilkan ira mengambilalih untuk proses canggaan seterusnya.

VII. Lipatan Kompleks

• Lipatan kompleks berlaku apabila satu set lipatan ditindih oleh satu atau lebih set lipatan baru, samada akibat arah daya yang sama atau berlainan.
• Bentuk lipatan bertindih ini adalah berkaitan dengan orientasi kedua-dua set lipatan itu dan juga sifat fizikal batuan yang tercangga.
• Dua episod perlipatan boleh dipisahkan oleh masa beberapa saat sahaja atau berjuta tahun, atau berlaku secara berterusan.
• Batuan bersifat mulur membolehkan lipatan kompleks terhasil. Keadaan ini biasanya terdapat di kawasan teras pergunungan, di kawasan zon subduksi dan kawasan sesar transform di mana mampatan, metamorfisma dan ricihan berterusan berlaku.
• Secara amnya ada tiga jenis lipatan bertindih.

1. Struktur Kotak Telur atau Corak Kubah dan Lembangan.
Ia berlaku bila dua set lipatan tegak bertemu atau berinteraksi pada sudut besar.

2. Corak Boomerang
Ia berlaku bila lipatan yang dengan paksi permukaan miring (e.g. lipatan isoklinal) dan lipatan dengan paksi permukaan tegak (e.g. lipatan tegak) bertemu/berinteraksi pada sudut yang besar.

3. Corak Hook
Ia berlaku bila lipatan isoklinal yang ketat dilipat semula pada paksi yang sama, pada berbagai skala.
• Kombinasi ketiga-tiga jenis di atas juga boleh berlaku. Satu jenis boleh bertukar secara beransur-ansur ke jenis yang lain.
• Lipatan yang bertindih ini penting untuk menentukan sejarah canggaan sesuatu kawasan.
• Kita boleh mengenalpasti pertindihan lipatan ini bila kita membuat permerhatian dan pemetaan struktur secara terperinci sesuatu kawasan.
• Biasanya, satu kawasan yang telah mengalami dua arah perlipatan menunjukkan perubahan arah jurus dan miringan yang agak mendadak tetapi sistematik.




Pendahuluan Pemetaan Geologi Struktur



Pemetaan geologi struktur bertujuan untuk mendapatkan gambaran struktur/tektonik di suatu daerah/wilayah, sehingga penyebaran, jenis serta genetik pembentukannya dapat diketahui.

Dalam pemetaan geologi struktur, kegiatan yang perlu dilakukan adalah mengamati, mengukur dan menganalisis gejala-gejala struktur yang tersingkap di lapangan.
Gejala struktur di lapangan dapat berupa struktur bidang maupun garis (bidang sesar, bidang kekar, gores-garis, bidang lapisan, gores-garis, cleavage, dsb) dan dapat pula merupakan jejak-jejak struktural lainnya (breksi sesar, milonit dsb). Disamping adanya bentuk geometri, juga dikenal adanya bentuk morfologis topografi misalnya kelurusan topografi, kelurusan dan kelokan sungai, bergesernya punggungan bukit dsb.

Pengetahuan geologi struktur wajib dipahami oleh seseorang yang akan melakukan pemetaan geologi, terlebih lagi bagi yang khusus meneliti tektonik suatu daerah. Kualitas hasil penelitian geologi struktur salah satunya tergantung pada tingkat kemampuan seseorang dalam menguasai ilmu geologi struktur.

Untuk mendapatkan hasil penelitian yang maksimal dari kegiatan pemetaan struktur ini, dilakukan beberapa tahapan, yaitu :

a. Pendahuluan :
- Studi Pustaka
- Interpretasi foto udara, citra landsat (citra indraja) dan topografi.

b. Penelitian Lapangan
- Pengamatan, pengukuran, pencatatan data, pembuatan sketsa, analisis sementara dan plotting data struktur ke dalam peta dasar.

c. Penelitian Laboratorium/studio
- Pengolahan data
- Pembuatan penampang struktur dan peta struktur

d. Analisis data secara menyeluruh
- Melakukan analisis tektonik daerah penelitian yang bersesuaian dengan konsep/teori struktur geologi dan membandingkannya dengan tektonik regional yang berkaitan dengan daerah penelitian.

e. Laporan hasil penelitian
- Seluruh hasil analisis tersebut dituangkan ke dalam buku laporan yang didalamnya disertai peta struktur beserta penampang strukturnya.

Wednesday, February 12, 2014

LAUT

beberapa artikel tentang laut, semoga bermanfaat....

Laut adalah kumpulan air asin yang luas dan berhubungan dengan samudra. Laut adalah kumpulan air asin yang sangat banyak dan luas di permukaan bumi yang memisahkan atau menghubungkan suatu benua dengan benua lainnya dan suatu pulau dengan pulau lainnya.
Air laut merupakan campuran dari 96,5% air murni dan 3,5% material lainnya seperti garam-garaman, gas-gas terlarut, bahan-bahan organik dan partikel-partikel tak terlarut. Sifat-sifat fisis utama air laut ditentukan oleh 96,5% air murni.
Laut, menurut sejarahnya, terbentuk 4,4 milyar tahun yang lalu, dimana awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100 °C) karena panasnya Bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer Bumi dipenuhi oleh karbon dioksida. Keasaman air inilah yang menyebabkan tingginya pelapukan dan menyebabkan laut menjadi asin seperti sekarang ini. Pada saat itu, gelombang tsunami sering terjadi karena seringnya asteroid menghantam Bumi. Pasang surut laut yang terjadi pada saat itu juga bertipe mamut atau tinggi/besar sekali tingginya karena jarak Bulan yang begitu dekat dengan Bumi
Menurut para ahli, awal mula Thorik terdiri dari berbagai versi; salah satu versi yang cukup terkenal adalah bahwa pada saat itu Bumi mulai mendingin akibat mulai berkurangnya aktivitas vulkanik, disamping itu atmosfer pada saat itu tertutup oleh debu-debu vulkanik yang mengakibatkan terhalangnya sinar Matahari untuk masuk ke Bumi. Akibatnya, uap Lahar di atmosfer mulai terkondensasi dan terbentuklah hujan. Hujan inilah (yang mungkin berupa hujan tipe mamut juga) yang mengisi cekungan-cekungan di Bumi hingga terbentuklah Laut.
Secara perlahan-lahan, jumlah karbon dioksida yang ada diatmosfer mulai berkurang akibat terlarut dalam air laut dan bereaksi dengan ion karbonat membentuk kalsium karbonat. Akibatnya, langit mulai menjadi cerah sehingga sinar Matahari dapat kembali masuk menyinari Bumi dan mengakibatkan terjadinya proses penguapan sehingga volume air laut di Bumi juga mengalami pengurangan dan bagian-bagian di Bumi yang awalnya terendam air mulai kering. Proses pelapukan batuan terus berlanjut akibat hujan yang terjadi dan terbawa ke lautan, menyebabkan air laut menjadi semakin asin.
Pada 3,8 milyar tahun yang lalu, planet Bumi mulai terlihat biru karena laut yang sudah terbentuk tersebut. Suhu bumi semakin mendingin karena air di laut berperan dalam menyerap energi panas yang ada, namun pada saat itu diperkirakan belum ada bentuk kehidupan di bumi.
Kehidupan di Bumi, menurut para ahli, berawal dari lautan (life begin in the ocean). Namun demikian teori ini masih merupakan perdebatan hingga saat ini.
Pada hasil penemuan geologis pada tahun 1971 pada bebatuan di Afrika Selatan (yang diperkirakan berusia 3,2 s.d. 4 milyar tahun) menunjukkan adanya fosil seukuran beras dari bakteri primitif yang diperkirakan hidup di dalam lumpur mendidih di dasar laut. Hal ini mungkin menjawab pertanyaan tentang saat-saat awal kehidupan dan di bagian lautan yang mana terjadi awal kehidupan tersebut. Sedangkan kelautan itu sendiri adalah ilmu yang mempelajari berbagai biota atau makhluk hidup di laut yang perlu dimanfaatkan melalui usaha perikanan dan kelautan.
Penjelajahan terhadap lautan telah dilakukan sejak 800 M oleh bangsa Viking. Awalnya penjelajahan berfokus pada pencarian Emas, Perak, perhiasan, dan besi. Mereka berlayar ke Prancis, Inggris, dan Laut Tengah. Kemudian pada abad ke-7, penjelajahan dilanjutkan Bangsa Arab. Bangsa arab berlayar hingga Asia Tenggara, dengan penjelajahnya yang paling terkenal adalah Ibnu Batuta. Bangsa Arab menemukan cara untuk menentukan arah dengan panduan rasi bintang, serta mempelajari angin muson. Barulah pada abad ke-15, setelah Konstatinopel jatuh ke tangan Turki, Kerajaan-kerajaan Eropa melakukan penjelajahan laut ke seluruh dunia, terutama terkait dengan misi pencarian rempah-rempah dan mencari tanah jajahan yang baru. Di saat inilah pemetaan mengenai laut berkembang pesat.
Eksplorasi dunia bawah laut dimulai dengan Lonceng Selam Halley pada tahun 1717. Kemudian penemuan kapal selam dan sonar menandai awal permulaan penelajahan bawah laut . Hingga kini penelitian untuk laut dalam masih sulit dilakukan mengingat adanya tekanan air yang sangat besar dan kehidupan yang belum diketahui


Sebenarnya, semua air yang bersumber dari bumi ini asin, namun kadarnya berbeda-beda. Air yang kita minum juga mengandung garam tapi sangat sedikit sekali sehingga tak terasa oleh lidah kita. Kalau air laut kadar garamnya sangat tinggi, gak percaya? coba aja sendiri . Kok Bisa Asin? Sebenarnya rasa asin di air laut itu berasal dari daratan, skemanya gini : Hujan => Air meresap ke tanah => masuk ke sungai => kembali ke laut Kalo diceritakan gini : Mula-mula saat terjadi hujan, air akan meresap ke tanah, kemudian dari resapan-resapan itu akan masuk ke sungai kemudian ke laut lagi. Nah pada saat perjalanan menuju ke laut tersebut air dari daratan juga membawa garam-garam mineral yang berasal dari sela2 bebatuan di kerak bumi, sehinga laut dipenuhi garam-garam mineral. Kita mengetahui laut mempunyai permukaan yang sangat luas sehingga hal ini menjadi salah satu faktor penguapan yang cukup besar. Pada saat air laut menguap dan menjadi awan kemudian hujan, yang menguap hanyalah H2O (air ) sedang garam- garam mineral tetap tinggal bersama air laut. Begitulah sehinggga air laut rasanya asin. Kadar keasinan air laut ini dipengaruhi oleh faktor suhu, biasanya semakin panas daerah tersebut air lautnya semakin asin. Di seluruh pelosok dunia, sungai mengirim sekitar 40 milyar ton garam ke laut setiap tahunnya. Asin Menurut Sejarah? Menurut sejarah terbentuknya air laut 4,4 milyar tahun yang lalu (usia air laut), air laut awalnya bersifat sangat asam dengan air yang mendidih (dengan suhu sekitar 100 °C) karena panasnya bumi pada saat itu. Asamnya air laut terjadi karena saat itu atmosfer Bumi dipenuhi oleh karbon dioksida (CO2). Keasaman air inilah yang menyebabkan tingginya pelapukan yang terjadi yang menghasilkan garam-garaman yang menyebabkan air laut menjadi asin seperti sekarang ini. Kenapa Air Danau Tidak Asin? Padahal Airnya Juga Dari Daratan ? Permukaan air danau tidak cukup luas, sehinggga penguapannya tidak begitu besar, maksudnya air yang menguap dengan air yang masuk ke danau masih seimbang dan sumber mineralnya sangat terbatas beda dengan laut yang sumber mineralnya dari berbagai penjuru dunia menjadi satu. Kadar Keasinan Air Laut Diperkirakan kadar garam laut di Bumi kita ini sekitar 5 x 10 pangkat 16 ton garam. Sebagai perbandingan Jika garam itu disebarkan di permukaan daratan di dunia ini tebalnya kira-kira 40 gedung bertingkat. Atau sekitar 1,02338 gram per kubik. Keasinan air laut lebih asin 220 kali daripada air-air di tempat lain. Kadar garam (salinitas) bervariasi pada setiap lautan. Rata-rata salinitas Samudera sekitar 3,5%,artinya : Dalam 1 liter (1000 mL) air laut terdapat 35 gram garam (terutama, namun tidak seluruhnya garam dapur/NaCl). Salinitas laut tertinggi terdapat di Laut Merah, sedangkan yang paling tawar adalah di timur Teluk Finlandia dan di utara Teluk Bothnia, keduanya bagian dari Laut Baltik.


Air laut memiliki kadar garam karena bumi dipenuhi dengan garam mineral yang terdapat di dalam batu-batuan dan tanah. Contohnya natrium, kalium, kalsium, dll. Apabila air sungai mengalir ke lautan, air tersebut membawa garam. Pada saat terjadi hujan di daratan, air akan meresap dalam tanah dan sedikit demi sedikit akan keluar lagi melalui sungai-sungai dam akhirnya mencapai laut. Nah pada saat perjalanan menuju ke laut tersebut air dari daratan juga membawa garam-garam mineral sehinga laut dipenuhi garam-garam mineral. Kita mengetahui laut mempunyai permukaan yang sangat luas sehingga hal ini menjadi salah satu faktor penguapan yang cukup besar , pada saat air laut menguap yang menguap hanyalah H2O (air ) sedang garam garam mineral tetap tinggal bersama air laut , begitulah sehinggga air laut rasanya asin. Kadar keasinan air laut ini dipengaruhi oleh faktor suhu, biasanya semakin panas daerah tersebut air lautnya semakin asin.



Ada Dua proses optik utama pada air laut, dan zat terlarut atau tersuspensi dalam air laut, saat berinteraksi dengan cahaya yang masuk dari matahari. Dua proses ini adalah penyerapan (absorption) dan hamburan (scattering). Di atmosfer, alasan utama bahwa langit berwarna biru adalah disebabkan oleh hamburan cahaya Dilaut, cara utama air berinteraksi adalah dengan penyerapan cahaya, Air menyerap cahaya merah, dan pada tingkat lebih rendah, air juga menyerap cahaya merah, dan pada tingkat lebih remdah, air juga menyerap cahaya kuning dan hijau, menyebabkan warnanya bisa berubah ubah tergantung kedalaman dan tempatnya. Warna biru merupakan warna yang paling di serap oleh air, sehingga air nampak berwarna biru. Singkatnya, semakin dalam kedalaman laut, semakin ia berwarna kebiruan.
Diagram di atas menujukkan kedalaman cahaya yang akan menembus di air laut. Karena cahaya merah di serap kuat, menjadikannya hilang, dan cahaya biru terus menembus masuk kedalam. Dari diagram tersebut juga menjadi alasan kenapa air di dalam bak mandi berwarna putih, di karenakan semua cahaya masih di terserap oleh air sehingga membuat warnanya nampak putih. Sementara saat matahari mulai terbenam dan terbit, air laut akan kelihatan merah di permukaanya dikarenakan penyerapan cahaya tersebut.
Warna yang berbeda pada laut, sungai dan danau juga di sebabkan oleh tanaman yang hidup di dasarnya seperti alga yang terdapat pada laut merah, dan endapan yang tercwa di dalam air. seperti warna coklat yang merupakan endapan yang terbwa dari sungai, sehingga membuat warnanya nampak keruh.
Air laut adalah air dari laut atau samudera. air laut memiliki kadar garam rata - rata 3.5%. Artinya dalam 2,5 liter (2500 ml) air laut terdapat 60 gram garam (terutama, namun tidak seluruhnya, garam dapur/NaCI).
Walaupun kebanyakan air laut di dunia memiliki kadar garam sekitar 3,5%, air laut juga berbeda-beda kandungan garamnya. Yang paling tawar adalah di timur teluk finlandia dan di utara Teluk Bothnia, keduanya bagian dari Laut Baltik. Yang paling asin adalah Laut Merah, dimana suhu tinggi dan sirkulasi terbatas membuat penguapan tinggi dan sedikit masukan air dari sungai-sungai. kadar garam di beberapa danau dapat lebih tinggi lagi.
Air laut memiliki kadar garam karena bumi dipenuhi dengan garam mineral yang terdapat dalam batu-batuan dan tanah. Contohnya natrium, kalium, kasium, dll. Apabila air sungai mengalir ke lautan, air tesebut membawa garam. Ombak laut yang memukul pantai juga dapat menghasilkan garam yang terdapat pada batu - batuan. Lama-kelamaan air laut menjadi asin karena banyak mengandung garam.